Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 58897 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Loorentz
"Sel surya merupakan alat yang berupa semikonduktor yang memiliki kemampuan untuk merubah cahaya matahari menjadi energi listrik. Paduan Cu2ZnSnS4 merupakan salah satunya. Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengkarakterisasi paduan Cu-Zn-Sn dari logam kuningan (63,4/36,2) dan timah. Peleburan dilakukan dengan vacuum arc melting furnace. Pengujian EDS paduan menunjukkan adanya penurunan persentase Zn pada seluruh sampel. Pengujian XRD menunjukkan adanya paduan Cu2ZnSn yang terbentuk. Hasil uji kekerasan mengindikasikan semakin tinggi kandungan Sn yang melebihi batas kelarutannya maka semakin rendah nilai kekerasannya. Hasil foto mikro menunjukkan struktur yang berbentuk dendritik, homogen dan merata di seluruh bagian.

Solar cell is a semiconductor device that has the ability to transform sunlight into electrical energy. Cu2ZnSnS4 alloy is one of them. The aims of this research are to create and characterize the Cu-Zn-Sn alloy from brass (63.4/36.2) and tin. The alloying process is done by vacuum arc melting furnace. EDS test results showed a reduction in the percentage of Zn in all samples. XRD test showed that Cu2ZnSn alloy is formed. Hardness test results indicate that alloy with higher Sn percentage that exceed it's solubility limit will have lower hardness. The alloy microstructure showed dendritic-shaped structures, homogeneous and evenly distributed throughout the section."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51540
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Henokh Hiramhy Ardian
"Dewasa ini kebutuhan energi di dunia mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Salah satu alternatif penghasil energi yang murah dan dapat bertahan lama adalah penggunaan energi surya. Bahan dasar yang digunakan untuk perangkat sel surya adalah semikonduktor, yaitu senyawa Cu2ZnSnS4. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan paduan Cu - Zn - Sn sebagai bahan dasar awal untuk pembuatan paduan sel surya. Peleburan paduan tersebut menggunakan Vacuum Arc Melting Furnace. Hasil pengamatan struktur mikro dan XRD menunjukkan adanya paduan Cu - Zn - Sn yang terbentuk.
Hasil pengamatan EDX menunjukkan kandungan rata-rata yang ada pada setiap sampel sebesar 66.13% Cu, 8.65% Zn dan 25.22% Sn. Hasil pengujian kekerasan menunjukkan bahwa nilai kekerasan bergantung pada distribusi komposisi yang ada dan pertumbuhan butir pada saat pendinginan.

The needs for energy in the world highly increase. Solar cell is the alternate energy which is cheap and has more durable. The basic compound of solar cell device is semiconductor, like Cu2ZnSnS4. The aim of this research is to get Cu ' Zn ' Sn alloy as basic material for solar cell Cu2ZnSnS4. Melting process use Vacuum Arc Melting Furnace. Cu ' Zn ' Sn alloy was observed by XRD and microstructure images.
EDX analysis results show the percentages of 66.13% Cu, 8.65% Zn and 25.22% Sn. From hardness testing shows that the point of hardness depend on composition distribution and grain growth at solidification.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51537
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aryo Nurwadi
"Semikonduktor yang digunakan sebagai lapisan penyerap pada sel fotovoltaik tersusun atas beberapa unsur yang membentuk suatu paduan, salah satunya adalah Cu2ZnSnS4. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik paduan Cu-Zn-Sn dengan melakukan peleburan antara kuningan (70/30) dan timah. Peleburan dilakukan dengan metode arc melting furnace.
Hasil dari pengamatan struktur mikro dan analisis EDX menunjukkan terbentuknya paduan Cu-Zn-Sn dengan kadar sekitar 50%Cu-25%Zn-25%Sn. Hasil analisis XRD menunjukkan terbentuknya paduan Cu2ZnSn. Dari hasil uji kekerasan didapat bahwa semakin tinggi kandungan Cu di dalam paduan maka nilai kekerasan akan semakin meningkat.

