Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 43674 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Universitas Indonesia, 2002
S33731
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diah Kusumaningrum
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1988
S33350
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Safiudin
Bandung: GANACO, 1958
919.26 SAF m
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986
499.28 PEM
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Wibowo
"Hujan sangat besar artinya bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat petani. Kegiatan pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air. Ketersediaan air bagi usaha pertanian sederhana bersumber dad hujan. Lamanya musim hujan akan mempengaruhi ketersediaan air. Pada gilirannya kelangsungan usaha pertanian tergantung pada keberadaan hujan. Jumlah hujan tidak begitu penting, hujan rata-rata umumnya cukup banyak. Namun yang penting bagi mereka adalah kapan musim hujan tiba dan berapa lamanya musim hujan.
Sehubungan dengan itu, usaha-usaha untuk menentukan permulaan datangnya musim hujan dan permulaan datangnnya musim kemarau atau akhir dan musim hujan sangat berarti bagi usaha pertanian. Usaha untuk menentukan mulainya musim hujan dan musim kemarau di Pulau Jawa telah dilakukan oleh de Boer, Schmidt dan van der Vecht yang sedikit berbeda antara satu dengan yang lain.
Pulau Madura telah dilakukan penelitian, tetapi belum seutuhnya. Juga mengingat persyaratan yang dipilih Sandy untuk Pulau Bali yaitu daerahnya tidak luas, unsur-unsur pengendali iklim, seperti topografi sederhana, tutupan titik-titik pengamat hujan cukup merata, dan variasi jumlah hujan cukup lengkap, dari yang rendah hingga yang tinggi. Untuk itu dilakukan penelitian kapan awal, akhir dan berapa lamanya musim hujan di Pulau Madura. Masatahnya adalah; Kapan dan di mana awal musim hujan dan akhir musim hujan di Pulau Madura serta berapa lamanya musim hujan di Pulau Madura, dan bagaimana pola awal musim hujan, akhir musim hujan dan lamanya musim hujan di Pulau Madura?.
Hasil dari penelitian tentang musim hujan di Pulau Madura adalah : Awal musim hujan di Pulau Madura adalah sepuluh had pertama November (1 November), sepuluh had kedua November (2 November), sepuluh had ketiga November (3 November), sepuluh had pertama Desember (1 Desember) dan sepuluh had kedua Desemben (2 Desember). PoIa awal musim hujan di Pulau Madura adalah bagian barat Pulau Madura mendapatkan awal musim hujan lebih dulu dibandingkan dengan bagian yang Iebih ke timur dad Pulau Madura; Akhir musim hujan di Pulau Madura adalah sepuluh had pertama Mei (1 Mei), sepuluh had pertama Juni (1 Juni), dan sepuluh had pertama Juli (1 Juli). Pola akhir musim hujan di Pulau Madura adalah bagian barat Pulau Madura akhir musim hujannya Iebih lambat dari bagian yang lebih ke timur dad Pulau Madura; Lamanya musim hujan di Pulau Madura adalah kurang 150 had (15 dasarian), antara 150 had - 180 had (15 dasarian - 18 dasarian), dan lebih dan 180 had (18 dasarian). Pola lamanya musim hujan di Pulau Madura adalah bagian barat Pulau Madura Iebih lama musim hujannya di bandingkan bagian yang Iebih timur dari Pulau Madura; Pola dan awal, akhir, dan lamanya musim hujan di Pulau Madura mengikuti pola umum curah hujan di Indonesia yaitu tempat yang terletak di sebelah Barat musim hujannya datang lebih dulu dari pada tempat yang Ietaknya lebih ke Timur, pada pulau-pulau dengan rezim barat."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1997
