Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 14813 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Atiek Nora Nurmala
"Kotamadya Yogyakarta mengalami pertumbuhan penduduk yang
cukup pesat. Pada akhir tahun 1983 jumlah penduduk Kotamadya
Yogyakarta tercatat 408.500 jiwa (Dinas Statistik Kodya
Yogyakarta, 1987) dan pada akhir tahun 1994 jumlah penduduk
Kotamadya Yogyakarta tercatat 459.417 jiwa. Dengan luas 32,5
km , kepadatan penduduk rata-rata 14.136 jiwa per kilometer
persegi dan laju pertumbuhan penduduk setiap tahun sebesar
1,7 11 , maka kebutuhan untuk kehidupan semakin meningkat
diantaranya kebutuhan air. Berdasarkan data PDAM Tirtamarta
Kotamadya Yogyakarta, 42,5% dari jumlah penduduk yang dapat
dilayani kebutuhan air minumnya melalui jasa pelayanan,
sedangkan sisanya didapat dari air tanah.
Dari data tersebut dapat dipastikan bahwa air yang dikonsumsi
berasal dari air tanah. Adanya air dalam tanah suatu daerah
tidak tenlepas dari kondisi geohidrologi, curah hujan, penggunaan
tanah, dan pemanfaatan air tanah oleh daerah tersebut.
Kotamadya Yogyakarta dengan tingkat pertunthuhan yang cukup
pesat, berarti bertambahnya pemukiman penduduk dan saranasarana
lain yang turnbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan
penduduknya. Perkembangan Kotamadya Yogyakarta belum
diinthangi dengan penataan kota secara baik, sehingga banyak
menimbulkan akibat sampingan yang tidak diinginkan. Beberapa
daerah di kota mi ada yang tidak layak untuk dihuni, seperti
daerah dataran banjir dan daerah teras sungai, yang kadangkadang
dilanda banjir. Akibat lainnya adalah pada sistim
pernbuangan linthah, sistim sanitasi yang masih belum baik di
beberapa tempat di Kotamadya Yogyakarta. Berbagai macam
industri juga tumbuh di Kotamadya Yogyakarta, mulai dan
industri besar (aneka industri) dan industri kecil yang
tercatat pada Dinas Perindustrian. Industri tersebut baik
besar maupun kecil sangat potensial untuk menghasilkan limbah
yang dapat mencemari air. Efek samping penataan kota yang
kurang baik dan pertumbuhan yang cepat dengan segala dampaknya,
mengakibatkan penurunan mutu air di daerah kota, termasuk
air tanah.
Penelitian kualitas air tanah secara spatial dan menyeluruh
di wilayah mi belum pernah dilakukan, yang ada adalah data
pengujian sumur-sumur bar dalam dan data pengujian untuk
kasus-kasus tertentu. Semua penelitian tersebut belum dapat meniberikan informasi tentang seberapa jauh peñurunan mutu air
tanah di Kotarnadya Yogyakarta telah terjadi, dan khususnya
hubungannya dengan penggunaan tanah yang ada kaitannya dengan
pertumbuhan penduduk Kotamadya Yogyakarta.
Berdasarkan hal tersebut maka, masalah dalam penelitian mi
adalah : Bagaimana sebaran kualitas air tanah dangkai di
Kotamadya Yogyakarta ? Apakah variabei penggunaan tanah dan
variabel kepadatan penduduk Kotamadya Yogyakarta berpengaruh
terhadap sebaran kualitas air tanah dangkai Kotamadya Yogyakarta
?
