Hasil Pencarian

Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 135144 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nukman
"ABSTRAK
Batubara semi-antrasit, bituminus dan sub-bituminus dari Tanjung Enim,
Sumatera Selatan, telah diproses dengan metode aglomerasi menggunakan
media campuran air dan minyak goreng sawit atau minyak sawit mentah (CPO).
Kadar karbon masing-masing batubara yang mengalami proses aglomerasi
menurun, tetapi nilai kalorinya meningkat. Minyak goreng sawit sebagai media
aglomerasi dapat meningkatkan nilai kalori batubara semi-antrasit, bituminus
dan sub-bituminus masing-masing sampai 4,5%, 5,6% dan 11,1%. Sedangkan
kadar sulfur dapat diturunkan masing-masing sebesar 13,4% dan 18,75%.
Minyak sawit mentah dapat meningkatkan nilai kalori masing-masing jenis
batubara tersebut sampai 4,2%, 8,3% dan 7,1% relatif terhadap nilai kalori
batubara yang tidak mengalami proses aglomerasi. Pengujian dengan TGA
menunjukkan bahwa terjadi dekomposisi baik untuk batubara yang belum
diproses aglomerasi maupun yang telah mengalami proses aglomerasi. Sawit
mentah telah dapat meningkatkan nilai kalori batubara yang telah diproses
aglomerasi akibat persenyawaan kimia antara sawit mentah dengan batubara..
Sementara SEM memperlihatkan bahwa cairan sawit mentah telah dapat
mengisi celah antara butiran batubara sehingga terjadi ikatan yang baik

Abstract
The semi-anthracite, bituminous and sub-bituminous coals from Tanjung Enim,
South of Sumatera, were processed by using palm oil or crude palm oil (CPO)
as agglomerating oil. As a result, the carbon content decreased, while the
caloritic value increased. By adding palm oil, the calorific values of semi-
anthracite, bituminous and sub-bituminous coal increased up to 4.5, 5.6 and
11.1%. The ash content decreased to 57.28 % and 57.8 % for bituminous and
sub bituminous coals. The sulfur content decreased to 13.4% and 18.75%. On
the other hand, by adding crude palm oil, the crude palm oil, the calorific value
increased up to 4.2%, 8.3% and 7.1% for semi anthracite, bituminous and sub
bituminous coals. Thermogravimetry Analysis (TGA) showed some peaks of
coal decompotition. The CPO has influenced to increase the calorific value of
coals due to the chemical reaction between the CPO and the coals. The SEM
result showed that CPO has filled the space between the grain coal."
Lengkap +
2006
D1221
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Agglomeratian method could be used to decrease the pyritic sulfur content in the coal. Bituminous
coal from Tanjung Enim Sumatera Seiatan with 13.34 % of ash and 1,86 % of sulfur contents as raw
materials, were mired by water and oil in the stainless steel cylinder, then be agitated to produce
agglomerate. By using the palm oil and crude palm oil (CPO) as agglomerating oils, the ash and sulfur
contents decreased to 4. 66 % and 1.42 % respectively.
"
Lengkap +
Jurnal Teknologi, 20 (4) Desember 2006 : 279-286, 2006
JUTE-20-4-Des2006-279
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmad Budi Arman
"Pengecatan untuk perlindungan sementara terhadap suatu barang selama proses pengiriman dan atau penyimpanan dapat digunakan dengan cat berbahan dasar bituminous, toluene, alkyd resin dan aliphatic hydrocarbon. Analisa dilakukan untuk mengetahui performa dari variasi komposisi bituminous dan tebal lapisan cat dengan menggunakan pengamatan mikroskopik, uji kabut garam, uji permeabilitas dan kekuatan adesi.
Hasil pengujian menunjukan bahwa penambahan bituminous akan mengurangi ukuran dan jumlah pori sehingga menurunkan permeabilitas terhadap uap air, namun juga mengurangi gaya adhesi. Untuk penambahan tebal lapisan cat juga tidak meningkatkan peforma dari coating, karena menimbulkan pori yang cukup besar sehingga meningkatkan permeabilitasnya akibat dari tidak homogennya proses selama pengeringan. Dari pengujian sembur kabut garam, tidak begitu menjelaskan perbedaan dari variasi pengujian ini.

