Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 132728 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rendra Jayantara Putra
"Berkembangnya industri petrokimia dan meningkatnya penggunaan bahan bakar fosil di Indonesia dewasa ini telah menyebabkan emisi gas polutan berbahaya seperti hidrogen sulfida (H2S) dan senyawa sulfur lainnya ke lingkungan juga semakin besar. Polutan ini bersifat korosif dan racun (toksik) bagi manusia dan lingkungan. Berbagai metode fisis untuk mereduksi senyawa sulfur ini, seperti adsoprsi karbon aktif, belum memberikan hasil memuaskan, sehingga menuntut ditemukannya metode lain yang lebih efisien dan ekonomis.
Biofiltrasi, suatu metode yang menggabungkan proses adsorpsi dan biodegradasi secara simultan dalam sebuah alat yang disebut biofilter, sangat potensial untuk menggantikan metode konvensional yang sudah ada. Dalam aplikasi metode biofiltrasi ini tentunya diperlukan alat proses yang sesuai, untuk itulah pada penelitian ini dilakukan perancangan alat biofilter, serta pengujian kinerja alat yang terdiri dari uji hidrodinamika dan uji adsorpsi.
Pengujian adsorpsi dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama adalah dengan mengalirkan gas umpan udara dan tahap kedua dengan mengalirkan senyawa tiosulfat ke dalam kolom biofilter. Kedua pengujian ini bertujuan untuk menentukan apakah hasil rancang bangun alat biofilter mampu melakukan proses adsorpsi gas N2 dan O2 (dalam udara) serta senyawa sulfur dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian, kolom biofilter yang dirancang adalah kolom unggun tetap (fixed bed) berbahan pengisi Zeolit Alam Lampung alami dengan ukuran diameter 5 cm dan tinggi 35 cm.
Hasil rancang bangun alat biofilter ini mampu melakukan adsorpsi N2 dan O2 dengan persentase reduksi maksimum 12,14 % dan 9,8 %. Selain itu biofilter juga mampu mengadsorp senyawa sulfur (dalam bentuk ion tiosulfat) dengan persentase reduksi maksimum sebesar 47,6 %. Lebih baiknya kinerja biofilter dalam mengadsorp senyawa tiosulfat dipengaruhi oleh ukuran molekul tiosulfat yang lebih kecil dari molekul N2 dan O2 sehingga memungkinkan tiosulfat lebih banyak terserap pada pori zeolit.
Hasil rancang bangun dan pengujian hidrodinamika serta adsorpsi yang dilakukan terhadap alat biofilter ini selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk proses reduksi gas H2S. Karenanya, keberhasilan penelitian ini akan membuka jalan untuk dapat mereduksi kandungan gas H2S dalam limbah industri maupun emisi kendaraan bermotor sehingga lebih ramah lingkungan.

Nowadays, petrochemical industry development and the use of fossil fuel in Indonesia have been increasing dramatically, resulting in higher emission of dangerous gas pollutants such as hydrogen sulfide and other sulfuric compounds to the environment. These pollutants are very toxic and corrosive for human nature and also environment if accumulated at certain amount. Physical method that have been used in order to reduce sulfuric compound, such as activated carbon adsorption, is not giving satisfaction results yet that forced the invention of new method which giving better efficiency end economical.
Biofiltration, a method that combines adsorption and bio-degradation processes simultaneously in an instrument called biofilter, has greay potential to replace previous conventional methods. Application of biofiltration method needs appropriate process equipment. In order to reach that purpose, this research aimed to build up the biofilter system and also conduct performance tests which consist of hydrodynamic and adsorption test.
The adsorption tests conducted in two steps, the first step is done by flowing air as the feed gas and second step is done by flowing thiosulfate compound's vapor to the biofilter column. Both tests have an objective to decide whether the result of biofilter's build up plan in doing the adsorption of nitrogen and oxygen along with sulfuric compound appropriately or not. Based to results of the research, it is known that biofilter column is a fixed bed adsorption column which filled with Lampung natural zeolite as the packing material. The biofilter column has 5 cm of inner diameter and 35 cm of height.
The build up plan result of the biofilter system capable of doing nitrogen and oxygen adsorption process, with maximum reduction efficiencies are 12.58 % and 9.80 % respectively. Biofilter also capable to adsorp sulfuric compound, which represented in thiosulfate form, with maximum reduction efiiciency is 47.6 %. The performance of biofilter in those adsorption processes is influenced by several factors: molecular size, polarity and phase difference between thiosulfate and nitrogen or oxygen molecules.