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jessica Stephanie Tulis
"Gempa bumi berkekuatan 4,8 SR pernah terjadi pada 13 Juni 2018 pukul 20.06 WIB di Kabupaten Sumenep, Pulau Madura yang mengakibatkan ratusan rumah warga rusak akibat bencana ini. Agar dampak kerusakan dan kerugian jiwa hingga materiil dapat diminimalisir, diperlukan usaha mitigasi bencana gempa bumi di Pulau Madura dengan melakukan penelitian mengenai kemungkinan munculnya gempa bumi pada tingkat bahaya tertentu dengan metode PSHA (Probabilistic Seismic Hazard Analysis). Metode ini menggunakan mengkombinasikan karakteristik magnitudo, jarak, dan waktu dari riwayat gempa bumi di wilayah penelitian untuk memperkirakan kemungkinan percepatan gerakan tanah maksimum atau PGA yang mungkin terjadi dalam periode ulang tertentu (Dewi et al., 2018). Penelitian ini menggunakan sumber data berupa katalog riwayat gempa Pulau Madura, informasi karakteristik active fault, zona subduction, dan zona background di sekitar Pulau Madura, serta informasi fungsi atenuasi yang sesuai dengan daerah penelitian. Seluruh data telah diproses sedemikian rupa hingga menghasilkan 3 peta PGA di batuan dasar dalam masa guna bangunan 50 tahun dan 1 grafik respon SA dalam periode 4 detik di lokasi kejadian gempa 13 Juni 2018. Peta pertama dengan PoE 10% (periode ulang gempa 475 tahun) memiliki rentang nilai PGA 0,21 – 0,31 g. Peta kedua dengan PoE 5% (periode ulang gempa 975 tahun) memiliki rentang nilai PGA 0,23 – 0,34 g. Peta ketiga dengan PoE 2% (periode ulang gempa 2.475 tahun) memiliki rentang nilai PGA 0,25 – 0,4 g. Peningkatan rentang nilai PGA saat nilai PoE menurun disebabkan oleh semakin panjang periode ulang tahunnya maka semakin banyak gempa bumi dengan magnitudo yang lebih besar dapat muncul. Pada Pulau Madura, peta PGA dengan PoE 2% (periode ulang gempa 2.475 tahun) hasil penelitian memiliki rentang nilai PGA 0,25 – 0,27 g, sedangkan pada peta PGA dengan PoE yang sama milik SNI 1726:2019 memiliki rentang nilai 0,15 – 0,20 g. Jika nilai PGA dengan PoE 2% (periode ulang gempa 2.475 tahun) hasil penelitian di Pulau Madura dikonversi menjadi MMI, maka akan masuk ke intensitas VII (very strong) hingga VIII (severe). Lalu menurut grafik respon SA dalam periode 4 detik di lokasi kejadian gempa 13 Juni 2018, diperlukan revisi kode bangunan nasional SNI 1726:2019 di koordinat riwayat gempa bumi Sumenep pada 13 Juni 2018 dari percepatan tanah spektral tertinggi 0,45 g menjadi 0,61 g. Kedepannya, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan terhadap PGA di Pulau Madura menggunakan informasi kondisi batuan sebenarnya, melakukan pemutakhiran sumber-sumber gempa bumi di sekitar Pulau Madura, melakukan penelitian lanjutan terhadap PGA di Indonesia untuk perbaikan kode bangunan nasional SNI 1726:2019, dan diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi informasi tambahan bagi proses mitigasi bencana gempa bumi di Pulau Madura.

