Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 29517 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Driyanti Rahayu
"Material organik dalam batuan sumber hidrokarbon mengalami
transfomrasi membentuk hidrokarbon. Transformasi ini berupa perubahan struktur
dan komposisi kimia material organik di bawah pengaruh temperatur dan waktu.
Proses pembentukan hidrokarbon tersebut merupakan proses kematangan material
organik.
Kematangan tennal material organik pada batubara diamati, melalui
simulasi dengan metode hydrous pyrolysis pada sampel batubara Fonnasi
Brenggang, Gombong, Jawa Tengah. Metode ini digunakan untuk memperoleh
pirolisat yang memiliki karakteristik sesuai dengan produk dari proses pembentukan minyak bumi di alam. Simulasi kematangan teraial pada sampel
batubara ini dilakukan dengan variasi temperatur 250°C, 300 °C, dan 320 °C.
Dua gram sampel batubara dimasuklcan ke dalam stainless steel bomb
bersama 10 mL air deionisasi dan dialirkan gas N, inert. Kemudian sampel
dipanaskan selama 72 jam untuk setiap temperatur pemanasan. Produk dari setiap
sampel dianalisis dengan Icromatografi gas, penentuan karbon organik total, dan
pirolisis rock-eval untuk melihat perubahan komposisi material organik yang
terjadi akibat proses kematangan termal.
Dari simulasi ini dapat dilihat bahwa proses kematangan tennal terjadi
dengan penambahan temperatur pemanasan. Hasil simulasi juga menunjukkan
bahwa sampel batubara Formasi Brenggang merupakan batuan sumber
hidrokarbon yang potensial dengan kandungan material organik kerogen Tipe III
yang diperoleh dari kontribusi tumbuhan tingkat tinggi dan alga sebagai produk
sekunder"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1999
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Rifky Fayuzar
"

Estimasi sumber daya merupakan salah satu tahap penting dalam kegiatan eksplorasi batu bara karena bertujuan untuk menilai kuantitas dan kualitas batu bara pada suatu daerah. Lokasi daerah penelitian berada di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Lapisan batu bara pada daerah penelitian berasal dari Formasi Muara Enim yang merupakan salah satu formasi pembawa-batu bara di Cekungan Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran lapisan batu bara pada daerah penelitian dan melakukan komparasi terhadap hasil estimasi ketebalan lapisan batu bara yang dilakukan dengan metode nearest neighbor, inverse distance weighting, ordinary kriging, dan radial basis function. Setiap metode memiliki pendekatan dan parameter yang berbeda-beda dalam melakukan estimasi ketebalan batu bara. Setelah didapatkan hasil estimasi ketebalan lapisan batu bara pada setiap metode, selanjutnya dilakukan komparasi menggunakan quantile-quantile plot dan swath plot untuk melihat metode yang paling akurat dalam melakukan estimasi ketebalan lapisan batu bara. Dari hasil quantile-quantile plot yang dilakukan, frekuensi hasil estimasi dengan metode inverse distance weighting dan ordinary kriging mendekati frekuensi secara teoritis dan dari hasil Swath Plot menunjukkan bahwa trend nilai rata-rata hasil estimasi ketebalan lapisan batu bara pada metode inverse distance weighting dan ordinary kriging memiliki kemiripan dengan trend nilai rata-rata data bor. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode inverse distance weighting dan ordinary kriging memiliki tingkat keakuratan yang lebih baik dibandingkan metode nearest neighbor dan radial basis function dalam melakukan estimasi ketebalan batu bara di daerah penelitian.