A temporary protective coating for materials or goods during shipping and or warehousing period could be used a coating with base composition from bituminous, toluene, alkyd resin and aliphatic hydrocarbon. Analysis is conducted to collect the information of coating performance by variant of bituminous composition in coating itself and variant of drying film thickness. The method of research are using microscopic (SEM), salt spray test, water vapor permeability and pull off test.
The result of test showed that adding the bituminous material will decrease size and quantity of porosity to reducing the permeability and also will reduce the adhesion force. From the dry film thickness site, having a thicker layer film is not warranted in increasing the performance of coating, because inhomogeneous of curing process. The porosity will be growth up and increasing the permeability. The results of salt spray test not really explain the difference value from these variants."
Lengkap +
Depok: Universitas Indonesia, 2011
T28317
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ivan Timona
"Pada bangunan, dinding merupakan salah satu elemen yang penting. Dinding pun mempunyai jenis yang bermacam-macam yang ditentukan oleh material pembentuknya, letaknya, dan juga fungsinya di dalam bangunan. Pemilihan material pembentuk dinding perlu ditimbang dengan hati-hati. Setiap material mempunyai keuntungan dan kekurangan masing-masing yang akan berpengaruh pada dinding yang dibentuknya.
Di dalam skripsi penulis akan memaparkan material alternatif pembentuk dinding pengisi yaitu Expanded Poly Slyrene (EPS). Material ini akan ditinjau keuntungan dan kerugiannya dari berbagai segi dan akan dibandingkan dengan material pembentuk dinding pengisi yang konvensional yaitu bata dan beton. Skripsi ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang penggunaan EPS dalam bangunan dan pengaruhnya terhadap kenyamanan penghuni bangunan dan juga memberikan sumbangan informasi tentang material bangunan alternatif pada bidang teknologi bangunan."
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48554
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tanti
"Telah dilakukan penelitan tentang pengaruh aglomerasi air - minyak bumi terhadap peningkatan nilai kalori, penurunan kadar abu dan sulfur pada batubara jenis Sub Bituminus Muaro Bungo, Jambi. Variasi padatan 10%, 20% dan variasi persentase minyak bumi yang digunakan dalam proses aglomerasi (10%, 50% dan 100%) dianalisa untuk menghasilkan aglomerasi yang optimal. Diperoleh adanya pengaruh proses aglomerasi terhadap peningkatan nilai kalori dan kadar karbon batubara, sementara itu kadar abu mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hasil proses aglomerasi terbaik terdapat pada sampel SB50P100C50 dengan peningkatan nilai kalori sebesar 39.68% (dari 5459 kal/gr menjadi 7478 kal/gr), dan kadar abu mengalami penurunan sebesar 58.37% (dari 6.39% menjadi 2.66%). Sehingga dengan proses aglomerasi dihasilkan produk briket yang ramah lingkungan.

Water-Crude Oil agglomeration method has been investigated for increasing calorie index, dust and sulfur content of coal sub-bituminous type Muara Bungo Jambi. For optimizing agglomeration process used compact variation of Coal (10%, 20%) and crude present variation (10%, 50%,100). Increasing calorie index, carbon content of Coal and decreasing dust content because of the influence agglomeration process. A sample SB50P100C50 was optimum result with increase calorie index 39.68% (from 5459 kal/gr to 7478 kal/gr), and decrease dust content of coal 58.37% (from 6.39% to 2.66%). Agglomeration methode was resulted environtmentally friendly briquet."
Lengkap +
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
T21494
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Husnul Fikri
"Konstruksi perkerasan jalan di Indonesia seringkali mengalami kerusakan akibat pengaruh jalan terendam. Kondisi permukaan jalan terendam diakibatkan oleh sistem drainase buruk. Kerusakan pada lapis permukaan disebabkan menurunnya kekuatan struktur campuran aspal oleh beban kendaraan dan adanya air di permukaan. Pada penelitian ini Buton Natural Asphalt (BNA) ditambahkan pada campuran Asphalt Concrete Wearing Coarse (AC-WC) yang menggunakan aspal penetrasi 60/70.
Penambahan BNA 25% terhadap aspal optimum AC-WC selanjutnya disebut ACWC Modifikasi dilakukan berbagai pengujian dalam kondisi kering dan terendam air. Analisis dilakukan untuk mengkaji karakteristik mekanik Stabilitas Marshall, Modulus Resilien dan Stabilitas Dinamis dengan menggunakan alat uji Marshall, Umata, Wheel Tracking Machine dan Scan Electronic Microscope.
AC-WC Modifikasi telah menunjukkan kinerja peningkatan nilai Stabilitas Marshall 11.35 %. Berdasarkan uji perendaman Marshall (Marshall Immersion) diperoleh Indek Kekuatan Sisa meningkat sebesar 2.71%. Modulus resilen (MR) meningkat 6.55% dalam kondisi terendam dan pada kondisi beban standar terjadi peningkatan sangat signifikan yaitu 32.59 %. Hasil uji deformasi permanen menunjukan laju deformasi 14.44 % lebih kecil dari pada campuran aspal AC-WC dengan indeks Penetrasi 60/70.