The results of this research are used as consideration to optimize sulfuric compound separation by biofilter. Because of that reason, the success of this research will make great possibility to produce industrial waste and vehicle's emission with lower sulfuric compounds.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S49682
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ario P.
"Selain dapat menurunkan keekonomisan gas bumi, gas buang yang mengandung senyawa Sulfur juga memiliki potensi untuk menimbulkan pencemaran udara jika terlepas ke udara. Senyawa sulfur seperti pada Hidrogen Sulfida pada konsentrasi di atas ambang batas yaitu 2 ppm sudah dapat membahayakan karena bersifat toksik Untuk mengurangi kadar senyawa ini dapat dilakukan dengan proses adsorpsi dengan menggunakan zeolit Alam Lampung sebagai adsorben.
Pada penelitian ini, dilakukan beberapa proses perlakuan terhadap zeolit alam lampung untuk mengoptimalkan kinerjanya dalam mengadsorpsi senyawa sulfur. Sampel gas yang digunakan adalah campuran udara - Tiosulfat. Sedangkan uji adsorpsi udara murni dilakukan sebagai kondisi referensi. Proses perlakuan adsorben yang dilakukan pada penelitian ini meliputi: Proses Dealuminasi yaitu dengan perendaman adsorben pada larutan HF 3% selama 20 menit; Proses pertukaran ion dalam larutan NH4NO3 0,1 N selama 2 jam dan dengan proses kalsinasi pada suhu 530 _C selama 5 jam. Sedangkan variasi modifikasi perlakuan (treatment) zeolit yang dilakukan yaitu: Zeolit murni, Zeolit Dealuminasi, Zeolit Dealuminasi + Kalsinasi (Zeolit DK), Zeolit Dealuminasi + Pertukaran Ion (Zeolit DP) dan Zeolit Dealuminasi + Pertukaran Ion + Kalsinasi (Zeolit DPK).
Berdasarkan hasil uji coba adsorpsi senyawa Sulfur dari berbagai jenis zeolit tersebut di atas diperoleh suatu hasil (secara kualitatif) bahwa bila proses Dealuminasi dilakukan sebagai perlakuan awal dapat menyebabkan kerusakan struktur zeolit yang dapat menurunkan luas permukaannya. Pada uji adsorpsi udara pada suhu ruang dengan laju alir udara 51,52 ml/s untuk zeolit Dealuminasi diperoleh hasil yang optimal sebesar 60 % N2 maupun O2 dapat teradsorp, sedangkan pada uji adsorpsi senyawa sulfur dari campuran udara - Tiosulfat pada kondisi operasi yang sama diperoleh hasil yang optimal pada zeolit alami. Selain itu dari percobaan terbukti bahwa senyawa sulfur yang bersifat polar dengan mudah dapat teradsorp dibandingkan Nitrogen dan Oksigen dalam udara yang bersifat nonpolar.

In addition to reduce the income of Natural gas, exhaust gas, containing Sulphuric compound also has the problem to cause air pollution. Sulphuric compound like Hydrogen Sulfide is very dangerous outside its limit (2 ppm) because of its toxic characteristic. To reduce the pollutant level from sulphuric compound, can be done by the adsorption process using Lampung natural zeolit as an adsorben. This research do the several treatment of Lampung natural zeolit to enhance its effort in Sulphuric compound adsorption process.
In this project, the mixing of Air ' Tiosulfate is used as a sample. In additon, the processs of pure air adsorption is done as a reference condition. The adsorben treatment in this research includes Dealumination process with dilute adsorben in HF 3% mixture within 20 minutes; Ion exchange process in NH4NO3 0,1 N mixture within 2 hours; finally with kalsination at 530 _C within 5 hours. Moreover, the variation of treatment modification of zeolit is done, including: Pure zeolit, Dealumination zeolit, Dealumination + Kalsination zeolit (DK zeolit), Dealumination + Ion exchange zeolit (DP zeolit), and Dealumination + Ion exchange + Kalsination zeolit (DPK zeolit).
Based on the result of Sulphuric compound adsorption process from all kind of zeolit above, the research conclude that if Dealumination process is done as the first treatment, then it can damage the zeolit structure. Next, can descend the surface area of zeolit itself. The processs of pure air adsorption at 25 0C with air flowrate at 51,52 ml/s result the optimal condition. This condition is reached by Dealumination zeolit which can adsorp N2 until 60 %, the same result has been shown in O2. Nevertheless, Sulphuric compound adsorption process from its mixing at the same operation condition result the different thing. This process result the optimal condition by Pure zeolit. Also, the research proved that sulphuric compound which has the polar characteristic of its band easily can be adsorped than Nitrogen and Oxygen which has the nonpolar characteristic of its band.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S49813
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dianursanti
"ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui profil oksigen terlarut dan menentukan koefisien perpindahan massa gas (oksigen) ke dalam fasa cair (K'1}. Masing-masing dibahas dengan melihat pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien perpindahnn massa tersebut.