 


Resource estimation is one of the important stages in coal exploration activities because it aims to assess the quantity and quality of coal in an area. The location of the research area is in Muara Enim Regency, South Sumatera Province. The coal seam of the research area is derived from the Muara Enim formation which is one of the coal-bearing formations in the South Sumatera basin. This research aims to determine the coal seam distribution in the research area and comparing the result of the coal thickness estimate by nearest neighbor, inverse distance weighting, ordinary kriging and radial basis function methods. Each method has different approaches and parameters to estimate the thickness of coal seam. After the result of the estimation of coal seam thickness in each method, the comparison is carried out using quantile-quantile plot and swath plot to see the most accurate method of estimating coal seam thickness. From the results of quantile-quantile plot, the frequency of the estimated results with the inverse distance weighting and ordinary kriging methods is similar to the theoretical frequency and from the results of swath plot, indicates that the average value trend of the estimated results coal thickness with the inverse distance weighting and ordinary kriging methods has similarities to the trend of the average value of drilling data. The results showed that the inverse distance weighting and ordinary kriging methods have a better accuracy than the nearest neighbor and radial basis function methods in performing coal thickness estimation of research area.

 

"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mekkadinah
"Pembangunan dan pertambahan penduduk di Indonesia yang meningkat mendorong peningkatan kebutuhan listrik, yang saat ini masih didominasi pasokan dari sumber PLTU batubara hingga lebih dari 50%. Pengoperasian PLTU batubara menghasilkan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) dengan volume timbulan yang sangat besar, namun pengelolaan limbah FABA ini belum sesuai dengan prinsip tingkatan pengelolaan limbah industri yang mengutamakan daur ulang (recycle). Pemanfaatan sudah dilakukan oleh PLTU, namun hanya mampu mengolah 0,11%. Penelitian ini menganalisis kandungan radionuklida dan komposisi kimia limbah FABA melalui analisis komparatif deskriptif dan analisis cost effectiveness, untuk mendapatkan jenis pemanfaatan dan biaya pengelolaan yang efektif dan mampu meningkatkan pemanfaatan dengan menerapkan circular economy. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan untuk aplikasi sederhana seperti paving block menjadi pilihan paling efektif, dengan biaya pengelolaan Rp295.488,00/ton limbah FABA. Kandungan radionuklida yang kecil dalam FABA, meyakinkan pemanfaatan aman untuk aplikasi konstruksi di masyarakat dengan melibatkan masyarakat, sehingga dapat mendorong pemanfaatan 3.240 ton limbah FABA pertahun yang dikelola oleh 1 kelompok usaha yang beranggotakan 6 orang sebagai penerapan circular economy, dan dapat membuka usaha baru juga peluang kerja bagi masyarakat sekitar PLTU batubara.

Population growth and increased development in Indonesia encourages increased demand of electricity, which is currently still dominated by supply from coal-fired power plants, reaching 50%. The operation of a coal-fired power plant produces fly ash and bottom ash (FABA) waste with a very large volume of generation, but the management of this FABA waste is not in accordance with the principles of industrial waste management that prioritizes recycling. PLTU has recycle the FABA waste, but it is only able to process 0.11%. This study analyses the radionuclide content and chemical composition of FABA waste through descriptive comparative analysis and cost-effectiveness analysis, to obtain the types of utilization and management costs that are effective and able to increase usage by implementing a circular economy. This research reflects the fact that utilization for simple applications such as paving blocks is an effective option, with a management cost of Rp295,488.00/tonne of FABA waste. The small radionuclide content in FABA ensures safe use for construction applications in the community by involving the community, so that it can encourage the use of 3.240 ton per year of FABA with a circular economy and can open new businesses as job opportunities for the community around coal fired power plant. "
Depok: Sekolah Ilmu Lingkungan Uiniversitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Danar Saputro
"Dengan semakin meningkatnya pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara di Indonesia, maka akan menghasilkan peningkatan produksi limbah abu terbang. Dengan menurunnya penyerapan abu terbang ke pemanfaat mengakibatkan meningkatnya biaya pengelolaan abu terbang. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki bisnis proses pengelolaan abu terbang dengan pendekatan rekayasa ulang bisnis proses agar mendapatkan hasil yang signifikan. Aspek perbaikan pada bisnis proses yang baru meliputi teknis, peraturan dan finansial. Dengan bisnis proses yang baru ini, abu terbang dikendalikan kualitasnya untuk memenuhi persyaratan pemanfaat, meminimalisir potensi pencemaran dan rata-rata untuk biaya pengelolaan abu terbang mengalami penurunan dari Rp 238.214,-/ton menjadi Rp. 70.869,-/ton dan apabila produk paving blok tersebut laku dipasaran dengan harga 50% dibawah harga pasar maka akan mendatangkan benefit untuk perusahaan untuk pengelolaan abu terbang sekitar Rp 272.131,-/ton. Abu terbang bukan lagi menjadi limbah namun bisa mendatangkan benefit bagi perusahaan yang mendukung keberlanjutan bisnis Pembangkitan.

