Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 89494 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ibrahim Tri Kusumo Aji
"Magnesium sulfat merupakan senyawa garam yang banyak terdapat didalam air laut. Kristal ini dalam bentuk hidratnya mempunyai rumus kimia MgSO4.7H2O. MgSO4.7H2O ini dipakai di PT. Risjad Brasali Industri (RBI) - Merak sebagai zat penggumpal pada Acrylonitril Butadiena Styrene (ABS) latex karena merupakan koagulan yang paling ekonomis dibandingkan yang lain.
Proses penggumpalan ABS latex melibatkan campuran antara 3 komponen yaitu koagulan, air, dan ABS latex. Pemakaian magnesium sulfat pada sintesa ABS latex ini harus optimum supaya tidak terjadi masalah untuk proses berikutnya. Sebab bila kebutuhan larutan koagulan kurang dari optimum maka ABS latex yang terjadi akan lembek sehingga akan lengket dan menempel pada dinding dalam tangki, pipa dan pompa.
Sebaliknya bila penambahan larutan koagulan lebih dari optimum maka ABS latex yang terjadi mengeras dan dapat menimbulkan penghambatan pada pipa maupun pompa. Parameter yang mempengaruhi sifat ABS latex adalah Total Solid (TS) yaitu jumlah larutan yang terdapat dalam campuran sebagai viskositas campuran. Oleh karena itu diperlukan optimasi jumlah pemakaian koagulan pada sintesa ABS.
Metode optimasi yang dipakai pada penelitian ini adalah "Trial and Error" dengan salah satu komponennya konstan, sedangkan kedua komponen yang lain dirubah laju alirnya. Parameter optimasi yang dipakai sebagai tolak ukur adalah total solid dari campuran ketiga komponen dalam proses koagulasi yang diambil dari tangki pemasakan. Total Solid dianalisa dengan "metode gravimetri" menggunakan sample. Sedangkan viskositas campuran dianalisa secara visual / penglihatan pada warna ABS latex dan diraba dengan telapak tangan.
Hasil optimasi perbandingan antara ketiga komponen yaitu koagulan, air, dan ABS latex adalah 1: 2,5: 14,5, karena memberikan sifat warna yang putih, tidak Iengket pada tangki, maupun pompa serta centrifuge tidak mengalami vibrasi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2002
S49338
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khairuddin
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1991
S34398
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Radifan Abrar Tahrizi
"Fused depositiom modeling (FDM) menawarkan keuntungan unik menuju manufaktur fleksibel, yang dapat digunakan untuk membuat scaffold dengan geometris kompleks dan struktur internal yang berpori. Untuk meningkatkan kinerja biologis printedscaffold, sangat penting untuk menentukan biomaterial yang sesuai dan sifat mekanisnya yang terikat. Sifat mekanik memiliki peran penting dalam menentukan kinerja scaffold medis, sehingga mempengaruhi kinerja produk medis rekayasa jaringan. Akibatnya, pengaruh parameter printing pada berbagai jenis biopolimer yang berbeda untuk pembuatan scaffold masih bervariasi dan memerlukan pendalaman lebih lanjut. Penelitian yang diusulkan bertujuan untuk mempelajari pengaruh dan kelayakan parameter printing 3D dalam meningkatkan sifat mekanik, sekaligus memahami faktor biologis perancah TEMP (Tissue Engineered Medical Product) berdasarkan bahan biopolimer yang berbeda. Tujuannya adalah langkah awal menuju pemanfaatan pendekatan baru dalam pembuatan TEMP dengan cara yang lebih canggih melalui penggunaan teknik 3D pemodelan deposisi fusi. Penelitian dilakukan dengan membandingkan berbagai kinerja mekanik dan aspek biologis yang sesuai antara ABS (acrylonitrile butadiene styrene) dengan PLA (poly-lactic acid).