An earthquake of 4.8 Richter Scale occurred on June 13, 2018 at 20.06 WIB in Sumenep Regency, Madura Island, which damaged hundreds of residents' houses as a result of this disaster. To reduce the damage and loss of life to material, it’s necessary to mitigate the earthquake disaster on Madura Island by conducting research on the possibility of earthquakes occurring at a certain hazard level using the PSHA (Probabilistic Seismic Hazard Analysis) method. This method combines the characteristics of magnitude, distance, and time from the history of earthquakes in the study area to estimate the possible maximum ground motion acceleration or PGA that may occur within a certain return period (Dewi et al., 2018). This study uses data sources such as earthquake history catalog of the Madura Island, active faults, subduction zones, and background zones characteristics around Madura Island, and also attenuation function information related to the research area. All data has been processed and produced 3 PGA maps in bedrock with a 50 year building life and 1 SA response graph in a 4 second period at the site of the 13 June 2018 earthquake. The first map with 10% PoE (475 years earthquake return period) has a PGA value range of 0,21 – 0,31 g. The second map with 5% PoE (975 years earthquake return period) has a PGA value range of 0,23 – 0,34 g. The third map with a PoE of 2% (2.475 years earthquake return period) has a PGA value range of 0,25 – 0,4 g. The increase in the PGA range value when the PoE value decreases is caused by the longer the earthquake return period, the more earthquakes with a larger magnitude can occur. On Madura Island, the PGA map with a PoE of 2% (2.475 years earthquake return period) of this study have a PGA value range of 0,25 – 0.27 g, while the PGA map with the same PoE belonging to SNI 1726:2019 has a value range of 0,15 – 0,20 g. If the PGA value with a PoE of 2% (2.475 years earthquake return period) from the research on Madura Island is converted to MMI, the intensity will be VII (very strong) to VIII (severe). Then according to the graph of the SA response for a period of 4 seconds at the location of the 13 June 2018 earthquake, it is necessary to revise the national building code of SNI 1726: 2019 in the coordinates of the Sumenep earthquake history on 13 June 2018 from the highest spectral ground acceleration of 0,45 g to 0,61 g. In the future, it is recommended to carry out further research on PGA on Madura Island using information on actual rock conditions, update earthquake sources around Madura Island, conduct further research on PGA in Indonesia to improve the national building code SNI 1726:2019, and hope that this research can be additional information for the earthquake disaster mitigation process on Madura Island."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moch. Nadjib, YN
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2001
T39597
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Mira Kurniasari
"Perubahan kondisi lingkungan bersifat dinamis termasuk perubahan kuantitas dan kualitas lingkungan. Perubahan lingkungan terjadi akibat aktivitas alam maupun aktivitas manusia. Tidak sedikit aktivitas manusia yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan kerusakan lingkungan. Alam memiliki kemampuan untuk memulihkan perubahan lingkungan yang terjadi, namun perubahan yang sangat besar memungkinkan alam kesulitan untuk melakukan pemulihan.
DAS Citarum adalah sumber air baku utama bagi masyarakat Jawa Barat maupun DKI Jakarta. Kualitas DAS Citarum akan menentukan kualitas sumber air baku tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis pola perubahan kualitas air Citarum yang difokuskan pada parameter BOD5, COD, dan DO serta analisis alokasi industri sebagai suatu altematif antisipasi perubahan kualitas air sungai. Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. Perubahan kualitas air Citarum homogen menurut waktu pengukuran sepanjang tahun 1994 hingga tahun 2000.
2. Ada kecenderungan perubahan kualitas air Citarum menurut waktu sepanjang tahun 1994 hingga tahun 2000.
3. Perubahan kualitas air Citarum homogen menurut lokasi Citarum dari hulu hingga hilir sungai.
4. Ada kecenderungan perubahan kualitas air Citarum menurut lokasi Citarum dari hulu hingga hilir sungai.
5. Ada pengaruh keberadaan waduk kaskade Citarum terhadap perubahan kualitas air Citarum.
6. Ada pengaruh alokasi industri terhadap perubahan kualitas air Citarum.
Pengujian hipotesis tersebut dilakukan dengan menggunakan uji Friedman untuk mengetahui homogenitas perubahan kualitas air menurut perubahan waktu maupun lokasi. Uji Z untuk mengetahui kecenderungan perubahan kualitas air terhadap perubahan waktu maupun lokasi, perhitungan sen slope untuk mengetahui tingkat kecenderungan perubahan kualitas air, serta simulasi model terhadap variasi debit sungai, debit limbah, BOD5 limbah dan jarak dengan menggunakan program dari Perum Jasa Tirta II yaitu First Basic Streeter-Phelps Model.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1. Perubahan kualitas air Citarum tidak homogen menurut waktu pengukuran sepanjang tahun 1994 hingga tahun 2000.
