Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 102805 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Adhitia Panduwinata
"Fasade bangunan merupakan bagian dari bangunan yang pertama kali dilihat dan dinikmati oleh orang-orang yang melaluinya. Sehingga, keindahan atau estetika menjadi hal yang sangat penting untuk menjadi pertimbangan dalam perencanaannya. Terutama pada bangunan-bangunan yang diperuntukkan bagi publik, seperti halnya bangunan komersil dan bangunan publik lainnya.
Perencanaan fasade yang memperhatikan prinsip-prinsip estetika akan mampu mengundang orang untuk tertarik dan mendatangi bangunan tersebut. Tentu hal ini akan memberikan keuntungan tersendiri sesuai dengan tujuan dan fungsi dari bangunan tersebut.
Material kaca merupakan elemen yang pada umumnya mendominasi pada fasade bangunan-bangunan komersil dan bangunan publik lainnya. Kaca menghadirkan fungsi sebagai jembatan visual antara ruang luar dan dalam bangunan. Hal ini akan lebih mengundang orang yang melalui bangunan untuk lebih tertarik melihat isi dalam bangunan sebelum memutuskan untuk mendatangi/memasukinya. Untuk itu diperlukan perencanaan fasade kaca yang memenuhi prinsip-prinsip estetika dan selaras dengan fungsi utama bangunan.
Perencanaan fasade kaca merupakan elemen yang tidak terpisahkan dari perencanaan fasade yang menyeluruh dan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri sehingga terdapat kesatuan, keharmonisan, dan keselarasan antara satu dengan lainnya dan juga antar fasade. Prinsip-prinsip perencanaan fasade bangunan tidak terlepas dari prinsip-prinsip estetika. Perencanaan fasade bangunan yang sesuai dengan fungsinya juga harus menghadirkan nilai estetika yang tinggi sehingga ini akan menambah nilai jual sebuah bangunan. Tidak hanya dari segi bentuk dan warna dari materal kaca, tetapi meliputi komposisi kaca dan bidang keseluruhan dari fasade sehingga menghasilkan satu kesatuan pada fasade bangunan.
Pada karya tulis ilmiah ini akan dibahas mengenai prinsip-prinsip estetika pada perencanaan fasade kaca sebagai bagian dari keseluruhan fasade bangunan. Prinsip-prinsip komposisi akan menjadi acuan utama dalam pemaparan teori yang diajukan."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48582
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rhino Akbarinaldi
"Toko merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan barang atau jasa. Fasade merupakan bagian dari bangunan yang dilihat pertama kali dari jalan. Apabila dihubungkan dengan toko, fasade memberi impresi pertama kepada calon konsumen. Impresi pertama ini menjadi image yang diasosiasikan pada toko.
Konsumen yang mementingkan image berasal dari kelas menengah ke atas yang tinggal di kota. Mereka duduk pada piramida Maslow di tingkat kebutuhan aktualisasi diri. Dengan sifat setf-absorption, maka mereka akan terus berusaha memenuhi kebutuhannya.
Sifat ini membentuk masyarakat berbudaya kapitalis. Produsen dalam kapitalisme menciptakan kebutuhan palsu yang seolah-olah diperlukan. Image dari kebutuhan palsu merupakan penanda semu yang menutupi fakta-fakta dari kenyataan yang sebenarnya dan menciptakan simulacra sehingga masyarakat akan tenggelam dalam dunia hiper-realitas dimana tidak ada referensi yang jelas kecuali simulacra itu.
Fenomena hiper-realitas dapat dilihat pada fasade bangunan toko. Ada fasade yang diolah agar menyampaikan image secara menyeluruh seperti jenis usaha atau sasaran konsumennya. Ada pula fasade yang diolah dengan bentuk dan warna yang unik dan sedang menjadi trend sehingga memberi kesan pada konsumen tanpa menyampaikan informasi apapun mengenai jenis usaha dan sasaran konsumen. Fasade tanpa referensi ini disebut sebagai fasade hiper-realitas.
Fasade hiper-realitas atau bukan, keduanya menyampaikan image yang berbeda-beda tetapi memiliki tujuan sama yaitu menarik minat konsumennya."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
S48573
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christop M.