Fused deposition modeling (FDM) offers unique advantages for flexible manufacturing, which can be employed to fabricate scaffolds with complex shapes and internal porous structures. To improve the biological performance of printed scaffolds, it is crucial to determine suitable biomaterials and their mechanical attached properties. Mechanical properties have a significant role in establishing the functionality of a medical scaffold, thus affecting the performance of the tissue-engineered medical product. Consequently, the influence of printing parameters in different biopolymer for scaffold manufacturing still varies and require further investigation. The proposed research aims to study the influence and feasibility of 3D printing parameters in improving mechanical properties, while also understanding biological factors of TEMP (Tissue Engineered Medical Product) scaffold based on different biopolymer materials. The aim is an initial step toward utilizing a novel approach in manufacturing TEMP in a more sophisticated manner through employing the fused deposition modeling 3D technique. Research is conducted by comparing various mechanical performances and the corresponding"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rifka Charmelita
"Industri ban menyerap sekitar 80% produksi karet dunia dengan kebutuhan carbon black sebanyak 240.000 ton per tahun. Carbon black (CB) umumnya digunakan sebagai filler karet ban untuk meningkatkan sifat mekanis dan memberikan pigmen warna hitam. Sampai saat ini,70% kebutuhan CB masih diimpor dari China dan India. Lignin TKKS merupakan senyawa aromatik dengan kandungan karbon sebesar 60% yang berpotensi sebagai reinforcing filler karet ban setelah terdekomposisi menjadi biochar. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh karakteristik unsur dan morfologi nano-biochar pada suhu 400, 500, dan 600oC serta memperoleh pengaruh rasio nano-biochar terhadap CB N330 pada sifat mekanis karet ban. Nano-biochar pada setiap suhu dianalisis karakteristik fisika-kimianya. Hasil penelitian menunjukkan yield biochar berkurang seiring dengan meningkatnya suhu pirolisis. Jumlah fixed carbon dan kandungan karbon tertinggi diperoleh pada suhu pirolisis 600oC. Sementara itu, luas permukaan biochar tertinggi diperoleh pada suhu pirolisis 500oC sebesar 86,79 m2/g.  Struktur biochar yang lebih berpori diperoleh pada suhu 600oC. Sifat mekanis karet ban lebih tinggi pada tensile strength, elongation at break, modulus 100%, tear strength, dan hardness diperoleh ketika SBR dicampur dengan filler 25% nano-biochar. Hal ini membuktikan potensi biochar sebagai komplemen karbon CB N330 dalam meningkatkan sifat mekanis karet ban.

The tire industry absorbs about 80% of the world's rubber production with a carbon black requirement of 240,000 tons per year. Carbon black (CB) is commonly used as a tire rubber filler to improve mechanical properties and provide black pigment. Until now, 70% of CB needs are still imported from China and India. Lignin of TKKS is an aromatic compound with a carbon content of 60% which has the potential as a reinforcing filler for tire rubber after being decomposed into biochar. This study aims to obtain the elemental and morphological characteristics of nano-biochar at temperatures of 400, 500, and 600oC and to obtain the effect of the ratio of nano-biochar to CB N330 on the mechanical properties of tire rubber. Nano-biochar at each temperature was analyzed for its physico-chemical characteristics. The results showed that the biochar yield decreased as the pyrolysis temperature increased. The highest amount of fixed carbon and carbon content was obtained at 600oC pyrolysis temperature. Meanwhile, the highest biochar surface area was obtained at 500oC pyrolysis temperature of 86.79 m2/g.  A more porous biochar structure was obtained at 600°C. Higher mechanical properties of tire rubber in tensile strength, elongation at break, 100% modulus, tear strength, and hardness were obtained when SBR was mixed with 25% nano-biochar filler. This proves the potential of biochar as a complement to CB N330 carbon in improving the mechanical properties of tire rubber."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fikri Dhiya Ulhaq
"TKKS memiliki kandungan lignin sebesar 17,8% dengan komposisi karbon sebanyak 44,2%. Komposisi karbon yang tinggi menandakan banyak senyawa aromatik sehingga dapat terdekomposisi menjadi nano-biochar sebagai pengganti material carbon black N-550 untuk dicampurkan pada Styrene Butadiene Rubber (SBR) guna memperkuat kekuatan mekanis ban. Penelitian ini berfokus untuk menginvestigasi pengaruh temperatur proses pyrolysis terhadap yield, komposisi, dan struktur mekanis biochar. Selain itu, penelitian ini juga menginvestigasi pengaruh variasi rasio campuran nano-biochar terhadap carbon black. Hasil penelitian menunjukkan kenaikan temperatur pada pyrolysis lignin menyebabkan nilai yield biochar yang dihasilkan menjadi mengecil, namun meningkatkan nilai fixed carbon content dari biochar. Kenaikan temperatur pada pyrolysis lignin juga menurunkan ukuran partikel nano-biochar, memperbesar volume pori dan meningkatkan area permukaan, serta menyebabkan struktur microporous pada nano-biochar. Properti mekanis nano-biochar sudah menyerupai carbon-blac N-550 dari segi ukuran partikel dan struktur microporous pada permukaan nano-biochar. Selain itu, dari segi kekuatan mekanis vulcanized rubber, komposisi 50% nano-biochar dan 50% carbon black N-550 merupakan variasi yang optimum untuk menghasilkan vulcanized rubber dengan kekuatan mekanis yang baik.