Construction of road pavement in Indonesia are often damaged due to the influence of submerged roads. Submerged road surface conditions caused by poor drainage system. Damage to the surface layer due to decreased structural strength of asphalt concrete mixture by weight of the vehicle and the presence of water on the surface. In this study Buton Natural Asphalt (BNA) was added to the mixture Asphalt Concrete Wearing Coarse (AC-WC) using bitumen 60/70 penetration index.
BNA addition of 25% of the optimum asphalt AC- WC called AC-WC Modifications carried out various tests in dry conditions and submerget. The analysis conducted to assess the mechanical characteristics of Marshall Stability, Resilient Modulus and Dynamic Stability using Marshall test, Umata test, Wheel Tracking Machine and Scan Electronic Microscope.
AC-WC Modifications have shown performance enhancement Marshall Stability value of 11.35%. Based on the Marshall Immersion test obtained Marshall Index of Retained Strength increased by 2.71%. Resilient Modulus (MR) 6.55% increase in submerged conditions and at standard load conditions occur very significant increase of 32.59%. Permanent deformation test results showed the rate of deformation of 14.44% smaller than the asphalt mixture AC-WC with 60/70 penetration index.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
T28572
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Kuncahyo
"Proses karbonisasi secara hidrotermal atau hydrothermal carbonization (HTC) merupakan proses termokimia pada temperatur yang relatif rendah untuk meningkatkan fasa padatnya yang biasa disebut HTC. Proses ini dapat mengkonversikan berbagai jenis biomassa menjadi serupa lignit bahkan sub- bituminous dengan massa tertinggal sekitar 35-60%. Karbon yang hilang sangat tinggi pada proses ini dikarenakan senyawa organik terlarut pada fasa cair dan hanya sedikit gas yang diproduksi. Proses ini sangat dipengaruhi oleh jenis biomassa serta kondisi operasi yang meliputi waktu tinggal serta temperature. Temperatur operasi HTC sekitar 180- 250°C di tekanan subkritik dengan waktu tinggal yang pendek. Hasil dari konversi biomasa MSW bisa digunakan untuk bahan bakar yang dapat diperbarui dan ramah lingkungan.

The hydrothermal carbonization (HTC) is a thermochemical process at relatively low temperatures to increase its solid phase commonly called HTC. This process can convert various types of biomass into similar lignite even sub-bituminous with masses left around 35-60%. The missing carbon is very high in this process due to the dissolved organic compounds in the liquid phase and only a few gases are produced. This process is strongly influenced by the type of biomass and operating conditions that include time and temperature. HTC operating temperature is about 180-250 °c at the pressure of sub-critic with short stay time. Results of the biomass conversion of MSW can be used for renewables and environmentally friendly"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
London: Thomas Telford, 1994
625.8 BIT
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Cipta Widya Atmaja
"Pemanfaatan aspal Buton (Asbuton) sebagai sumber pemenuhan kebutuhan aspal Indonesia masih memiliki banyak kendala. Salah satu kendalanya adalah kandungan CaCO3 dalam Asbuton yang cukup besar sehingga mengurangi kualitas aspal pada Asbuton. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi CaCO3 pada Asbuton menggunakan Hot Brine Water yang dibuat dengan melarutkan NaCl dalam air panas. Keberadaan NaCl dalam pelarut pada suhu tinggi dapat meningkatkan kelarutan CaCO3. CaCO3 diekstraksi dalam reaktor batch yang bekerja pada tekanan ruang dilengkapi dengan pemanas dan pengaduk yang berfungsi sebagai pemecah Asbuton. Ekstraksi dilakukan pada variasi kondisi operasi dengan kadar NaCl (1 ? 3% massa), suhu (50 ? 80 ), persentase Asbuton dalam larutan (1 ? 3% massa) dan waktu ekstraksi (5 ? 20 menit). Kondisi optimal yang diperoleh adalah kadar NaCl 1%, suhu 60 , persentase Asbuton dalam larutan 1% dan waktu reaksi 5 menit, mendapatkan aspal dengan kadar 68% dan mampu melarutkan CaCO3 dalam Asbuton 30%.