Semiconductor that use for absorber layer in photovoltaic cell contain many elements to form some alloy, one of them is Cu2ZnSnS4. The aim of this reserch is to characterization of Cu-Zn-Sn alloy with remelting between brass (70/30) and tin. Remelting process is done by arc melting furnace.
Microsrtucture observe and EDX analysis results a Cu-Zn-Sn alloy with approximately containing 50%Cu-25%Zn-25%Sn. XRD analysis show that this process form a Cu2ZnSn alloy. From hardness testing, alloy with higher Cu contents have higher hardness.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51513
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Muharrir Asyari Saraswan
"Tingkat konsumsi energi yang semakin besar, mendorong manusia untuk menciptakan suatu energi alternatif yang dapat diperbaharui dan murah, salah satu adalah sel surya. Namun, sel surya yang ada sekarang begitu mahal apabila dibandingkan dengan energi fosil. Oleh karena itu, kedepannya akan dibuat sel surya jenis lapis tipis karena terdapat reduksi terhadap berat sel surya selain efisiensi dan harga yang bersaing. Pada penelitian ini telah dibuat paduan Cu-Zn-Sn (CZT) dengan metode arc melting furnace yang akan digunakan sebagai material target pada penumbuhan lapisan tipis Cu2ZnSnS4 (CZTS) untuk bahan dasar sel fotovoltaik. Pada proses pemaduan didapatkan hasil yang memuaskan, dimana dihasilkan ingot berbentuk solid dan tidak menempel pada krusibel. Pada karakterisasi yang dilakukan dengan menggunakan EDS, XRD dan mikroskop optik terhadap ingot paduan CZT menunjukkan hasil yang memuaskan, dimana dari hasil proses pemaduan telah didapatkan paduan CZT yang homogen dengan membentuk paduan 2Cu/Zn/Sn. Ingot hasil paduan CZT ini dapat digunakan dalam penumbuhan lapisan tipis Cu2ZnSnS4.

The rate of energy consumption that has been increased, leads human to search for an alternative of energy that is renewable and cheap solar cell. However, until recently solar cell is considered too expensive compared to fossil based energy. Such as a thin film solar cell can be employed to reduce weight and improved efficiency with comparable price. In this research, a Cu-Zn-Sn (CZT) has been succesfully made with arc melting furnace method that can be applied for target materials on the growing of Cu2ZnSnS4 (CZTS) thin film for basic material of photovoltaic cell.Successfully solid CZT ingot was produced without adhering to the crucible. On characterization utilizing EDS, XRD, and optical microscope, it showed that the alloying process of CZT resulting in a Cu2ZnSn homogeneous alloy. This resulting ingot alloy is likely usable for CZTS thin film growing process."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51484
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Phase trnasformation temperature of shape memory alloy - Tini produced by arc - melting technique. The observation of phase trnasformation temperature of Tini alloys produced by arc - melting technique was carried out by alloying Ti - 53%w Ni. Tini alloys were tempered at 900oC and then followed by quenching at 20oC and 5oC and finally were aged at 400oC for 1,4 and 16 hours. The Ti-53%. Ni alloyed is applied to obtain as shape memory alloys base on Tini . The Tini sample was analyzed by optical microscope, X - ray diffraction and simultaneous symmetrical thermoanalyzer (STA) . The result show that the martensitic phase has a structure of BCT (bODY CENTER TETRAGONAL) formed at room temperarure. The phase transformation temperature from martensitic - austensitic phase was taken place at (162+5)oC"
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Hasudungan, Eric Mamby
"Karakterisasi hasil proses pengelasan dengan metode Gas Metal Arc Welding, Gas Tungsten Arc Welding dan Plasma Arc Welding pada baja lembaran berlapis seng dibandingkan untuk mengetahui pengaruh seng terhadap hasil lasannya. Perbedaan besar butir yang sangat jauh antara daerah fusion zone, yaitu 32 μm, dan daerah HAZ, yaitu 90 μm, pada proses pengelasan dengan metode Gas Metal Arc Welding menyebabkan penggetasan dan perpatahan di fusion line pada pengujian tarik dan pengujian tekuk. Hasil pengelasan dengan metode Plasma Arc Welding memiliki sifat fisik yang paling optimum di antara kedua metode lainnya, dengan kekuatan tarik sebesar 352 N/mm² dan struktur butir mikro yang relatif halus. Terdapat pelarutan seng ke daerah fusion zone, dengan kandungan paling besar pada metode pengelasan Plasma Arc Welding.

