Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 140280 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1999
S4081
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ingrid Irawati Atmosukarto
"Penelitian ini dimaksudkan membandingkan efek-efek kognitif, afektif dan konatif akibat terpaan media massa dan sosialisasi menggunakan teori dependensi Ball-Rokeach dan DeFLeur. Menurut pandangan kedua peneliti tersebut, warga dan media massa menjadi dua komponen suatu sistem kemasyarakatan yang saling terkait. Karena itulah peneliti tertarik untuk memisahkan efek-efek tersebut antara yang diakibatkan media massa dan sosialisasi serta membandingkannya. Oleh sebab itu konsep-konsep yang digunakan adalah efek media massa yang dibagi dalam tiga dimensi yakni kognitif, afektif dan konatif, terpaan media massa, ketergantungan pada media massa serta sosialisasi di rumah, di lingkungan teman-teman (peer group) serta di lingkungan kantor. Konsep-konsep ini dibumikan menjadi tingkat kejelasan informasi, pembentukan sikap, klarifikasi nilai yang dianut sebagai dimensi kognitifnya; tingkat kepekaan sosial, tingkat ketakutan terhadap lingkungan serta tingkat alienasi dan kebersamaan; sedangkan dimensi konatif ditunjukkan dengan ada tidaknya perilaku atau kebiasaan yang baru muncul atau kebiasaan yang lama ditinggalkan baik akibat terpaan media massa maupun akibat sosialisasi. Sedangkan tingkat dependensi atau ketergantungannya diperlihatkan oleh angka kebutuhan khayalak akan informasi tersebut. Adalah menarik bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata tingkat ketergantungan responden memang tinggi dan media massa memang menjadi suatu kebutuhan sehari-hari. Namun media massa hanyalah digunakan sebagai penambah keterangan/kejelasan akan suatu topik atau menjelaskan suatu situasi, Jadi efek media massa terbesar hanyalah di tingkat kognitif, sedangkan di tingkat afektif dan konatif adalah sosialisasi yang paling berperan, merata antara sosialisasi di rumah, di lingkungan teman-teman dan di lingkungan kantor."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1999
S4147
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sugihandari
"ABSTRAK
Tesis ini menguji teori ketergantungan pada sistem media media system dependency/MSD theory yang awalnya dikembangkan oleh Ball-Rokeach dan DeFleur 1976 . Teori MSD menekankan relasi antara sistem media, khalayak, dan sistem sosial sebagai penentu efek media pada khalayaknya. Konflik sosial yang terjadi pascapilkada Jakarta 2017 menjadi konteks masalah penelitian ini. Kelompok mahasiswa dipilih sebagai sampel penelitian kuantitatif ini. Menggunakan uji statistik regresi linear berganda, data primer yang dikumpulkan dari 240 responden diolah berdasarkan kategori tujuh tipe media, yaitu koran, televisi, situs berita online, Twitter, Facebook, YouTube, dan WhatsApp Group. Hasil penelitian menyimpulkan variabel ketergantungan pada media secara konsisten di semua media kuat dipengaruhi oleh variabel kepercayaan pada media. Variabel bebas lainnya, yaitu penggunaan media, dan usia terbukti berpengaruh dengan variasi tergantung tipe media. Sementara itu, variabel ancaman perpecahan yang dirasakan terbukti tidak bisa menjadi prediktor dalam semua tipe media. Penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian-penelitian berikutnya dengan koreksi model dan memperluas kategori responden.

ABSTRACT
The focus of this study is theoritical testing of media system dependency MSD theory who was introduced by Ball Rokeach and DeFleur 1976 . This theory emphasize on the relation of media system, audience, and society as a determinant for media effect on the audience. The context issue of this research is social conflict as a result of Jakarta election 2017. A group consist of 240 college student were selected as a sampling. This quantitative research use multiple linear regression for measuring the influence of media use, media trust, perceived threat, and age on the media dependency. Newspaper, television, online news site, Twitter, Facebook, YouTube, and WhatsApp Group were tested to reveal the differrence of findings in each media type. The conclusion tells that media dependency variable is influenced significantly by media trust variable. Except perceived threat that is not proved as the predictor, other variables are influencing media dependency with some variations depend on media type. Next studies will be needed to evaluate more the MSD theory with some correction on the theoritical design and broaden the sampling"
2017
T49167
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
S6906
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1996
S6899
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
JVS Tondowidjojo
Yogyakarta: Kanisius, 1985
302.23 TON m
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Rivers, William L.
