Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 63399 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Khairuddin
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1991
S34398
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Suranto
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1992
S34527
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Ardie Nugroho
"Uji koagulasi air limbah batubara dilakukan dengan metode jar test. Percobaan dilakukan dengan membandingkan kinerja koagulan pada variasi pH dan dosis. Koagulan yang dipakai adalah FeCl3, Al2(SO4)3, PAC, dan Nalco 8100. Penentuan kondisi optimal dilakukan dengan variasi derajat keasaman pada pH 5, 6, 7, dan 8 dengan memvariasikan dosis pada tiap pH. Parameter yang diuji adalah turbiditas, pH, TSS dan kandungan logam. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa koagulan yang paling efektif dalam menurunkan kandungan kontaminan adalah Nalco 8100. Kondisi optimal dicapai pada pH 8 dan dosis 1 ppm.

Coagulation Test for coal wastewater was conducted with jar test methode. This research was performed by comparing coagulant activity with pH and dosage variation. Coagulant used in this research are FeCl3, Al2(SO4)3, PAC, dan Nalco 8100. Optimum condition was identified by varying acidity on pH of 5, 6, 7, and 8 with dosage variation on each pH. The parameter tested are turbidity, pH, TSS, and disolved metal. Laboratory test result showed that the most effective coagulant to reduce contaminant substances is Nalco 8100. Optimum condition was reached at pH of 8 and 1 ppm."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S51834
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"PENGARUH PENAMBAHAN KOAGULAN TERHADAP EFISIENSI PENURUNAN JUMLAH BAKTERI INDIKATOR PENCEMAR DALAM SISTEM PENGOLAHAN AIR BERSIH Ignasius D.A. Sutapa Pusat Penelitian Limnologi-LIPI E-mail: ignasdas@yahoo.co.id Diterima redaksi : 12 Juni 2013, disetujui redaksi : 6 November 2013 ABSTRAK Salah satu penentu kualitas air terdapatpada sistem pengolahan air baku menjadi air produksi. Proses pengolahan air bersih terdiri dari beberapa tahap diantaranya koagulasi-flokulasi, sedimentasi dan filtrasi dalam mengurangi jumlah bakteri indikator pencemar. Pada penelitian ini zat yang berperan sebagai koagulan ialah Poly Alumunium Clorida (PAC) pada konsentrasi 25 mg/l.Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Juli 2009.Tujuan dari penelitian ini menentukan pengaruh penambahan koagulan terhadap efisiensi penurunan bakteri indicator pencemar dalam system pengolahan air bersih. Dua jenis bakteri yang dipantau adalah Escherichiacolidan Coliform. Berdasarkan uji kualitas air menunjukkan pengaruh yang signifikan dari penambahan PAC terhadap jumlah bakteri indicator pencemar. Jumlah bakteri Coliform air baku sebesar 252 koloni/100 ml turun menjadi 12 koloni/100ml. Sementara jumlah E. coli turun dari sekitar238 koloni/100ml menjadi 8 koloni/100ml. Dari data tersebut diperoleh nilai efisiensi penurunan 95,2 persen untuk Total Coliform dan 96,6 persen E.Coli."
551 LIMNO 20 (1-2) 2013
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Ibrahim Tri Kusumo Aji
"Magnesium sulfat merupakan senyawa garam yang banyak terdapat didalam air laut. Kristal ini dalam bentuk hidratnya mempunyai rumus kimia MgSO4.7H2O. MgSO4.7H2O ini dipakai di PT. Risjad Brasali Industri (RBI) - Merak sebagai zat penggumpal pada Acrylonitril Butadiena Styrene (ABS) latex karena merupakan koagulan yang paling ekonomis dibandingkan yang lain.
Proses penggumpalan ABS latex melibatkan campuran antara 3 komponen yaitu koagulan, air, dan ABS latex. Pemakaian magnesium sulfat pada sintesa ABS latex ini harus optimum supaya tidak terjadi masalah untuk proses berikutnya. Sebab bila kebutuhan larutan koagulan kurang dari optimum maka ABS latex yang terjadi akan lembek sehingga akan lengket dan menempel pada dinding dalam tangki, pipa dan pompa.
Sebaliknya bila penambahan larutan koagulan lebih dari optimum maka ABS latex yang terjadi mengeras dan dapat menimbulkan penghambatan pada pipa maupun pompa. Parameter yang mempengaruhi sifat ABS latex adalah Total Solid (TS) yaitu jumlah larutan yang terdapat dalam campuran sebagai viskositas campuran. Oleh karena itu diperlukan optimasi jumlah pemakaian koagulan pada sintesa ABS.