The characterization of weldments produced by Gas Metal Arc Welding, Gas Tungsten Arc Welding and Plasma Arc Welding methods in joining zinc coated steel sheet is compared to know the effect of Zinc on the properties of weldments. The grain size difference between the fusion zone, which is 32 μm, and HAZ area, which is 90 μm, on Gas Metal Arc Welding method is causing the brittleness and cracking at the fusion line while testing with tensile and bending test. Weldments produced by Plasma Arc Welding have the optimum physical property among the two other welding process, with tensile strength 352 N/mm² and relatively fine microstructure. There is some zinc dilution in fusion zone, with the biggest concentration occurs in Plasma Arc Welding process."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
T25122
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kresna Dwipa Nugraha
"Produksi komponen otomotif yang sangat menjanjikan membuat para pelakunya untuk selalu mengembangkan proses produksi tersebut agar didapat suatu hasil sesuai dengan yang diharapkan. Aluminium paduan ADC 12 (Al -12% Si) merupakan salah satu jenis aluminium yang memiliki kemampuan alir yang baik dan dipakai dalam proses High Pressure Die Casting. Hal yang masih menghambat perkembangan produksi komponen adalah masih tingginya daftar reject akibat cacat yang timbul karena sifat mampu alir (fluiditas) dari logam yang masih kurang. Treatment logam cair seperti degassing perlu dilakukan untuk menghindari cacat yang diakibatkan gas terlarut seperti porositas. Penelitian kali ini dilakukan untuk menentukan pengaruh proses degassing terhadap nilai fluiditas dari aluminium ADC 12 dengan menggunakan metode vakum. Percobaan dilakukan dimulai dengan pengaruh kenaikan temperatur, yaitu pada temperatur 640_C, 660_C, 680_C, dan 700_C, terhadap nilai fluiditas. Kemudian pada setiap peleburan dilakukan treatment degassing menggunakan gas argon dengan waktu tahan 0, 1, 2, dan 4 menit dilakukan untuk mengetahui waktu optimum untuk menghasilkan fluiditas yang baik dari logam tersebut. Pengamatan mikrostruktur juga dilakukan dilakukan untuk mengetahui pengaruh kadar hidrogen terlarut terhadap terbentuknya porositas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur tuang (melting) maka nilai fluiditas yang dihasilkan semakin baik dan mengalami optimum pada temperatur 700_C. Hal ini terjadi karena pada temperatur yang lebih tinggi, ikatan atom-atom logam akan semakin lemah sehingga akan meningkatkan mampu alir dari logam aluminium tersebut. Hasil percobaan juga menunjukkan bahwa semakin lama waktu degassing maka nilai fluiditas yang didapat mengalami peningkatan juga. Ini bisa disebabkan oleh luas permukaan sentuh dari aluminium cair yang semakin besar dengan jumlah porositas yang semakin banyak, sehingga aluminium cair akan lebih cepat membeku. Pada mikrostruktur terlihat bahwa semakin lama waktu degassing maka jumlah porositas yang terlihat akan lebih sedikit. Namun untuk peningkatan temperatur tidak terlihat perbedaan yang mencolok diantara mikrostruktur-mikrostrukturnya."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S41660
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lipnitsky, A.
Moscow: Peace Publishers, [date of publication not identified]
620.17 LIP m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Adrianus Ksatria Adiandy Prakoso
"Dalam penelitian ini, dilakukan studi komparatif terhadap tiga material refraktori taphole clay yang berbeda, yaitu produk komersial Duquesne dari Kanada, produk komersial Alusil dari Brazil, dan refraktori taphole clay yang dibuat sendiri dengan bahan penyusun Fire Clay, MgO, dan bahan pengikat minyak tar ( perbandingan 1 : 2 : 1 ). Semua sampel dikeringkan dan juga ada yang dipanaskan sampai dengan temperatur 11000C sebelum dilakukan karakterisasi dengan menggunakan XRD, XRF, PSA, SEM/EDAX, DTA-TGA. Pengujian XRD menunjukan bahwa terjadi transformasi fasa pada ketiga sampel yaitu adanya proses dekomposisi, proses perubahan struktur kristal, dan pembentukan fasa baru.
Hasil pengujian XRF menunjukan hasil yang semi-kuantitatif karena fraksi massa hasil pengujian XRF tidak sesuai dengan hasil perhitungan stoikiometri pada hasil XRD. Pengukuran rata-rata besar distribusi partikel pada ketiga sampel menunjukan bahwa ketiga sampel memiliki ukuran partikel yang relatif kecil yaitu dibawah 6 m. Semakin kecil ukuran partikel material refraktori, maka semakin kecil porositas material refraktori tersebut sehingga sehingga akan memiliki ketahanan korosi yang lebih dari serangan logam cair dan terak. Pada pengujian termal dengan DTA-TGA terhadap ketiga sampel, terdapat reaksi endotermik yang menunjukan adanya proses dehydroxylation atau hilangnya air kristal serta teroksidasinya karbon pada material refraktori yang mengandung bahan pengikat minyak tar dan reaksi eksotermik dimana terjadinya pembentukan fasa baru.

In this research, a comparative study was conducted on three different taphole clay refractories. The taphole clay refractories are Duquesne, commercial product from Canada, Alusil, commercial product from Brazil, and taphole clay refractories made by myself that has composition fire clay, MgO, and tar oil as binder ( with ratio 1 : 2 : 1 ). All the samples were dried and also heat treated up to 11000C prior to characterization by using XRD, XRF, PSA, SEM/EDAX, DTA-TGA. XRD testing showed that the phase transformation occurred in all three samples, i.e. there is decomposition process, changes in the crystal structure, and the formation of a new phase.
XRF testing results showed semi-quantitative result because mass fraction from XRF testing results differ from the results of stoichiometric calculations on the XRD results. The average measurement of the distribution of particles in all three samples showed that all three samples have a relatively small particle size of below 6 m. The smaller the particle size of the refractory material, the smaller the porosity of the refractory material so the material will have a good corrosion resistance against molten metal and slag attack. Thermal testing with DTA-TGA in all three samples showed that there are endhotermic reaction which indicates the dehydroxylation process or loss of crystal water also oxidation of carbon in samples that contain tar oil and exothermic reaction in which the formation of a new phase.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S57905
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>