The increasing development of coal fired power plants in Indonesia, it will be increased production of fly ash. With the decrease in the absorption of fly ash to the beneficiaries, the cost of managing fly ash increases. This study aims to improve the business process of fly ash management by business process re-engineering in order to obtain significant results. Aspects of improvement in the new business process include technical, regulatory and financial. With this new process business, fly ash is controlled by quality to meet user requirements, minimizing potential pollution and the average cost of managing fly ash has decreased from IDR 238,214/ton to IDR 70,869/ton and if the paving block product is sold at the market at a price of 50% below the market price, it will bring benefits to the company for the management of fly ash around IDR 272,131/ton. Fly ash is no longer a waste but it can bring benefits to companies that support the power generation business sustainability."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teti Hermiati
"Abu terbang merupakan llmbah yang dihasilkan darl pembakaran
batubara yang jumlahnya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya
kebutuhan listrik di Indonesia. Abu terbang mempunyai susunan utama yang
terdiri dari aluminasilikat, mullite (Si2Al60i3) dan kuarsa (Si02) yang
merupakan sumber alumina dan silika yang penting dalam pembuatan zeolit.
Selain itu, abu terbang juga mengandung unsur runutan (trace elements) atau
unsur yang ikut terbawa bersama abu terbang pada saat pembakaran
batubara, dimana umumnya unsur runutan tersebut berupa logam-logam
berat yang dapat menyebabkan keracunan pada makhluk hidup.
Pada penelitian dilakukan pembuatan zeolit dari abu terbang dengan
menggunakan larutan NaOH secara hidrotermal. Modifikasi pada proses
hidrotermal dilakukan dengan menggunakan variasi konsentrasi basa NaOH, waktu dan temperatur pemanasan. Zeolit yang diperoleh pada proses
zeolitisasi abu terbang mengalami perubahan dibandingkan abu terbang
asalnya. Perubahan tersebut dapat dilihat pada basil pengukuran dengan
menggunakan FT-IR dan XRD.
Selanjutnya kadar logam Ni, Pb, Cr, Cd pada zeolit diukur dengan
AAS, diperoleh basil yang lebih kecil dibandingkan pada abu terbang asalnya.
Kadar logam yang tinggi menyebabkan abu terbang digolongkan sebagai
limbah B3.
Kemampuan zeolit dan abu terbang dalam menyerap ion ammonium
f
terlihat pada nilai KTK-nya. Nilai ini semakin meningkat seiring dengan
perubahan abu terbang menjadi zeolit. Nilai KTK untuk abu terbang adalah
13,5459 meq/100 gr sedangkan nilai maksimum KTK diperoleh pada Zeolit 4
yaitu 198,6763 meq/100 gr.
Pengaliran air (leaching) dilakukan untuk melihat kemampuan logam
berat Ni, Pb, Cr, Cd terlepas dari zeolit. Hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa logam berat tersebut sulit terlepas dari zeolit terutama akibat ailran air"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2004
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahzab Muttaqien
"Beton fly ash menjadi salah satu upaya mengurangi emisi GRK. Penggunaan fly ash juga dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi industri beton cair. Masalah dalam penelitian ini adalah tingkat pemanfaatan fly ash di industri beton masih rendah, yaitu 13,30%. Diperlukan kajian keberlanjutan penggunaan fly ash pada produksi beton cair yang ditinjau dari aspek teknis, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis aspek teknis, sosial, ekonomi, dan lingkungan sebagai dasar untuk menyusun strategi beton yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan adalah Life Cycle Assessment dan SWOT Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beton fly ash menghasilkan kuat tekan 9% lebih tinggi dan keuntungan finansial 17,8% lebih tinggi, sementara dampak emisi GRK dapat terreduksi 21,87%. Tingkat keberterimaan beton fly ash 71,97%. Kesimpulan penelitian ini adalah beton fly ash mengurangi dampak emisi GRK dan meningkatkan keuntungan perusahaan, tetapi diperlukan upaya untuk meningkatkan keberterimaan konsumen.