Berdasarkan hasil analisis 170 sampel air tanah, maka konsentrash
Daya Hantar Listrik maksimum 895 .umhos/cm dan minimum
236 .umhos/cm, konsentrasi kesadahan total maksimum 338 mg/i
dan minimum 77,3 mg/l, konsentrasi suifat maksimum 250 mg/i
dan minimum 6 mg/i. Atas dasar konsentrasi ketiga unsur yang
diteliti serta mengacu pada baku mutu kualitas air jninum yang
ditetapkan MENKLH, maka di wiiayah penelitian dapat dibedakan
menjadi empat, yaitu : Kuaiitas air tanah sangat baik (konsentrasi
DHL < 350 £ltnhos/cm, konsentrasi kesadahan total < 15
mg/l, konsentrasi sulfat < 145 mg/1), kuaiitas air tanah baik
(konsentrasi DHIJ 350 - 475 umhos/cm, konsentrasj kesadahan
total 15 - 25 mg/l, konsentrasi suifat 145 - 175 mg/i)
kualitas air tanah sedang (konsentrasi DHL1 47€ - .600
Almhos/cm, konsentrasi kesadahan total 26 - 60 mg/l, konsentrasi
sulfat 176 - 210 mg/i), kualitas air tanah buruk
(konsentrasj DHL > 600 Almhos/cm, konsentrasj kesadahan total
60 mg/l, konsentrasi suifat > 210 mg/i)
Kualitas air tanah sangat baik tersebar cukup ivas di sebelah
timur Kotamadya Yogyakarta dan sebagian kecil tersebar di
sebelah utara dan tengah dari wiiayah peneiitian. Kualitas
air tanah baik tersebar di sebagian wiiayah bagian utara,
tengah dan selatan wiiayah peneiitian. Kualitas air tanah
sedang tersebar merata di seiuruh wiiayah peneiitian, begitu
.pula dengan kuaiitas air tanah buruk.
Dari hasil pembahasan didapatkan bahwa baik atau tidaknya
kualitas air minum di Kotamadya Yogyakarta tidak tenlepas
dari pengaruh penggunaan tanah di suatu tempat, dan mi
berarti kepadatan penduduk juga turut mempengaruhi.
Berdasarkan anaiisis peta dapat dikatakan bahwa wilayahwiiayah
dengan kepadatan pemukiman tinggi berkepadatan
penduduk tinggi dan di wilayah hilirnya, mempunyai kualitas
air tanah dengan konsentrasi unsur kimia yang lebih tinggi
dibandingkan dengan wilayah lain. Wiiayah-wiiayah pemukiman
dan wiiayah yang berpenduduk padat ditanibah wilayah iridustri meniberikan volume limbah yang besar. Di samping itu, wilayah
pemukiman relatif lebih kedap air dibanding wilayah
sekitarnya sehingga air hujan yang menjadi limpasan di
wilayah pemukiman lebih besar mengakibatkan tingkat
pengenceran air tanah oleh air hujan berkurang"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1996
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abdul Rozak
Depok: Universitas Indonesia, 1996
S33608
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 1994
S33474
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Wilayah hunian dapat dengan bebas memanfaatkan air tanah
sementara peraturan tentang jarak sumber air bersih dan pembuangan
kotoran manusia yang merupakan salah satu sumber pencemar tidak
diindahkan akibatnya pertumbuhan penduduk yang diiringi dengan
merapatnya jarak antar rumah memicu penurunan kualitas air tanah dangkal.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka permasalahan yang dikemukan adalah
bagaimana kualitas air tanah dangkal pada musim hujan dan kemarau dalam
kaitannya dengan kerapatan rumah dan jarak dari sungai di DKI Jakarta? Cara
mendapatkanya adalah dengan analisis korelasi peta (overlay) dan korelasi
statistik (pearson product moment) untuk melihat korelasi (kaitan) antar
variabel. Hasilnya kerapatan rumah berkorelasi (berhubungan) dengan
kualitas air (parameter bakteri Fecal coli), jadi semakin rapat rumah maka
kualitas air tanah dangkal semakin buruk. Sedangkan jarak sumber air dengan
sungai tidak terbukti berpengaruh terhadap kualitas air.