The utilization of Buton's asphalt (known as Asbuton) to meet the asphalt demands in Indonesia has many obstacles. One of them is the enermous CaCO3 content in Asbuton so quality of asphalt produced from Asbuton dwindles. This research studied extraction of CaCO3 from Asbuton in hot brine water wich is made from dissolving NaCl to hot water. NaCl availability on high temperature solution improve the solubility of CaCO3. The extraction is done in batch extractor at atmospheric pressure, extractor equipped with heat jacket and high speed propeller that can help to crush Asbuton rocks. The extraction varies in NaCl concentration 1-3%(w/w), temeprature (50 ? 80 ), percentage of Asbuton on solution 1-3%(w/w), and extraction time (5 ? 20 minutes). The optimum condition obtained is at 1% NaCl concentration, 60 , 1% percentage of Asbuton on solution, and at 5 minutes, give extraction result that have asphalt content 68% (w/w) and have ability dissolved CaCO3 30%(w/w)."
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63147
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agustina Rahayu
"Pencampuran biomassa dengan batubara dewasa ini dianggap menjadi solusi bagi lamanya waktu penyalaan batubara dan besarnya emisi CO yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kinerja dari pencampuran batubara dan biomassa tandan kosong kelapa sawit pada pembakaran di dalam kompor dilihat dari waktu penyalaan briket pemasakan, emisi CO yang dihasilkan, dan efisiensi termal pembakaran. Komposisi biomassa divariasikan pada 50%, 75%, dan 100% biomassa serta kecepatan superfisial 0,29 m/s, 0,42 m/s, dan 0,54 m/s.
Hasil penelitian menunjukkan baik waktu penyalaan maupun emisi CO dipengaruhi oleh komposisi biobriket dan kecepatan forced. Waktu penyalaan tersingkat dialami oleh pembakaran biobriket dengan komposisi 100% biomassa pada kecepatan 0,42 m/s (0,5 menit). Sedangkan, emisi CO terendah didapat dari pembakaran biobriket dengan komposisi 100% biomassa dengan kecepatan 0,54 m/s (rata-rata 312,81 ppm). Serta efisiensi termal tertinggi dicapai oleh pembakaran biobriket pada komposisi 50% biomassa, (1,27%). Perhitungan entalpi pembakaran membuktikan bahwa pembakaran biobriket di semua komposisi pada kecepatan superfisial 0,54 m/s terjadi pembakaran yang lebih sempurna sehingga menghasilkan emisi CO terendah dan entalpi pembakaran tertinggi.

Nowadays, mixture of biomass and coal has been considered to solve the problem of long ignition delay and high CO emissions in coal combustion. This research aims to study combustion performance in mixture of empty palm bunches and coal concerning of its ignition delay, CO emissions, and thermal efficiency. The content of biomass in biobriquettes was varied at 50%; 75%; and 100% biomass content; and superficial air velocity at 0.29 m/s; 0.42 m/s; and 0.54 m/s.
The result showed that both ignition delay and CO emissions were influenced by biomass composition and superficial air velocity. The shortest ignition delay occured at combustion involving biobriquettes 100% biomass content with superficial air velocity at 0.42 m/s (0.5 minutes). The lowest CO emissions was obtained by burning biobriquettes 100% biomass content with 0.54 m/s superfisial air velocity (average 312.81 ppm). The highest thermal efficiency was reached by burning of biobriquettes with 50% biomass content (1.27%). Combustion enthalpy calculation showed that compared to those at low air velocity 0.54 m/s had higher enthalpy and produced lowest CO emission at all combustion runs.
"
Lengkap +
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42894
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>