.Fly ash concrete is one of the efforts to reduce GHG emissions. The use of fly ash can also provide economic benefits for the ready mix concrete industry. The problem in this study is the low utilization rate of fly ash while the amount of fly ash generated by coal powerplant is quite high. It is necessary to study the sustainability of the use of fly ash in the production of ready mix concrete in terms of technical, social, economic and environmental aspects. The purpose of this study is to analyze technical, social, economic and environmental aspects as a basis for developing a more sustainable concrete strategy. This study uses a quantitative approach. The method used is Life Cycle Assessment (LCA) and SWOT Analysis. The results showed that fly ash concrete produced 9% higher compressive strength and 17.8% higher financial benefits, while the impact of GHG emissions could be reduced by 21.87%. Acceptability level of fly ash concrete is 71.97%. The conclusion of this study is that fly ash concrete reduces the impact of GHG emissions and increases profits, but an effort is needed to increase consumer acceptance"
Jakarta: Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Candra Agung Pamungkas
"Pemanfaatan fly ash hasil insinerasi sampah sebagai bahan subtitusi agregat halus paving block merupakan solusi sebagai upaya menekan jumlah produksi limbah sampah yang dapat merusak lingkungan. Pada penelitian ini, limbah sampah dimanfaatkan sebagai bahan subtitusi agregat halus untuk paving block dan dilakukan pengujian kuat tekan, uji penyerapan air dan ketahanan aus dengan mengacu terhadap SNI 03-0691-1996. Pada penelitian ini, konsentrasi penggunaan fly ash hasil insinerasi sampah yang digunakan adalah 0, 10, 30, 50, 60, 80 dan 100%. Pada penelitian ini benda uji yang dibuat dengan ukuran paving block 21x10.5x5.5 cm. Tujuan Penelitian ini adalah membuat sebuah produk berupa paving block sesuai dengan standar mutu yang diatur didalam Standar Nasional Indonesia (SNI) dan guna menekan jumlah limbah hasil pembakaran sampah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan eksperimen yang meliputi perencanaan, trial mix, analisis kebutuhan material, pembuatan benda uji, pengujian paving block, dan analisis hasil terhadap SNI 03-0691-1996 serta analisis terhadap hasil uji XRF dan XRD. Hasil kuat tekan tertinggi terdapat pada variasi FA 10% dengan nilai 5.20 Mpa, Penyerapan air terbaik pada variasi FA 0% dengan nilai penyerapan 12.53%, dan Nilai ketahanan aus terbaik dengan nilai 5,32 mm/menit terdapat pada variasi FA 100%.