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2001
S48254
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erick Budhi Yulianto
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2001
S48245
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Monika Diah Savitri
"Times Square, New York City dan Ginza, Tokyo adalah tempat yang terkenal sebagai kawasan pusat hiburan, karena sebagian besar bangunannya berfungsi sebagai tempat hiburan dan bersenang-senang, seperti gedung pertunjukan (Broadway di Times Square dan Kabuki di Ginza), pusat perbelanjaan, restoran, caf_s, bars, dan lain-lain. Selain itu, yang menarik adalah ketika melalui jalan-jalan di kawasan tersebut, terasa atmosfer ruang kota yang meriah dan heboh, serta terasa sangat khas dan berbeda dengan ruang kota lainnya. Kemeriahan dan kehebohan itu tercipta dari kehiruk-pikukan manusia dengan berbagai aktivitasnya, serta dari tampilan ruang kotanya yang begitu heboh dengan warna-warni dan gemerlap cahaya yang berasal dari muka-muka bangunannya. Warna-warni dan gemerlap cahaya tersebut mampu menarik mata manusia, sehingga dapat menimbulkan perasaan antusias dan kegembiraan yang mengebu-gebu ketika mengalami ruang kota tersebut, dan menunjang aktivitas bersenang-senang di dalamnya. Penulisan ini memaparkan faktor-faktor arsitektural yang dapat meningkatkan kemenarikan sebuah ruang kota yang peruntukannya sebagai tempat hiburan, seperti yang terdapat pada jalan-jalan di Times Square, New York City dan di Ginza, Tokyo, terutama faktor-faktor fisik berupa profil-profil penarik mata yang terdapat pada muka bangunan. Bagaimana penataan wujud dan letak profil-profil tersebut agar dapat ?dinikmati? manusia juga menjadi pembahasan di dalam penulis ini.

Times Square, New York City and Ginza, Tokyo are places known as an entertainment district, because many of its buildings are used as places for fun and pleasure, such as theater (Broadway in Times Square and Kabuki in Ginza), shopping centers, restaurants, caf_s, bars, etc. Be sides that, it?s interesting when going through its streets, the atmosphere of the urban spaces felt exciting and extravagant, very unique and different from the other urban spaces. The excitement and extravagance are emerged from the uproar of people?s activities, and also from the appearance of its urban spaces which are excessive with colors and gleaming lights that come from the building?s front face. Those colors and gleaming lights are able to engage the people?s eyes which created the feeling of enthusiasm and excitement when experiencing those urban spaces, and also support the pleasure activities inside. This writing explains the architectural factors that can increase the amusement of urban space which its purpose are for entertainment place, as in Times Square, New York City and Ginza, Tokyo, especially physical factors, which are profiles that engage the eyes attach to the building?s front face. The ordering of its appearance and placement, so it can be enjoyed by people, is also mentioned in this writing."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S48376
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christina Eviutami Mediastika
Jakarta: Erlangga, 2005
690 CHR a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Fajar Triantoro
"Bangunan bersejarah selalu dihadapkan pada permasalahan dua kepentingan. Pada satu pihak menginginkan pelestarian untuk menjaga pesan sejarah yang dimilikinya. Di pihak lain menginginkan perubahan agar sesuai dengan perubahan nilai yang berlaku di masyarakat. Karenanya untuk mengatasi pertentangan ini diperlukan suatu adaptasi, yang salah satunya adalah dengan penambahan/perubahan fungsi bangunan. Namun adaptasi ini mengakibatkan suatu konflik identitas, yang kita bisa lihat dari fasade bangunannya. Mengingat pentingnya peranan fasade dalam pembentukan identitas suatu bangunan. Untuk itu dipehukan suatu kaidah dalam pengolahan fasade bangunan. Selain dengan menggunakan kaidah yang dipakai pada pengolahan fasade bangunan secara umum, juga diperlukan penggunaan kaidah lain untuk mempertahankan karakter dari bangunan asli. Salah satunya dengan membentuk hubungan antara bangunan baru dengan bangunan asli. Baik kaidah yang dipakai pada pengolahan fasade bangunan secara umum, maupun kaidah dalam pengolahan fasade bangunan bersejarah keduanya memperhatikan hal-hal yang relatif sama. Yang membedakan diantara keduanya adalah penkanan yang dilakukan.