OPEFB has a lignin content of 17.8% with a carbon composition of 44.2%. The high carbon composition indicates that OPEFB contains many aromatic compounds so that they can be decomposed into nano-biochar as a substitute for carbon black N-550 for mixing in Styrene Butadiene Rubber (SBR) to strengthen the tire's mechanical strength. This study focuses on investigating the effect of pyrolysis process temperature on the yield, composition, and mechanical structure of biochar. In addition, this study also investigated the effect of variations in the ratio of nano-biochar mixture to carbon black. The results showed that the temperature increase in lignin pyrolysis caused the yield value of the resulting biochar to decrease. On the other hand, an increase in temperature increases fixed carbon content of biochar. The increase in temperature in lignin pyrolysis also reduces the particle size of nano-biochar, increases the pore volume and increases the surface area up, and causes the microporous structure of nano-biochar. The mechanical properties of nano-biochar already resemble carbon-black N-550 in terms of particle size and microporous structure on the surface of the nano-biochar. In addition, in terms of the mechanical strength of the vulcanized rubber, the composition of 50% nano-biochar and 50% carbon black N-550 is the optimal variation to produce vulcanized rubber with good mechanical strength."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Ardie Nugroho
"Uji koagulasi air limbah batubara dilakukan dengan metode jar test. Percobaan dilakukan dengan membandingkan kinerja koagulan pada variasi pH dan dosis. Koagulan yang dipakai adalah FeCl3, Al2(SO4)3, PAC, dan Nalco 8100. Penentuan kondisi optimal dilakukan dengan variasi derajat keasaman pada pH 5, 6, 7, dan 8 dengan memvariasikan dosis pada tiap pH. Parameter yang diuji adalah turbiditas, pH, TSS dan kandungan logam. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa koagulan yang paling efektif dalam menurunkan kandungan kontaminan adalah Nalco 8100. Kondisi optimal dicapai pada pH 8 dan dosis 1 ppm.

Coagulation Test for coal wastewater was conducted with jar test methode. This research was performed by comparing coagulant activity with pH and dosage variation. Coagulant used in this research are FeCl3, Al2(SO4)3, PAC, dan Nalco 8100. Optimum condition was identified by varying acidity on pH of 5, 6, 7, and 8 with dosage variation on each pH. The parameter tested are turbidity, pH, TSS, and disolved metal. Laboratory test result showed that the most effective coagulant to reduce contaminant substances is Nalco 8100. Optimum condition was reached at pH of 8 and 1 ppm."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51834
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Suranto
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1992
S34527
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dessy Arianty
"Tujuan dari teknik IMRT adalah untuk meningkatkan rasio terapi sehingga mengurangi dosis ke organ beresiko di sekitarnya. Kualitas perencanaan IMRT tergantung pada jumlah dan arah lapangan radiasi yang ditentukan di TPS dengan mengkompromikan waktu proses pembuatan di TPS, waktu penyinaran, dan distribusi dosis yang dihasilkan. Dalam penelitian ini jumlah lapangan perencanaan IMRT untuk kanker prostat, nasofaring, hipofise, dan tiroid ditentukan untuk mencapai optimasi. Perencanaan IMRT untuk pasien kanker prostat, nasofaring, hipofise dan tiroid dilakukan menggunakan TPS PrecisePlan. Tiga set jumlah lapangan dilakukan untuk setiap pasien dengan 3, 5, dan 7 lapangan untuk kanker prostat dan tiroid, serta 5, 7, dan 9 lapangan untuk kanker nasofaring dan hipofise. Berkas radiasi yang digunakan adalah foton 6 MV dan 10 MV. Dari DVH dianalisis conformity index, homogeneity index, dan dosis pada organ beresiko.
