Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 73792 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Wadjiz Anwar
Bandung: Alumni, 1979
100 WAD n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Beerling, R.F.
Djakarta: Balai Pustaka, 1966
190 BEE f
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Bertens, Kees
Bandung: Daras, 2005
190 BER p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Brouwer, Martinus Antonius Wesselinus, 1923-
Bandung: Alumni, 1986
190 BRO s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Beekman, Gerard
Jakarta: Erlangga, 1984
100 BEE f;100 BEE f (2);100 BEE f (2)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Rosihan Fahmi
"Istilah 'Self' dalam filsafat Barat Modern menunjukkan sebagai identitas yang melekat pada diri seseorang. Konsepsi tentang 'Self' berbeda-beda sesuai dengan pendekatan yang digunakan masing-masing filsuf dalam memaknainya. Namun secara umum dapat dikatakan, perdebatan tentang konsepsi 'Self' dalam Filsafat Barat Modern, mengarah kepada autentisitas esensialis dan eksistensialis.
Ketika dikaitkan masalah konsepsi 'Self' dalam filsafat Barat Modern dengan wacana Orientalisme "Timur" dan "Barat" yang dirumuskan oleh Edward W. Said, dalam bukunya Orientalisme, bisa jadi stereotype-stereotype seperti, rasional, beradab, dan dewasa, diciptakan "Barat" tentang keberadaannya atau identitasnya merujuk pada salah satu atau beberapa gagasan konsepsi filosofis tentang 'Self' apakah itu bersifat deteministik, anti-deterministik, atau mungkin pragmatisme. Karena, konsepsi 'Self' dalam filsafat Barat Modern secara umum, memungkinkan adanya pembenaran akan eksploitasi terhadap sesuatu yang berada diluar seperti benda-benda, alam semesta, dan bahkan manusia yang dilainkan sebagai objek.
Konstruksi identitas yang dibangun "Barat" atas "Timur" oleh Edward W. Said, berhasil dikupas menjadi sebuah persoalan yang sebelumnya dianggap tidak ada dan ditiadakan yaitu persoalan kekuasaan imperialistik yang dibingkai oleh corak kebudayaan yang orientalistik. Secara epistemologis, Edward W. Said berhasil membongkar, menyikap, menelanjangi kebusukan kultural yang diklaim secara ilmiah oleh kekuasaan koloni. Sementara itu, ditingkat ontologi Edward W. Said berhasil membongkar, menyibak, dan menelanjangi pula penyebab akhir kekuasaan imperialistik yang dibingkai oleh nilai-nilai kemanusiaan, yaitu sifat-sifat yang secara menyeluruh dan mendasar adalah antikemanusiaan itu sendiri.
Konsepsi 'Self' dan identitas manusia yang selama ini dianggap netral, terjadi dengan sendirinya, dan universal berhadapan dengan fakta yang dikemukakan Said. Maka 'Self', tidak bisa tidak harus dipahami, dalam konsepsi hibriditas dan autentisitas. Kesadaran akan kemungkinan terjadinya fundamentalisme kebudayaan inilah yang menjadikan kritik Said hanya sebagai gerbang bagi peninjauan ulang konsepsi 'Self' bagi manusia. Dalam upaya meredefinisi identitas, aspek autentisitas dan hibriditas menjadi rumusan yang tidak bisa dihindari, baik bagi "Timur" dan "Barat". Namun disisi lain, Said sendiri tidak melakukan perumusan atau menceritakan upaya Timur dalam merumuskan identitasnya. Dengan kata lain, Said seperti menyetujui bahwa Timur memang tak memiliki kemampuan untuk merumuskan atau menceritakan diri selain melalui suara orientalis dan kritikus- orientalis seperti Said."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
T15363
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mayer, Frederick
New York: American Book Company, 1951
190 MAY h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Malden: Blackwell, 2007
190 EAR
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Castell, Alburey
New York: Macmillan, 1959
190 CAS i (1)
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Noory Okthariza
"Teori kekuasaan modern adalah turunan dari filsafat modern. Teori ini melihat kekuasaan terbentuk lewat asumsi-asumsi khas dari liberalisme dan dependensia. Pendekatan seperti ini gagal melihat aspek teknik kekuasaan, relasi, diskursus, ketidaksadaran, dan praktek-praktek lain yang kerap disingkirkan dalam sejarah. Kekuasaan justru terbangun dari sana. Alih-alih melihat kekuasaan yang terbentuk secara prosedural maupun lewat cengkraman hegemoni, skripsi ini berargumen bahwa kekuasaan adalah proses rumit yang terjalin berkelit, memiliki jejaring, saling tumpang-tindih, tetapi terorganisir sedemikian rupa sehingga tidak menganggap penting peran agensi dalam perubahan sosial. Dengan mencermati sejumlah pengalaman kekuasaan Indonesia abad ke-20, skripsi ini berfokus pada kondisi-kondisi apa, kapan, dan bagaimana sebuah kekuasaan beroleh artikulasi, mengapa suatu bentuk kekuasaan terjadi pada waktu tertentu dan tidak di waktu lain, dan faktor-faktor apa saja yang mengundang perlawanan sekaligus menguatkan rezim kekuasaan.

Abstract
Modern Theory of power is derived from modern philosophy. The theory emphasizes power that is formed through both the typical assumptions of liberalism and dependency theory. Such an approach fails to see the importance of technique of power, relation, discourse, unconsciousness, and other practices that are often excluded in history. Power precisely formed from there. Instead of seeing power formed both procedurally and through hegemony, the thesis argued that power is a complicated process tied continuously, by overlapping network, moreover, organized in such a way that does not assume the importance of agency in social change. By examining a number of Indonesian experience in the 20th century, the thesis focuses on the question of when, how, and what kind of conditions if power articulates, why some kind of power occurs at a certain time and not at other, and what are the factors that invite resistance as well as strengthen the regime of power. "
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S316
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>