Historical building is always facing by two problems of importance. At one side the continuation of the building makes the priority to take care the history message on it. At the other side, need for changes in order to keep the value in society. Hence to overcome these conflicts, adaptation is needed, by adding or changing the building function. But this kind of adaptation has resulted an identity conflict, which we can see it from its building facade. Considering the importantance of the building facades, as the identity or the building image. For that kind of conflict, it needs a method of progress to the building facades. Beside using this method of general building facade, it also need another method used to keep the character from original building. One of them is by building relations between new building with original building. Whether the general method of processing building facade or the processing of historical building facade, basically, both of them consider the same thing. The differences is just about the main point."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S48534
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Budiarti Prananingrum
"ABSTRAK
Keindahan dan estetika pada fasad merupakan hal yang harus diperhatikan dalam merancang sebuah bangunan, karena fasad merupakan bagian bangunan yang pertama kali dilihat dan dinilai oleh orang yang melewati bangunan tersebut. Sebagai bangunan yang mempunyai nilai dagang tinggi, perancangan fasad sangat penting pada bangunan pusat perbelanjaan, karena fasad harus dapat menarik perhatian orang untuk masuk ke dalamnya, sehingga dapat memberikan keuntungan, baik bagi pemilik maupun pengelola bangunan.
Perancangan fasad bangunan pusat perbelanjaan tidak hanya meliputi penataan bentuk bukaan, elemen dekorasi atau omamentasi dengan bentuk dan warna yang berbeda, tapi juga meliputi penataan reklame, yang merupakan identitas dan sarana iklan bagi tiap-tiap toko yang ada di dalam bangunan.
Reklame sebagai representasi dari tiap-tiap toko menampilkan ciri khas, baik berupa tulisan, gambar maupun wama dari masing-masing toko. Adanya keragaman atau variasi dari reklame seharusnya tidak menjadikan fasad kehilangan nilai estetisnya. Kedua elemen tersebut, fasad dan reklame, secara bersama-sama harus dapat memberikan kesan atau citra yang baik pada publik, dan dapat tetap menarik bagi orang yang melewati bangunan tersebut.
Pada skripsi inilah akan dipaparkan dan dibahas mengenai estetika perletakan reklame pada fasad bangunan. Prinsip-prinsip desain klasik akan digunakan sebagai dasar pembahasan penaiaan reklame tersebut, dengan pertimbangan prinsip-prinsip tersebut telah dan masih digunakan dalam merancang bangunan, dan telah menghasilkan karya arsitektur yang tetap indah sampai sekarang.

"
2001
S48266
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Merilira Indra Kirana
"Fokus utama skripsi ini adalah pembahasan fenomena masyarakat konsumer yang mengubah semua aspek kehidupan manusia menjadi objek konsumsi, dimana nilai-tanda dan nilai-simbolik mendominasi. Dominasi nilai-tanda kemudian menghasilkan suatu kebutuhan palsu yang dikenal dengan sebutan hyper-reality. Pada tempat perbelanjaan shopping street, fasade pertokoannya mengemban tugas berat dalam - merayu - dan - memilih - konsumen sebagai aparat nilai-tanda. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian teori dan literatur dari berbagai media, dan studi kasus menggunakan metode kualitatif dalam menganalisis. Hasil penulisan membuktikan bahwa fasade shopping street turut serta dalam pembentukan hyper-reality. Akan tetapi hyper-reality tersebut ditonjolkan Ginza dan Paris Van Java dalam hal yang berbeda.

The profound focus of this thesis is to bring a discussion about consumer society phenomenon that has changed the entire human life aspects into objects for consumption, where sign-value and symbolic-value dominating. The domination of sign-value will then generate a fake demand which known as hyper-reality. In shopping street, the shops fa_ade shoulders heavy tasks in order to persuade and choose consumer as to sign-value. The research methodologies employed in this thesis are theoretical studies and literatures from various media, and case studies based on qualitative method in analysis. The outcome reveals that shopping street fa_ade takes part in forming hyper-reality. However, this hyper-reality as in Ginza and Paris Van Java are pictured in different ways."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51582
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>