Pada penelitian ini didapatkan bahwa nilai conformity index semakin baik dengan penambahan jumlah lapangan radiasi dalam semua kasus. Kecenderungan yang sama terjadi juga untuk homogeneity index. Untuk kanker prostat, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam dosis di buli-buli antara ke-3 set jumlah lapangan. Di sisi lain dosis pada rektum dengan 90%, 75%, dan 50% relatif terhadap dosis preskripsi, volume persentase minimum selalu terjadi pada perencanaan dengan 5 lapangan dibandingkan jumlah lapangan lainnya. Untuk kanker nasofaring ditemukan bahwa dosis pada medullaspinalis semakin baik dengan meningkatnya jumlah lapangan. Tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara dosis di medullaspinalis pada perencanaan dengan 7 dan 9 bidang. Dan didapatkan pula tidak adanya perbedaan yang signifikan dalam dosis pada batang otak dan kelenjar parotis.
Untuk tumor hipofise, dosis di batang otak, mata dan lensa mata didapatkan hasil yang masih dalam batas toleransi pada perencanaan dengan 7 dan 9 lapangan. Untuk kanker tiroid ditemukan bahwa dosis terendah di medullaspinalis terjadi pada perencanaan dengan 5 lapangan. Jumlah lapangan radiasi yang optimal dalam perencanaan IMRT adalah 5 lapangan untuk kanker prostat dan tiroid, dan 7 lapangan untuk kanker nasofaring dan hipofise. Penelitian ini sebaiknya dilanjutkan untuk kasus kanker lainnya.

The purpose of IMRT technique is to increase the therapeutic ratio therefore minimizing the dose to surrounding organs at risk. The plan quality depends on the number and direction of the radiation fields that are selected in compromise with TPS processing time, treatment time, and the resulting dose distribution. In this study the number of fields in IMRT plan for prostate, nasopharyngeal, pituitary, and thyroid cancer were determined in order to reach optimization. IMRT planning for prostate, nasopharyngeal, pituitary and thyroid cancer patients were created using PrecisePlan TPS. Three sets number of fields was performed for each patient with 3, 5 7 fields for prostate and thyroid and 5, 7, 9 fields for nasopharyngeal and pituitary. The treatments used 6 and 10 MV X-rays. From DVH values target dose conformity, homogeneity, and dose at organs at risk were analyzed.
It was found that the conformity index was better with increasing the number of fields in all cases. The same trend happened for the homogeneity index. For prostate cancer, there was no significant difference in the dose to bladder among the 3 sets of fields. On the other hand the dose at rectum with 90%, 75%, and 50% was always occurred at minimum percentage volume for 5 fields relative to the other sets fields. For nasopharyngeal cancer it was found that the dose at spinal cord better with the increasing number of field. But there was no significant difference between the dose at spinal cord on the plan with 7 and 9 fields. And there was also no significant difference in the dose at brainstem and parotid gland.