Kata Kunci : Air tanah dangkal, kualitas air, Fecal coliform, deterjen.
viii+78 halaman+32 tabel+6 grafik+2 gambar+5 lampiran+12 peta
Bibliografi : 19 (1989-2006)"
Universitas Indonesia, 2007
S33831
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Universitas Indonesia, 1999
S33832
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saras Tiara Dayanti
"Penelitian ini mengkaji kandungan konsentrasi fosfat (PO4)-3 dalam airtanah dangkal di Kecamatan Sawangan dan hubungannya dengan variabel, kerapatan
rumah, jarak ke lahan pertanian, jenis batuan, jenis tanah, dan kedalaman muka air tanah. Dalam penelitian ini, jumlah sampel yang digunakan sebanyak 160 titik. Penentuan lokasi titik sampel menggunakan teknik pengambilan stratified random sampling. Banyaknya titik sampel (n) ditentukan berdasar tabel populasi-sampel yaitu minimal 10% dari jumlah grid (N) yang digunakan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 160 titik sampel yang digunakan, 32 titik sampel (20%) memiliki nilai konsentrasi fosfat di atas ambang baku mutu air kelas I. Pola konsentrasi senyawa fosfat makin ke utara, nilai konsentrasi senyawa fosfat semakin tinggi. Hasil uji statistik ANOVA menunjukan bahwa variasi nilai ratarata konsentrasi fosfat sama pada setiap klasifikasi kerapatan rumah, jenis batuan,
jenis tanah, dan kedalaman muka airtanh. Hasil uji Person?s Product Moment menunjukan bahwa jarak antara nilai konsentrasi senyawa fosfat ke lahan pertanian tidak memiliki hubungan yang signifikan. Hubungan yang signifikan terjadi pada hubungan antara kerapatan rumah dengan konsentrasi senyawa fosfat pada jenis tanah latosol merah."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
S33734
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Astuti Puji Mayangsasati
"Kebutuhan masyarakat terhadap airtanah semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk yang terjadi di Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Tanpa disadari ketersediaan airtanah telah mengalami berbagai kendala dalam standar baku mutunya, salah satunya dilihat dari konsentrasi senyawa besi. Pengukuran dilakukan di 160 lokasi sampel yang digabungkan dengan pengolahan peta meliputi penggunaan tanah, ketinggian, jenis batuan, jenis tanah, dan kedalaman muka airtanah, serta interpretasi citra Landsat untuk identifikasi kandungan besi dalam tanah. Penelitian ini mengkaji pola sebaran konsentrasi senyawa besi dalam airtanah dangkal dan hubungannya dengan kondisi fisik wilayah, menggunakan analisis keruangan yang diperkuat dengan uji statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebaran konsentrasi senyawa besi memiliki pola mengikuti ketinggian, dimana tempat yang lebih rendah dibanding sekitarnya cenderung memiliki konsentrasi senyawa besi yang lebih tinggi. Besar konsentrasi senyawa besi dalam airtanah dangkal di Kecamatan Sawangan dipengaruhi oleh ketinggian dan jenis batuan, khususnya aluvium, sebab batuan tersebut berstruktur halus dan memiliki kemampuan yang baik dalam drainase, sehingga mudah melarutkan mineral ferromagnesium yang banyak terdapat pada tubuh tanah Latosol Merah."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
S33862
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmatiah Sunarti
"Sumber airtanah dangkal sangat peka terhadap sumber pencemaran. Pada daerahdaerah dengan sistem pertanian intensif, pemakaian pupuk nitrogen merupakan sumber potensial terhadap pencemaran senyawa nitrat pada airtanah dangkal. Fluktuasi konsentrasi senyawa nitrat dipengaruhi oleh banyak faktor secara bersamaan, seperti hidrogeologi, geologi, jarak sawah ke sumur dan aktivitas pemupukan. Hasil observasi terhadap 36 lokasi sampel airtanah dangkal di daerah persawahan Bekasi Utara menunjukkan konsentrasi senyawa nitrat pada sampel airtanah tersebut masih di bawah nilai ambang batas untuk bahan baku air minum. Rendahnya konsentrasi senyawa nitrat tersebut menandakan bahwa pencemaran airtanah dangkal akibat pemakaian pupuk di daerah pesawahan daerah penelitian masih kecil.