Metode optimasi yang dipakai pada penelitian ini adalah "Trial and Error" dengan salah satu komponennya konstan, sedangkan kedua komponen yang lain dirubah laju alirnya. Parameter optimasi yang dipakai sebagai tolak ukur adalah total solid dari campuran ketiga komponen dalam proses koagulasi yang diambil dari tangki pemasakan. Total Solid dianalisa dengan "metode gravimetri" menggunakan sample. Sedangkan viskositas campuran dianalisa secara visual / penglihatan pada warna ABS latex dan diraba dengan telapak tangan.
Hasil optimasi perbandingan antara ketiga komponen yaitu koagulan, air, dan ABS latex adalah 1: 2,5: 14,5, karena memberikan sifat warna yang putih, tidak Iengket pada tangki, maupun pompa serta centrifuge tidak mengalami vibrasi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2002
S49338
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Komalasari
"Tenaga kerja sebagai sumber daya manusia memiliki peranan yang sangat besar dalam pelaksanaan konstruksi. Keberhasilan suatu proyek sangat ditentukan oleh pengendalian tenaga kerja. Sistem manajemen yang kurang baik akan menyebabkan terjadinya penyimpangan (variance) biaya proyek, khususnya biaya tenaga kerja. Pengendalian biaya tenaga kerja dilakukan dengan pengukuran kemajuan pekerjaan, evaluasi terhadap pekerjaan, serta rekomendasi tindakan koreksi (corrective action) terhadap penyimpangan yang terjadi. Tujuan dari pengendalian biaya tersebut adalah mengusahakan agar segala aktual kegiatan proyek sesuai dengan rencana awal proyek. Pelaksanaan tindakan koreksi ini sangat bergantung pada penyebab dan dampak terjadinya penyimpangan (variance). Pada penelitian sebelumnya telah diidentifikasi penyebab dan dampak penyimpangan biaya tenaga kerja serta tindakan koreksi yang dapat diambil untuk mengatasinya. Dalam merekomendasikan tindakan koreksi tersebut diperlukan langkah-langkah yang jelas. Penelitian lanjutan ini bertujuan untuk mendapatkan langkah-langkah yang perlu diambil dalam melaksanakan tindakan koreksi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Delphi. Metode ini digunakan untuk menjaring informasi dari para pakar yang ahli dibidangnya khususnya dalam manajemen tenaga kerja pada proyek pembangunan gedung bertingkat. Dengan metode ini telah didapatkan langkah-langkah tindakan koreksi yang berbeda-beda dari setiap pakar, sehingga dilakukan analisis dan diambil pendapat yang memiliki frekuensi tertinggi dari masing-masing langkah-langkah tersebut serta dilihat kecocokan antara langkah-langkah dengan tindakan koreksinya. Hasil temuan ini akan digunakan untuk melengkapi software Expert Corrective Action dan Neural Network yang dapat membantu memudahkan dalam pengambilan keputusan.

Labor as a human sources has a big role in construction. The successful of a project mostly depend on labor controlling. Unsuccessfull in system management can cause variance in project cost, especial the laborcost. Labor cost control can be done by measuring the work progress, evaluating the work and recommended tfie corrective action to the variance happens. The aim of the cost control are make all the actual project work similar to the beginning project plan. Tne realization of the corrective action is depend on the cause dan the impact which causes the variance. In the previous research, the cause and the impact of labor cost variance already be identify, and the corrective action which can be taken to overcome the cause and the impact. In the recommended corrective action stiff needed lots of obvious steps. This sequel research aim to get some steps that must be done to realize the corrective action above. Delphi method is being used for this research. This method used to net much information from tfie expert especially in labor management for high rise building. With this method, some different steps for the corrective action wiffbe get from more than one expert, so analyzing must be done. The opinion chosen is one with the highest frequency from each steps and fit in with the corrective action. The research result will be used to complete the Expert Corrective Action and Neural Network Software which can help to make easier for decision makping."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
S34257
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gian Ratulangi Bhumindra
"Limbah padat lumpur IPA Pejompongan I dan II dari proses koagulasi-flokulasi-sedimentasi sampai saat ini dibuang ke sungai Krukut dan memiliki potensi untuk mencemarkan sungai tersebut. Studi pemanfaatan kembali lumpur IPA Pejompongan I dan II sebagai koagulan dilakukan untuk mengurangi residu yang dibuang ke sungai. Dalam penelitian penggunaan kembali lumpur sebagai koagulan yang dilakukan adalah menentukan kondisi terbaik yang dibutuhkan agar lumpur dapat digunakan sebagai koagulan. Metode jartest digunakan untuk mengaetahui kondisi optimum dan efisiensi pemakaian kembali lumpur. Kandungan aluminium merupakan senyawa yang sangat vital dan pemulihan aluminium dilakukan dengan pengeringan dan kalsinasi sampel lumpur terlebih dahulu.