Jakarta: Prenada Media , 2003
302.23 RIV m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Media massa merupakan sarana penyampaian suara individu. Kebebasan media adalah perpanjangan dari kebebasan berbicara. Pers yang paling baik adalah pers yang institusinya bersifat publik, bukan swasta. Pertanyaan yang muncul adalah siapa yang mengontrol dan siapa yang bertanggungjawab. Tulisan ini akan membahas tentang keterkaitan antara teknologi dan kebijakan privatisasi menciptakan konglomerat komunikasi massa. Pembahasan dalam tulisan ini mencakup keragaman konglomerat, dimensi privatisasi, yang mencakup denasionalisasi, liberalisasi, komersialisasi sektor publik, dan deregulasi peraturan publik. Tulisan ini diperkaya dengan contoh kecenderungan praktik media massa di Indonesia yang cenderung ologarkis bahkan konglomerasi."
384 KOMAS 10:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Komunikasi massa merupakan salah satu dari lima konteks komunikasi yang ada. Pada proses komunikasi itu, persyaratan adanya media sebagai alat yang menghubungkan komunikator dengan massa harus terpenuhi. Pada tatanan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka Komunikasi Massa, sebagaimana yang dikatakan para ahli memiliki lima fungsi yakni : yaitu surveillance, correlation, cultural transmission, entertainmen, dan mobilization. Berdasarkan kelima fungsi itu, tampak bahwa segala informasi yang dikelola bidang redaksi, dalam kenyataan kualifIkasinya menjadi bervariasi. Hal mana ditentukan berdasarkan fungsi yang diperankan oleh organisasi redaksi media massa. Namun demikian, apapun peran yang dimainkan oleh suatu media terkait dengan fungsinya tersebut, semua itu berhubungan dengan perihal penyebaran informasi kepada khalayak luas. Dalam kaitannya dengan masalah penyebaran informasi melalui media itu, ternyata pada praktiknya kerap menemui hambatan-hambatan, terutama di negara-negara berkembang atau dalam sistem kekuasaan otoriter. Hambatan mana pada umumnya menyangkut pada maksimalisasi fungsi surveilence atau cultural transmission. Sedangkan pada upaya pengembangan media, setidaknya terdapat empat hambatan, yakni : hambatan fisik, sosial/psikologis, politiklhukum, dan hambatan ekonomi."
384 KOMAS 10:2 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Yayan Sakti Suryandaru
"Berdasarkan data dari Jaringan Radio Komunitas (JRK), tercatat di Indonesia terdapat 50 radio komunitas dan 13 televisi komunitas (Kompas, 13 Mei 2002). Kondisi ini menunjukkan adanya perkembangan karakteristik serta kualitas komunikasi massa di Tanah Air yang saat ini sangat dipengaruhi sekurangnya oleh 2 (dua) faktor. Pertama, dinamika demokratisasi yang melandasi reformasi kehidupan sosial-politik. Dinamika ini meliputi proses-proses penciptaan sebuah masyarakat madani (civil society), penyelenggaraan kebebasan menyatakan pendapat bagi setiap warganegara, dan pelembagaan ruang atau kawasan publik (public spheres) dimana semua komponen publik bisa memperoleh akses ke forum-forum pembentukan pendapat tanpa adanya kekangan dari negara ataupun pasar. Kedua, dinamika liberalisasi atau deregulasi di sektor industri media. Dinamika ini, antara lain, mencakup proses-proses mengkonstruksi struktur pasar serta pengaturan mekanisme pasar di sektor industri media, (a.l., melalui proses penetapan UU No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran, negara telah menetapkan beberapa ketentuan tentang lembaga penyiaran komunitas Penyiaran, dan sebagainya). Akan tetapi dalam konteks ini, sebenarnya wacana regulasi-deregulasi harus ditafsirkan kembali. Deregulasi pada hakikatnya adalah menghapus state regulation untuk digantikan oleh market regulation. Tetapi dari sisi kepentingan publik, maka yang harus menjadi pokok perhatian bukanlah pilihan antara pengaturan oleh negara (state regulation) atau pengaturan oleh pasar (market regulation), tetapi apakah segala pengaturan tersebut mampu memperhatikan kepentingan publik secara optimal.