Shallow groundwater is sensitived to contaminate. In the areas with intensive agriculture system, consumption of nitrogen fertilizers is the potential source where nitrate can contaminate groundwater. The fluctuation of nitrate concentration is influenced by many factors, including hidrogeological condition, geology, distance between rice field to the well and fertilization activities. According to observation on 36 location of shallow groundwater in rice field of North Bekasi, it showed that nitrate concentration on groundwater samples still below threshold level for drinking water?s raw material. The result indicates that contamination of shallow groundwater due to the fertilizing in agriculture area at North Bekasi is still insignificant."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2009
S33733
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Noni Oktriani
"Airtanah dangkal masih menjadi sumber utama untuk kepentingan air bersih bagi daerah Depok dan sekitarnya. Perkembangan permukiman yang semakin pesat di Kecamatan Sawangan berpengaruh terhadap ketersediaan dan kualitas airtanahnya. Penelitian ini ingin mengkaji besarnya pencemaran bakteri dalam airtanah dangkal di Kelurahan Cinangka, Kedaung, Sawangan Lama, dan Sawangan Baru dan hubungannya dengan variabel kerapatan bangunan, kedalaman muka air tanah, jenis tanah dan jarak sumur gali ke septic tank. Metode yang digunakan yaitu teknik stratified random sampling untuk pengambilan sampel airtanah dari sumur gali penduduk yang berjumlah 40 titik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 dari 40 sampel airtanah yang diuji telah tercemar bakteri E.coli dan Total coliform. Lokasi yang telah tercemar bakteri E.coli tersebar secara acak yang berada di bagian utara, barat laut dan selatan daerah penelitian. Hasil statistik Pearson Product Moment menunjukkan bahwa ada hubungan kerapatan bangunan dengan besarnya nilai kandungan Total coliform. Semakin rapat bangunan permukimannya, maka semakin besar nilai kandungan Total coliformnya dan sebaliknya. Selain itu, terdapat hubungan antara kedalaman muka airtanah dengan besarnya nilai kandungan bakteri Eschericia coli. Semakin dangkal muka airtanahnya, semakin besar nilai Eschericia colinya dan sebaliknya."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S34079
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Dimas Santoso Fatchurrahman
"Jakarta dengan jumlah penduduk yang terus bertambah dan sebagian besar masih menggunakan air tanah dangkal sebagai sumber air bersih, menyebabkan terjadinya penggunaan air tanah berlebih sehingga terjadi penurunan kualitas air tanah. Kecamatan Kemayoran sebagai salah satu kecamatan di Jakarta yang memiliki tanggul pantai dan didominasi penggunaan tanah berupa permukiman mengalami penurunan kualitas air tanah. Tanggul pantai merupakan salah satu penyedia air tanah yang baik. Berdasarkan hal tersebut maka timbul pertanyaan mengenai bagaimana sebaran kualitas air tanah dangkal di DKI Jakarta dan hubungan kualitas air tanah dangkal dengan tanggul pantai. Dengan mengetahui jawaban pertanyaan maka dapat diketahui mengetahui kondisi sesungguhnya kualitas air tanah dangkal di Jakarta. Penelitian ini dilakukan dengan mengkombinasikan data Cl- dan DHL yang diperoleh dari hasil survey lapang dengan data sekunder penggunaan tanah, curah hujan dan jenis batuan yang telah dikumpulkan sebelum ke lapangan. Dari kombinasi data primer dan sekunder tersebut diperoleh hasil penelitian, bahwa daerah tanggul pantai memiliki kecenderungan kualitas air tanah yang lebih baik. Kemudian ketika hal ini dihubungkan dengan penggunaan tanah, maka diperoleh hasil bahwa penggunaan tanah berupa permukiman teratur cenderung memiliki kualitas air tanah yang lebih baik.

Jakarta with a big increase number of population and most of the inhabitants are still using ground water for sources of clean water, causing too much ground water use that affect decrease water quality. Kemayoran as one of the district in Jakarta which has beachridge And also dominated by housing as land use also through decrease water quality. Beachridge is one of the good quality water supplier. Based on that reason, then rise a question about how water quality distribution in Jakarta and what the relation between water quality and beachridge. By knowing the answers of the question, can inform us about the real ground water quality condition in Jakarta. This research can be done by combine Cl- and TDS data that we get from land survey with secondary data that we get before we go to the field. From combining the data, we get that on housing land use have the preference of good water quality.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2008
S34062
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>