2. Pada Citarum Hulu, kecenderungan perubahan BOD5 dan COD menurun dan perubahan DO menaik. Hal ini dimungkinkan kondisi lingkungan yang masih terpelihara dengan baik. Pada Citarum Hilir, kecenderungan perubahan BOD5 dan COD menaik dan perubahan DO menurun. Hal ini disebabkan adanya peningkatan kegiatan tambak ikan di kawasan waduk, kegiatan industri maupun peningkatan jumlah penduduk.
3. Pada Citarum Hulu, tingkat perubahan COD cenderung lebih besar dari pada BOD5. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan peraturan pengendalian limbah industri cukup efektif menurunkan kadar COD. Pada Citarum Hilir terutama di lokasi bendung Curug, tingkat perubahan COD jauh lebih besar dengan tingkat perubahan BOD5. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kandungan organik yang tidak dapat terurai secara biologis tinggi yang diperkirakan bersumber dari kegiatan industri.
4. Perubahan kualitas air Citarum tidak homogen menurut lokasi Citarum mulai dari hulu hingga hilir sungai.
5. Sebelum waduk kaskade Citarum, kadar BODE dan COD menunjukkan kecenderungan menaik sehubungan peningkatan kegiatan industri. Sepanjang waduk kaskade Citarum, kadar BOD5 dan COD menunjukkan kecenderungan menurun sehubungan dengan proses sedimentasi dan aerasi pada waduk. Setelah waduk kaskade Citarum, kadar BOD5 dan COD menunjukkan kecenderungan menaik sehubungan peningkatan kegiatan industri.
6. Sebelum waduk kaskade Citarum, tingkat peningkatan COD hampir dua kali dari tingkat peningkatan BOD5. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan organik yang sulit terurai yang umumnya bersumber dari kegiatan industri cukup tinggi. Sepanjang waduk kaskade Citarum, tingkat penurunan COD hampir dua kali dari tingkat penurunan BOD5. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan organik yang sulit terurai menurun cukup efektif dengan adanya proses sedimentasi dan aerasi pada waduk. Setelah waduk kaskade Citarum, tingkat peningkatan COD hampir 4 kali dari tingkat peningkatan BOD5. Hal ini menunjukkan peningkatan kegiatan industri sangat tinggi dibandingkan dengan lokasi sebelum waduk kaskade Citarum.
7. Adanya perbedaan yang nyata terhadap kadar BOD5 dan DO pada variasi jarak industri.
Kesimpulan hasil penOlitian ini menunjukkan bahwa:
1. Pola perubahan kualitas air Citarum tidak homogen menurut waktu sepanjang tahun 1994-2000.
2. Kecenderungan perubahan kualitas air Citarum menurut waktu tergantung pada pola pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang berpotensi mempengaruhi kualitas air.
3. Pola perubahan kualitas air Citarum tidak homogen menurut lokasi Citarum dari hulu hingga hilir sungai.
4. Kecenderungan perubahan kualitas air Citarum menurut lokasi tergantung pada kondisi lingkungan dan kegiatan yang berpotensi mencemari lingkungan.
5. Keberadaan waduk kaskade Citarum mempengaruhi perubahan kualitas air Citarum dengan adanya peningkatan kualitas air Citarum setelah waduk kaskade Citarum.
6. Alokasi kegiatan industri mempengaruhi perubahan kualitas air Citarum. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan kadar BOD5 dan DO pada variasi jarak industri.

The Identification and Analysis on The Pattern of Water Quality Fluctuation at CitarumThe changes of environmental condition are dynamic, so are the changes of environmental quantity and quality. Environmental changes are resulted from natural as well as human activities. Many of human activities have caused pollution and environmental damages. Nature has self-recovering ability from any damages. However, nature will have difficulties in recovering from tremendous changes.