Utilization of fly ash resulting from waste incineration as a substitution material for paving block fine aggregate is a solution as an effort to reduce the amount of waste production which can damage the environment. In this study, the waste was used as a substitution material for fine aggregate for paving blocks and was tested for compressive strength, water absorption and wear resistance tests with reference to SNI 03-0691-1996. In this study, the concentrations of fly ash from waste incineration used were 0, 10, 30, 50, 60, 80 and 100%. In this study, the test specimens were made with a paving block size of 21x10.5x5.5 cm. The purpose of this research is to make a product in the form of paving blocks in accordance with the quality standards set out in the Indonesian National Standard (SNI) and to reduce the amount of waste from incineration. This study used a quantitative method with experiments which included planning, trial mix, analysis of material requirements, manufacture of specimens, testing of paving blocks, and analysis of the results of SNI 03-0691-1996 and analysis of the results of the XRF and XRD tests. The highest compressive strength results were found in the 10% FA variation with a value of 5.20 Mpa. The best water absorption was in the 0% FA variation with an absorption value of 12.53%, and the best wear resistance value with a value of 5.32 mm/minute was found in the 100% FA variation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jefry Suwanda
"Dewasa ini, pembangunan bendungan semakin gencar dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Hal tersebut dilakukan baik untuk mengendalikan banjir maupun sebagai infrastuktur pembangkit tenaga listrik. Jenis bendungan yang lazim dikembangkan adalah tipe urugan dengan kriteria khusus yaitu memiliki zona inti kedap untuk mencegah rembesan air dan kegagalan struktur. Zona ini merupakan timbunan material lanau atau lempung dengan permeabilitas rendah yaitu ≤10-5 cm/s, memiliki nilai kuat geser yang baik, dan nilai indeks plastisitas sedang. Eksploitasi material timbunan merupakan isu utama yang terjadi di lapangan karena bedampak signifikan pada biaya dan perizinan lingkungan. Di sisi lain, terdapat fenomena banyaknya limbah fly ash maupun limbah plastik polystrene dengan penanganan yang belum optimal sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Hal tersebut tentunya menjadi faktor yang mendasari penelitian dalam rangka pelestarian lingkungan serta pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan fly ash (FA) dan polystrene berupa EPS Beads sebagai bahan campuran substitusi zona inti kedap pada variasi komposisi yaitu 5%FA, 10%FA, 15%FA, 20%FA dan 25%FA (0,5% EPS berlaku konstan). Hasil pengujian menunjukkan pemanfaatan limbah tersebut dapat memenuhi kriteria zona inti dengan nilai komposisi paling efektif yaitu campuran 20%FA:0,5%EPS.

Nowadays, the Government of Indonesia is aggressively establishing dams to control floods and as power generation infrastructure. The embankment dam type is commonly developed with special criteria of impermeable core zone to prevent seepage and structural failure. This zone has to be an embankment of silt or clay material with low permeability 10-5 cm/s, has a good shear strength value, and a medium plasticity index value. Material exploitation is the main issue due to its significant impact on costs and environmental permits regarding embankment. On the other hand, the abundance of waste such as fly ash and plastic have environmental impacts with suboptimal handling systems. These issues have become research considerations for environmental conservation and sustainable development. This research was conducted by utilizing fly ash (FA) and polystyrene in the form of EPS Beads as a mixture of substituting impermeable core zones at various compositions, which are 5%FA, 10%FA, 15%FA, 20%FA and 25%FA (0.5% EPS constantly applied). The test results show that the utilization of these waste can meet the core zone criteria with the most effective composition value, which is a mixture of 20%FA:0.5%EPS"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitryan Anggrasari
"Penelitian ini membahas mengenai model rheologi yang terjadi pada umur awal beton yang diakibatkan oleh regangan susut yang terjadi, serta bagaimana pengaruh penambahan fly ash terhadap model rheologi pada umur awal beton. Model rheologi merupakan suatu konsep abstrak yang telah diformulasikan untuk mendeksripsikan perilaku material. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan prisma beton 60 MPa berukuran 15 cm x 15 cm x 60 cm berdasakan ASTM C78-94 pada posisi vertikal dan diamati regangan susutnya dengan menggunakan Vibrating Wire Embedded Strain Gage (VWESG) sesaat setelah beton dicor hingga beton berumur 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beton berkinerja tinggi dengan menggunakan fly ash pada umur awal (0 - 24 jam) dapat dimodelkan dengan model rheologi yang terdiri dari lima model yaitu Solidifying Liquid (0 - 1,1 jam), Solidifying Liquid (1,1 - 1,6 jam), Kelvin-Voigt (1,6 - 6,3 jam), Kelvin-Voigt (6,3 - 10,3 jam), dan Kelvin-Voigt (10,3 - 24 jam).