Hasil dari penelitian ini akan memperlihatkan beberapa nilai koefisien perpindahan massa (Kto) untuk kolom aerasi sistem injeksi berganda pada beberapa kondisi operasi ozonasi. Dengan demikian proses ozonasi sebagai salah satu alternatif proses pengolahan limbah cair industri yang menarik dan prospeklif, diharapkan dapat semakin berkembang di Indonesia."
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Tegar Maulana
"ABSTRAK
Senyawa Annonaceous acetogenin (asetogenin) dari daun sirsak telah terbukti memiliki sifat antikanker. Gugus asetogenin terdiri dari berbagai senyawa, salah satunya adalah Annonacin yang banyak terdapat di bagian daun tanaman sirsak. Adapun tujuan dari isolasi ini adalah untuk mendapatkan senyawa annonacin yang dapat digunakan sebagai standar untuk penelitian lebih lanjut. Isolasi annonacin terdiri dari tiga tahap yaitu maserasi, fraksinasi, dan isolasi. Pelarut yang digunakan antara lain etanol, etil asetat, heksana, kloroform, dan air. Hasil isolasi tersebut diuji dengan menggunakan kedde reagent untuk mengetahui ada atau tidaknya gugus lakton serta jumlah konsentrasi lakton yang dikandung. Hasil uji reagen kedde menunjukkan adanya gugus lakton dengan perubahan warna menjadi pink-ungu. Jumlah konsentrasi lakton terkandung dari F4.4 241,86 mg/gr. Sitotoksisitas annonacin diuji menggunakan metode Brine Shrimp Test dengan menghitung LC50. Didapat nilai LC50 sebesar 1,04 ppm. Analisis kualitatif hasil isolasi dilakukan menggunakan HPLC dan LC-MS menghasilkan terdapat senyawa annonacin dari F4.4 dengan berat molekul 597,23.

ABSTRACT
Compounds of Annonaceous acetogenin (asetogenin) from soursop leaf has been shown to have anticancer properties. Asetogenin group consists of a variety of compounds, one of which is that many Annonacin located on the leaves of the soursop plants. The purpose of isolation is to get annonacin compounds that can be used as a standard for further research. Isolation of annonacin consists of three phases, namely maceration, fractionation, and isolation. Solvents used include ethanol, ethyl acetate, hexane, chloroform, and water. isolation results were tested using kedde reagent to determine the presence or absence of the lactone group and the number concentration of lactones contained. Kedde reagent test results indicate the presence of the lactone group to change into a pink-purple color. Total concentrations of F4.4 lactone contained 241.86 mg / g. Annonacin cytotoxicity was tested using Brine Shrimp Test method by calculating the LC50. Obtained LC50 values of 1.04 ppm. Qualitative analysis of the results was performed using HPLC isolation and LC-MS produces compounds contained annonacin F4.4 with a molecular weight of 597.23.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S55081
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kristofer Haliansyah
"Seluruh kegiatan manusia tak lepas akan kebutuhannya atas energi. Pemanfaatan sumber energi tak terbarukan secara berlebihan dan meningkatnya kebutuhan manusia akan energi membuat beberapa isu global menjadi marak diperbincangkan. Salah satu pemanfaatan energi terbarukan adalah dengan menggunakan energi matahari melalui solar water heater. Solar water heater terbagi menjadi dua komponen utama, yaitu solar kolektor dan tangki penyimpanan. Pada paper ini akan dibahas pengujian melalui prototipe tabung vakum solar kolektor berbasis heat pipe ganda sebagai instrumen yang melakukan ekstrkasi panas. Panas dari matahari akan disimulasikan dengan menggunakan lampu halogen dengan daya 150 Watt.
Prototipe solar kolektor yang digunakan didesain dengan memanfaatkan satu buah sirip yang menghubungkan kedua buah heat pipe. Pengujian dilakukan dengan menggunakan dinding isolatif dengan menggunakan styrofoam dan tripleks untuk mengurangi pengaruh perpindahan panas dari lingkungan akibat perbedaan temperatur. Variasi yang dilakukan dan diamati pada eksperimen ini adalah pengaruh panjang wick terhadap performa heat pipe dan solar kolektor dimana wick akan mempengaruhi dinamika fluida kerja dan resistansi thermal dari pada heat pipe. Melalui pengujian ini didapatkan bahwa heat pipe dengan wick yang memanjang pada adiabatic zone dan seluruh evaporating zone memiliki resistansi termal yang paling rendah dibandingkan penggunaan heat pipe dengan wick yang menutupi setengah evaporator dan tiga perempat evaporator, yaitu sebesar 0,37 K/W dengan efisiensi sistem tertinggi yaitu sebesar 34,95% sehingga memiliki performa terbaik dibandingkan yang lain.