Kondisi optimum untuk sampel lumpur IPA Pejompongan I dan II dengan dosis sebesar 9,01 dan 7,5 mg dengan kecepatan pengadukan cepat 140 dan 100 rpm selama 1 menit, lalu kecepatan pengadukan lambat sebesar 20 rpm selama 15 menit dan sedimentasi selama 60 menit. Efektivitas pemakaian lumpur sebagai koagulan untuk sampel I adalah sebesar 97,73 % dan sampel II sebesar 98,19 %. Hasil pemakaian dapat mencapai baku mutu kekeruhan yang telah ditetapkan pada Permenkes No. 492/menkes/per/iv/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum yaitu 5 NTU sedangkan kekeruhan yang diperoleh adalah sebesar 4 NTU untuk kedua sampel. Hal ini membuktikan bahwa pemakaian kembali lumpur IPA Pejompongan I dan II sebagai koagulan dapat dilakukan.

Sludge residu from coagulaton-flocculation-sedimentation process of Pejompongan I and II water treatment plant, have been disposed at Krukut river until the present day and the residue may be a threat of pollution to the river. Studies of reusing the sludge residu of Pejompongan I and II water treatment plant as a coagulant may decrease the amount of residu which are disposed at the river. In the study of reusing sludge as a coagulant, the search of the optimum conditions of the sludge is needed to be done by using jar test methode. Aluminium recovery is the vital core of this study, where to recover the remaining aluminium in the sludge residu, dewatering and calcination treatment has to be implemented to the sample.
The optimum condition for the sludge sample from Pejompongan I and II is 9,01 and 7,5 mg dosage of the sample with a fast mixing rate of 140 and 100 rpm for 1 minute and slow mixing rate of 20 rpm for 15 minutes then 60 minutes of sedimentation for settling. Effectivity of sludge reuse as a coagulant for sample I (Pejompongan I) is 97,73 % and sample II (Pejompongan II) IS 97,73 %. The result of the usage of the sample has reached the standard of turbidity which is stated by Permenkes No. 492/menkes/per/iv/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum with the standard of 5 NTU, where as turbidity obtained is equal to 4 NTU for both samples. The reuse of sludge residu from Pejompongan I and II water treatment plant as a coagulant has been proven successful.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S65026
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Dachyar
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1993
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Maylina Chandra Puspita
"Krisis air bersih yang terjadi akibat pencemaran air mendorong dilakukannya suatu upaya pengolahan air untuk mendapatkan air bersih, salah satunya adalah dengan proses filtrasi. Namun, adanya fouling factor dan ketidakstabilan dari fluks menyebabkan kemampuan membran untuk menyeleksi zat yang melewatinya menjadi berkurang, sehingga kualitas hasil filtrasi menjadi tidak stabil dan cenderung menurun. Untuk mengatasi masalah tersebut, air perlu dipretreatment dengan proses koagulasi sebelum memasuki membran. Pada penelitian kali ini, tiga jenis koagulan yaitu aluminium sulfat, polialuminium klorida, dan polialuminium silikat klorida dengan variasi dosis, yaitu 10, 30, 50, dan 70 ppm diuji dan dibandingkan untuk mendapatkan jenis dan dosis koagulan yang paling efektif untuk meningkatkan kualitas air berdasarkan parameter total dissolved solid, kekeruhan, dan pH. Efektifitas koagulasi dan kinerja membran filtrasi meningkat dengan penambahan koagulan polialuminium silikat klorida dengan dosis 50 ppm. Efektifitas koagulasi pada koagulan ini berdasarkan penurunan total dissolved solid sebesar 49.16 % dan kekeruhan sebesar 64.29%. Hasil akhir dari pengolahan air dengan koagulan polialuminium silikat klorida 50 ppm yang dipadu dengan proses ozonasi dan filtrasi menghasilkan air dengan pH 6.95, total dissolved solid sebesar 8.06 ppm dengan penurunan total sebesar 87.90% dan kekeruhan sebesar 0 FAU dengan penurunan total sebesar 100%.

Clean water crisis caused by water pollution prompted a water treatment efforts to get clean water, one of them by filtration process. However, the presence of fouling factor and flux instability cause a membrane's ability to select the substances that pass through it become less, so the quality of filtration result becomes unstable and tends to decline. To overcome these problems, the water need to be pretreated by coagulation process before entering the membrane. In this research, three types of coagulant are aluminum sulphate, polyaluminium chloride, and polyaluminium silicate chloride with varied dose of 10, 30, 50, and 70 ppm were tested and compared to getting the type and dose of coagulant that is most effective to improve the water quality based on total dissolved solid, turbidity and pH parameters. Coagulation effectivity and membrane filtration performance increase with the addition of polyaluminium silicate chloride coagulant at a dose of 50 ppm. Coagulation effectivity of this coagulant based on reduction of total dissolved solid of 49.16% and turbidity of 64.29%. The final result of water treatment with polyaluminium silicate chloride coagulant at 50 ppm combined with ozonation and filtration process produce water with a pH of 6.95, total dissolved solid of 8.06 ppm with total reduction of 87.90% and the turbidity of 0 FAU with total reduction of 100%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S62936
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>