Citarum catchments area is the main drinking water source for West Java and Jakarta communities. The quality of Citarum catchments area determines the quality of the drinking water source. This research aims to analyze the pattern of water quality fluctuation at Citarum focusing on the BOD5 and DO parameter while also analysing industrial allocation as an alternative to anticipate the changing of river water quality. Hypotheses used in this research were as follows:
1. There was homogeneity in the changes of water quality at Citarum according to time during the year of 1994 to 2000.
2. Water quality at Citarum had a tendency to change according to time during the year of 1994 to 2000.
3. There was homogeneity in the changes of water quality at Citarum according to location along the upper to the lower stream.
4. Water quality at Citarum had a tendency to change according to location along the upper to the lower stream.
5. The existence of Citarum cascade dam affected the water quality fluctuation at Citarum.
6. Industrial allocation influenced the water quality fluctuation at Citarum.
Those hypotheses were tested using Friedman test to examine the homogeneity in the pattern of water quality fluctuation with the changes of time and location, Z test to examine the trend of water quality fluctuation with the changes of time and location, sen slope calculation to examine the degree of trend of water quality fluctuation; and model simulation with the variation of river flow rate, wastewater flowrate, BCDs level of the wastewater and distance using First Basic Streeter-Phelps Model, a program owned by Perum Jasa Tirta
The research found that:
1. Water quality fluctuation at Citarum was not homogeneous according to time during the year of 1994 to 2000,
2. At the upper stream of Citarum, there was a trend of decreasing BOD5 and COD level and increasing DO level. This possibly because the environmental condition was still well maintained. At the lower stream of Citarum, there was a trend of increasing BOD5 and COD level and decreasing DO level. An increasing fish farming activity at the dam area, increasing industrial activity as well as population growth possibly caused this condition.
3. At the upper stream, the degree of change in COD more than BOD5. It meant that the application of industrial wastewater regulation is effective to decrease COD. At lower Citarum, particularly at Curug dam, the degree of change in COD level change was far more significant than the degree of BOD5 change. It showed the increase of organic content that was not biodegradable possibly came from industrial activities.
4. Water quality fluctuation at Citarum was not homogenous with the changes of location along upper to lower stream.
5. Before Citarum cascade dam, BOD5 and COD tended to increase with the increasing industrial activities. Along Citarum cascade dam, BOD5 and COD level tended to decrease because of sedimentation and aeration process in the dam. After Citarum cascade dam, BOD5 and COD tended to increase with the increasing of industrial activities.
6. Before Citarum cascade dam, the increase of COD level was almost twice the increase of BOD5 level. This showed the relatively high content of organic matter came from industrial activities that were difficult to degrade. Along Citarum cascade dam, COD level decreased with a rate almost twice as BOD5 level. This showed that organic matter that was difficult to degrade decreased quite effectively with sedimentation and aeration process in the dam. After Citarum cascade dam, the rate of COD level increase was almost four times the increase of BOD5 level. This showed that the increase of industrial activities was very high compare to the location before Citarum cascade dam.
7. There are significant difference of BOD5 and DO at variation of distance among industries.
The research concluded that:
1. The pattern of water quality fluctuation at Citarum did not show any homogeneity according to time during the year 1994 to 2000.
2. The trend of water quality fluctuation at Citarum according to time depended on the rate of population and economy growth.
3. The pattern of water quality changes did not show any homogeneity according to location from upper to lower stream.
4. The trend of water quality fluctuation according to location depended on the existing environmental condition and on the activities having a potency to pollute the environment.
5. The existence of Citarum cascade dam affected water quality fluctuation at Citarum as shown by the increase of river water quality after passing the Citarum cascade dam.
6. The allocation of industrial activities influenced water quality fluctuation at Citarum. This was shown by the fluctuation of BOD5 and DO level with the variation of distances from industry.
"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2001
T 3692
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>