This research discusses rheological models in early age concrete caused by shrinkage strain and the influence of fly ash on the rheological model of early age concrete. Rheological model is an abstract concept that has been formulated to describe material behavior. Three shrinkage specimens made of 60 MPa concrete prism type specimens size of 15 cm x 15 cm x 60 cm and observed by Vibrating Wire Embedded Strain Gage (VWESG) right after the fresh concrete is placed to the mold until the specimens age is 24 hours. The result of this research shows that high-performance concrete using fly ash at early ages (0-24 hours) can be modeled by five rheological models which are Solidifying Liquid (0 - 1,1 hours), Solidifying Liquid (1,1 - 1,6 hours), Kelvin-Voigt (1,6 - 6,3 hours), Kelvin-Voigt (6,3 - 10,3 hours), dan Kelvin-Voigt (10,3 - 24 hours)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
T42911
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Niken Hayudanti Anggarini
"ABSTRAK
Abu terbang adalah salah satu emisi dari PLTU berbahan bakar batu bara yang termasuk sebagai TENORM. Lepasan abu terbang sebagai TENORM dari industri pembangkit listrik berbahan bakar batu bara berpotensi terakumulasi di lingkungan dan meningkatkan laju dosis radiasi lingkungan. Laju dosis radiasi lingkungan di sekitar PLTU Labuan belum terukur padahal dengan mengetahui hal ini dapat menilai dampak negatif lepasan abu terbang pada risiko paparan radiasi eksternal di masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur laju dosis radiasi lingkungan di sekitar PLTU Labuan dan menganalisis pengaruh radius pada laju dosis radiasi lingkungan. Metode penelitian adalah melakukan pengukuran laju dosis radiasi menggunakan alat surveymeter gamma dengan detektor NaI TI jenis eksploranium GR-135 plus. Pengukuran dilakukan sepanjang lokasi grid yang telah ditentukan sebelumnya. Grid mewakili radius dari PLTU, semakin jauh dari PLTU semakin luas grid pengukurannya, grid yang ditentukan adalah sebesar 1x1 km, 3x3 km, 5x5 km, 10x10 km, 15x15 km. Lebih lanjut, pengaruh radius pada laju dosis radiasi diuji menggunakan uji anova. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa rata-rata laju dosis radiasi di sekitar PLTU Labuan sebesar 47,71 4,17 nSv/jam, masih lebih rendah jika dibandingkan rata-rata laju dosis radiasi gamma dari sumber terrestrial yang diterima masyarakat dunia berdasarkan data dari UNSCEAR sebesar 0,48 mSv/tahun 54,79 nSv/jam . Nilai ini juga masih di bawah rata-rata radiasi gamma di Pulau Jawa yang sebesar 0,46 mSv/tahun 52,51 nSv/jam . Penelitian ini juga menunjukkan bahwa radius memiliki pengaruh yang nyata pada laju dosis radiasi lingkungan. Kesimpulan penelitian ini adalah laju dosis radiasi di sekitar PLTU Labuan masih aman dan terdapat pengaruh radius pada rata-rata laju dosis radiasi.

ABSTRACT
Flying ash is one of the emissions from coal fired power plant which is included as TENORM. The fly ash discharge as TENORM from the coal fired power plant industry has the potential to accumulate in the environment and increase the dose rate of environmental radiation. Environmental radiation dose rate around Labuan Power Plant has not been measurable, whereas it can assess the negative impact of fly ash release on the risk of exposure to external radiation in the community. The purpose of this study is to measure the rate of environmental radiation doses around Labuan Power Plant and to analyze the effect of radius on the dose rate of environmental radiation. The research method is to measure radiation dose rate using gamma surveymeter with detector NaI TI type eksploranium GR 135 plus. Measurements are made along the predetermined grid locations. The grid represents the radius of the power plant, the specified grid are 1x1 km, 3x3 km, 5x5 km, 10x10 km, 15x15 km. Furthermore, effect of radius on the rate of radiation dose was tested using anova. The measurement results show that the average rate of radiation dose around PLTU Labuan is 47.71 4.17 nSv hour, still lower than the average rate of gamma radiation dose from terrestrial sources received by the world community based on data from UNSCEAR of 0.48 mSv year 54.79 nSv hr . This average is also below the average of gamma radiation in Java which is 0.46 mSv year 52.51 nSv hr . The study also showed that the radius had a noticeable effect on the dose rate of environmental radiation. The conclusion of this research is the rate of radiation dose around Labuan power plant is still safe and radius effect on average of environmental radiation dose rate aound Labuan Power Plant."
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>