Every human activity needs energy. The increasing number of non-renewable energy and the rising need of energy caused some global issue. It always be interesting to discuss how human being could create and improve an instrument that can extract energy from renewable energy resources which is clean and applicable. One of the instrument that can extract energy from the sun is solar water heater. Solar water heater is consist of two main component. The first component is called storage tank, and the other is called solar collector. This paper will discuss the experimental result of evacuated tube solar collector based on dual heat pipes as an heat extractor from the sun. The experiment goes with a 150 Watt halogen lamp as a simulator of the sun.
The solar collector prototype which is used in this experiment designed with a fin. A copper fin is being used to collect heat from the sun and trasfer the heat to heat pipes. Adibatic walls made from styrofoam and plywood are used in this experiment to prevent any heat transfer from the environment due temperature difference. Wick length inside heat pipe is the variation that being investigated in this research. The flow characteristic inside the heat pipe depend on the wick length, and thermal resistance of heat pipe will be changed as a result of wick length variation. The experiment result conclude that the full length wick heat pipe has the best performace with 0.37 K/W thermal resistantion and the efficiency of the system reach 34,95%. This is the highest value compared to the half length and three quarter length wick heat pipe.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S53990
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Didiek Hari Nugroho
"Kolom gelembung pancaran merupakan salah satu alat yang berfungsi sebagai alat kontak/perpindahan massa antara fasa gas dan fasa cair yang telah banyak digunakan di industri kimia dan petrokimia, bahkan di industri pengolahan air limbah. Hal pokok yang penting diketahui dalam proses ini adalah tinjauan untuk mempelajari hidrodinamika dan kinetika absorpsi CO2.
Pada penelitian ini, yang ingin ditentukan adalah gas entrainment, holdup fasa gas, ukuran diameter gelembung, dan luas area spesifik antarfasa untuk studi hidrodinamika. Sedangkan untuk studi kinetika absorpsi CO2 yang ditentukan adalah konstanta kinetika reaksi.
Data yang diambil pada percobaan hidrodinamika adalah laju gas entrainmeni (gas yang terhisap), tekanan statik yang berupa tinggi cairan aerasi (Hf) dan tinggi cairan (hf), tekanan cairan, pengambilan gambar dengan menggunakan kamera pada 3 daerah. Dimana data tersebut diambil pada tiap kondisi operasi laju alir volumetrik cairan dan ukuran diameter nozzle yang divariasikan serta jarak antara permukaan cairan dengan ujung pelepasan kolom downcomer atau pipa downcomer yang tercelup (Z) yang konstan. Data ini kemudian diaplikasikan kedalam persamaan masing -masing untuk mendapatkan harga holdup fasa gas, ukuran diameter gelembung, dan luas area spesifik antar fasa. Sedangkan untuk kinetika absorpsi C02 yang diambil pada percobaan ini adalah data perubahan konsentrasi larutan NaOH dalam kolom gelembung pancaran persatuan waktu. Data ini kemudian diaplikasikan kedalam laju reaksi pseudo first orde reaction untuk menghitung nilai konstanta kinetika reaksi.
Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada panjang pipa downcomer yang tercelup konstan, semakin besar kecepatan pancaran cairan dan ukuran diameter nozzle, maka semakin besar gas yang terhisap, holdup fasa gas, dan luas area spesifik antar fasa. Sedangkan ukuran diameter rata - rata gelembung semakin kecil. Pada panjang pipa downcomer yang tercelup semakin pendek, maka semakin besar harga konstanta kinetika reaksi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S49590
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Iva Ayu Ardiyanti
"Kandungan sulfur pada biosolar menyebabkan menyebabkan dua kerugian, yaitu menurunkan umur mesin dan pencemaran lingkungan. Salah satu proses yang telah banyak dilakukan oleh para peneliti untuk mengurangi kandungan sulfur adalah reaksi desulfurisasi oksidatif atau oxidative desulfurization (ODS). Metode yang umum digunakan dalam proses ODS terdiri dari dua tahap, yaitu oksidasi dan ekstraksi menggunakan senyawa polar. Pada penelitian ini, proses ODS dilakukan dengan oksidator hidrogen peroksida, katalis asam format dan asam sulfat, dan pelarut polar metanol. Proses oksidasi dilakukan pada wadah berpengaduk dengan variasi jumlah oksidator, suhu oksidasi, dan waktu oksidasi. Variasi rasio oksidator dengan Biosolar™ adalah 1:15, 1:45, 1:56, 1:67, 1:89, dan 1:112 (mol/mol). Variasi suhu oksidasi adalah 35°C dan 60°C, dan variasi waktu oksidasi dilakukan pada 30 menit, 45 menit, dan 60 menit. Setelah itu, dilakukan ekstraksi cair-cair untuk memisahkan biosolar dari sulfur yang telah teroksidasi. Hasil penelitian diuji dengan metode FTIR untuk menentukan kandungan sulfur total dalam biosolar. Hasil desulfurisasi tertinggi adalah 20,07% dengan rasio molar oksidator 1:89 (mol/mol), suhu 35°C, dan waktu reaksi 60 menit.

The contained of sulfur in biosolar can caused two disadvantages. These are decreased the term of a machine and environmental pollution. One of process that all researchers did to decreased the contain of sulfur is oxidative desulfurization (ODS). The common method used in ODS consists of two steps, there are oxidation and extraction using the polar compound. In this research, ODS process will be done with hydrogen peroxide as oxidizing agent, formic acid and sulfuric acid as a catalyst, and methanol as a solvent. Oxidation process carried out in agglomerated reactor with variations in the amount of oxidizing agent, the temperature of oxidation, and the time of oxidation. The variation of oxidant ratio with biosolar is 1:15, 1:45, 1:56, 1:67, 1:89, and 1:112 (mol/mol). The variant temperature of oxidation is 35°C and 60°C, and the oxidation time variant occur in 30 minutes, 45 minutes, and 60 minutes. After that, the extraction will be done to separate biosolar from the oxidized sulfur. The result of the research tested by FTIR method to examine total content of sulfur in biosolar. The highest desulfurization result is 20,07% in 60 minutes with the molar ratio of oxidant 1:89 (mol/mol) in 35°C.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Zafrazad Adiba
"Air limbah proses pencucian jean yang dihasilkan dari rumah industri pada umumnya langsung dibuang ke badan air tanpa dilakukan pengolahan, padahal air limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan dengan kandungan 3,37-9,59 mg/L logam tembaga (Cu) dan 1444,0-2835,0 mg/L Chemical Oxygen Demand (COD). Pada penelitian ini dilakukan penyisihan konsentrasi untuk parameter pencemar Cu dan COD yang melebihi baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2014. Penyisihan dilakukan secara biologis menggunakan reaktor biofilter. Lapisan biofilm berasal dari Pseudomonas putida yang ditumbuhkan pada media bioball pada proses seeding dan aklimatisasi yang berlangsung selama 57 hari. Pengaliran air limbah ke dalam reaktor biofilter dilakukan secara kontinyu pada waktu tinggal 12 jam. Reaktor menunjukkan efisiensi penyisihan maksimum pada kondisi influen 7,26 mg/L Cu dan 2148,0 mg/L COD dengan kapasitas pencemar penyisihan 8,56 mg/L Cu dan 2078,50 mg/L COD. Perancangan pengolahan menggunakan unit biofilter skala lapangan untuk lokasi studi membutuhkan ruang berdiameter 4,8 m dan kedalaman 4,3 m dengan waktu tinggal 19,9 jam.

Jean wash wastewater produced from industrial houses usually is discharged directly into water bodies without any treatment, but that wastewater has the potential to pollute the environment with 3,37-9,59 mg/L Copper (Cu) and 1444,0-2835,0 mg/L and Chemical Oxygen Demand (COD). In this study, the treatment used able to remove the concentration of Cu and COD that exceeded the quality standard stated on Ministry of Environment Regulation No. 5/2014. The removal is done biologically using biofilter reactor. The biofilm layer comes from Pseudomonas putida that has been grown on a bioball media, done by seeding and acclimatization that occurred for 57 days. The influent flow of wastewater into the biofilter reactor is done continuously with the contact time of 12 hours. The reactor showed maximum removal efficiency when the characteristic of influent was 7,26 mg/L Cu and 2148,0 mg/L COD with maximum removal capacity was 8,56 mg/L Cu and 2078,50 mg/L COD. A full-scale wastewater treatment is designed using Biofilter for the location needs a volume of 4,8 in diameter 4,3 in depth with hydraulic retention time for 19,9 hours."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S63809
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>