Kondisi inilah yang mendorong peneliti untuk mengangkat fenomena resistensi komunitas atas hegemoni negara dalam menetapkan regulasi penyiaran dan media massa komersial yang selalu menawarkan false needs (kebutuhan semu) dan hiper-realitas yang terkadang tidak mencerdaskan dan memenuhi kebutuhan riilnya.
Studi ini menggunakan pendekatan ekonomi politik media dengan menggunakan teori hegemoni Gramsci, teori ekonomi politik kritis dari Mosco dan teori Resistensi sebagai kerangka teoretis. Sebagai sebuah studi kualitatif yang berupaya memahami bagaimana para narasumber (pelaku berbagai konteks historical situatedness) membangun proses-proses berpikirnya dan merekonstruksi perspektif-perspektif mereka, maka peneliti berusaha untuk mencoba "menempatkan diri" pada posisi narasumber, untuk mendapatkan sebuah penjelasan yang memiliki otentifikasi dari para nara sumber. Penelitian ini menggunakan metode indepth interview, studi dokemuntasi dan observasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan, dari konteks struktur (kultur), hegemoni budaya asing, konsumerisme, seks vulgar, kekerasan yang selalu diusung oleh media massa komersial dan pengaturan negara atas keberadaan LPK yang dipersepsi sebagai intervesi negara, merupakan stimulan munculnya resistensi komunitas dalam bentuk simbolik-pragrnatis misalnya (1) Beberapa anggota komunitas memberikan persetujuan dan mandatnya kepada para aktivis atau individu yang nentinya menjadi pengelola LPK untuk menyiaikan LPK di wilayahnya (2) Meskipun mengetahui belum ada aturan teknis tentang pengelolaan LPK, para aktivis LPK di Jombang tetap meminta rekomendasi kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas Infokom, agar keberadaannya diketahui dan diakui sebagai media pemberdayaan komunitas. (3)Melakukan loby-loby politik kepada anggota Komisi A DPRD Jombang, agar keberadaan LPK bisa diakui sebagai representasi keinginan komunitas di Jombang akan sebuah media yang bersifat dari, oleh, dan untuk komunitas. (4) Penguatan budaya lokal dengan lebih intensif menyiarkan bentuk-bentuk kesenian daerah (hadrah, samroh, kidungan, ludruk) dan ritual keagamaan - kebudayaan melalui LPK, bisa dikatakan sebagai resistensi simbolik komunitas terhadap hegemoni politik homogenisasi atau komodifikasi yang biasa dijalankan oleh media penyiaran komersial. (5) Penolakan atas RPP LPK versi pemerintah dilakukan dengan membuat RPP LPK versi JRKI. Untuk menghasilkan draft RPP LPK ini, beberapa aktivis LPK Jombang selalu aktif mengikuti berbagai diskusi, seminar, hearing, dan rapat-rapat penyusunan RPP LPK yang diikuti seluruh LPK yang ada di Indonesia. Mayoritas lembaga penyiaran komunitas bukan berasal dari kesadaran atau ikhtiar komunitas, melainkan dari inisiatif-inisiatif individu. Hanya saja resistensi yang muncul ini lebih didasarkan pada interpretasi para agensi yang merupakan pengelola LPK.
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan rekomendasi Pengaturan negara di dalam penyelenggaraan LPK yang dituangkan di dalam RPP LPK sedapat mungkin melibatkan para aktivis dan pengelola LPK. Hal ini dimaksudkan agar demokratisasi informasi dengan menghargai daya kreasi dan kreativitas komunitas melalui LPK bisa diwujudkan. Pemerintah - khususnya pemerintah daerah - seharusnya bisa menggunakan LPK sebagai media diseminasi informasi kebijakan negara. Implementasi program-program pelayanan publik dan masukan dan komunitas terhadap kinerja aparat pemerintahan, dapat digali melalui media penyiaran komunitas. Pengelola LPK hendaknya lebih intensif melakukan proses pemberdayaan dan advokasi pada anggota komunitas yang dilayaninya. Program pelatihan tentang pengelolaan LPK bisa dilakukan dengan lebih kontinyu dan mendorong partisipasi aktif anggota komunitas, agar embrio LPK sebagai media dari, oleh, dan untuk komunitas tetap dapat dipertahankan."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14250
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>