For pituitary tumor it was found that the dose at organ at risk in the limited tolerance for 7 and 9 fields. And for thyroid cancer it was found that the lowest dose at spinal cord happened in the plan with 5 fields. The optimal number of fields in IMRT planning was 5 fields for prostate and thyroid cancer , and 7 fields for nasopharyngeal and pituitary cancer. This work should be continued for other cases of cancer.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
T29006
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Wiwiek Utami Dewi
"Kitosan merupakan salah satu senyawa turunan kitin yang diperoleh melalui proses deasetilasi. Proses sintesis kitosan dari limbah cangkang kepiting terdiri dari dua tahap yaitu ekstraksi kitin dan transformasi kitin menjadi kitosan. Proses ekstraksi kitin terdiri dari dua proses, yaitu: demineralisasi dengan HCl, dan deproteinasi dengan NaOH. Selanjutnya, kitin ditransformasi menjadi kitosan melalui proses deasetilasi dengan NaOH. Kitosan dapat dimanfatkan untuk berbagai keperluan. Salah satunya yang sedang marak diteliti saat ini adalah pemanfaatan kitosan sebagai penyerap (adsorben) logam berat pada air limbah. Kitosan dapat berfungsi sebagai adsorben terhadap logam dalam air limbah karena kitosan mempunyai gugus amino bebas (-NH2) dan hidroksil yang berfungsi sebagai situs chelation (situs ikatan koordinasi) dengan ion logam guna membentuk chelate. Pada penelitian ini dilakukan optimasi pada dua variabel proses sintesis kitosan yaitu konsentrasi larutan (HCl dan NaOH) dan waktu reaksi. Sedangkan pada proses adsorpsi dilakukan pengujian kemampuan kitosan dalam menyerap logam Cu(II) dengan memvariasikan pH larutan limbah dan waktu kontak penyerapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum proses demineralisasi diperoleh pada konsentrasi HC1 1M selama 1 jam, deproteinasi diperoleh pada konsentrasi NaOH 1M selama 2 jam dan deasetilasi diperoleh pada konsentrasi NaOH 50%(b/v) selama 45 menit. Kitosan yang dihasilkan dengan proses diatas mempunyai kadar abu sebesar 0,660%, kadar protein sebesar 6,769% dan derajat deasetilasi sebesar 52,946%. Kitosan tersebut kemudian digunakan untuk mengadsorp logam Cu (II) pada air limbah. Adsorpsi Cu (II) oleh kitosan mencapai hasil terbaik pada pH larutan 5. Namun dalam penelitian ini belum diperoleh kapasitas adsorpsi maksimum kitosan dan waktu kesetimbangan adsorpsi Cu (II) oleh kitosan."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S49551
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yana Meliana
"Aspal merupakan material yang dipergunakan secara luas, terutama dimanfaatkan sebagai pelapis jalan raya. Hal ini disebabkan karena aspal mempunyai sifat Sebagai bahan perekat dan nempunyai ketahanan yang cukup haik terhadap cuaca, pengaruh kimia ataupun radiasi. W Pada kondisi lalulintas dan temperatur normal aspal pelapis jalan raya biasanya menunjukkan sifat mekanik yang baik. Akan tetapl aspal mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu sangat tergantung pada temperatur lingkungannya, yaitu pada temperatur tinggi aspal merupakan material yang mudah menjadi lunak dan pada temperatur rendah aspal merupakan bahan yang rapuh. Oleh karena sifat tersebut, perkembangan teknologi di bidang modifikasi aspal dengan polimer semakin pesat.
Aspal yang telah dimodifikasi dengan polimer mempunyai sifat mekanik yang lebih baik dibandingkan aspal dasarnya. Dalam penelitian ini dibuat material campuran aspal dan Styrene Butadiene Rubber (SBR), dengan perbandingan 95% dan 5% dan dilihat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pencampurannya, yaitu temperatur dan waktu pencampuran. Kedua taktor tersebut sangat mempengaruhi terhadap pembentukan sistem dispersi aspal dan SBR. Penelitian ini dimulai dengan mengkaji Pblymer Mbdified Asphalt (PMA) produk impor, dan diikuti dengan percobaan pencampuran aspal dengan SBR, serta menguji sifat mekanik dan sifat fisiknya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa material campuran aspal dan SBR mempunyai sifat mekanik yang lebih baik dibandingkan aspal dasarnya."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>