Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 533 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Culler, Jonathan D.
London : Routledge , 1982
801.95 CUL o
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
London: Continuum, 2004
801.95 DEC
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Rohmah Soekarba
"Dewasa ini kajian Islam mengalami perkembangan yang pesat. Di pelbagai universitas di Barat, banyak yang telah membuka semacam departemen yang secara khusus mengkaji Islam (Islamic Studies). Fenomena ini salah satunya adalah disebabkan maraknya intelektual muslim yang memiliki kemmpuan handal. Di antara mereka adalah Mohammed Arkoun. Mohammed Arkoun yang lahir di Aljazair, sebuah negeri jajahan Perancis, beberapa tahun yang lalu sempat meramaikan wacana intelektual Islam di negeri kita. Ia disebut-sebut sebagai seorang intelektual muslim yang memiliki tradisi yang cukup luas yaitu: Berber, mewakili sinkretisme Islam dan budaya setempat Timur Tengah, kemudian Arab, mewakili tradisi Islam secara umum, dan Barat, dalam hal ini yang sangat dominan mempengaruhinya adalah Perancis.
Keluasan inilah yang menyebabkan pandangan keislaman Arkoun kaya akan nuansa teori. Sebagai seorang intelektual Islam, Arkoun memiliki keperdulian yang tinggi untuk menghidupkan khazanah keilmuan Islam dengan cara membaca (memikirkan) kembali Islam. Ia mengemukakan alasan-alasan mengapa perlu memikirkan kembali Islam, di antaranya adalah Islam pada masa kini yang sudah diwarnai oleh ketertutupan ijtihad. Akibatnya, Islam tidak mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan.
Salah satu metode yang digunakan Arkoun dalam memikirkan kembali Islam adalah melalui dekonstruksi wacana Islam. Dekonstruksi adalah sebuah teori yang diperkenalkan Jacques Derrida, seorang filsuf Perancis yang beraliran post strukturalis. Dalam teori ini dikemukakan perlunya pembongkaran atas bangunan wacana ilmu pengetahuan yang telah menjadi mapan untuk mancari hal-hal yang tidak dipikirkan (1'impense) dan tak mungkin dipikirkan (1'impensable). Dalam pandangan teori ini wacana ilmu pengetahuan sudah mengalami pelapisan-pelapisan yang menyebabkan ilmu pengetahuan tersebut menjadi bangunan ortodoksi yang tidak bisa diganggu gugat. Akibatnya, di sana terjadi kemandegan dan dogmatisme ilmu pengetahuan. Sifat ilmu pengetahuan yang dinamis menjadi statis. Untuk membongkar dogmatisme wacana ilmu pengetahuan tersebut perlu dirumuskan sebuah metodologi pembongkaran yang mampu membedah lapisan-lapisan ortodoksi di atas atau dalam perspektif Derrida disebut dengan istilah dekonstruksi.
Mohammed Arkoun memandang bahwa hal yang terjadi diatas juga terjadi dalam Islam. Menurutnya, semenjak proses pembentukan wacana pengetahuan Islam yang dimulai dari Allah disampaikan kepada Nabi Muhammad hingga sekarang mengalami pelapisan-pelapisan. Pelapisan-pelapisan tersebut adalah dari Allah disampaikan kepada Nabi Muhammad, dari Muhammad ditransmisikan kepada para sahabat, dan dari para sahabat kepada tabi'in, kemudian dari tabi'in kepada tabi'in hingga sampai kepada kita semua. Dalam proses transmisi wacana pengetahuan ini tidak mustahil terjadi distorsi, penambahan dan pembekuan ajaran. Akhirnya, kita sudah tidak dapat lagi membedakan apakah itu unsur Islam, budaya, atau politik. Baik budaya, politik, agama, dan bahkan ideologi bercampur baur menjadi satu semacam lapisan arkeologis Islam. Melihat kondisi demikian, maka Arkoun mengusulkan untuk memikirkan kembali Islam (rethinking Islam) dengan menggunakan metode dekonstruksi Derrida.
Tetapi di sini terdapat perbedaan antara dekonstruksi Derrida dengan dekonstruksi yang diterapkan Arkoun. Apabila Derrida menggunakan dekonstruksi untuk membongkar wacana pengetahuan dan metafisika sehingga semuanya terbuka dan terbongkar secara bebas sehingga tidak ada lagi pihak yang menentukan (penanda transendental), maka Arkoun menggunakan dekonstruksi untuk membongkar lapisan-lapisan arkeologis Islam dan masih mengakui adanya penanda transendental (Tuhan).
Dengan menggunakan teori dekonstruksi teks ini diharapkan akan terkuak dan terbongkar kerangka Islam. Setelah terlihat kerangka Islam, kita dapat melihat dan membedakan mana yang Islam dan mana yang bukan unsur Islam. Selain itu, dengan dekonstruksi teks kita juga dapat memasukkan hal-hal yang belum dipikirkan dan hal-hal yang tidak mungkin atau dilarang dipikirkan ke dalam Islam."
Depok: Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 1998
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Easthope, Antony
London: Routledge , 1991
149.96 EAS b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Mohammed Arkoun is one of international modern Islamic thinkers that his thought comes into Islamic thinking
discourses in Indonesia recently. His Islamic thought was influenced by the modern philosophical concepts such as
‘myths’ of Ricouer, postmodern concepts like ‘discourse’ and ‘episteme’, which were developed by Foucault as well as
‘deconstruction’ of Derrida. If Derrida focused on deconstruction as a final concept, on the other hand Arkoun insisted
that ‘deconstruction’ must be followed by ‘reconstruction’ of a discourse. Arkoun’s reconstruction leaves the limitation,
the rigidity and deviation from the past. Arkoun proposes two ways: firstly it is ‘ijtihad’ and subsequently it is Islamic
critical reason with the whole of critical meaning. In this research I used the method of library investigation. Based on
the result I came into the conclusion that Arkoun loss the communication with the scholars in the Islamic world,
particularly in the Middle East tradition. Since, he applied the method of deconstruction that Islamic world percept it
was going too far."
Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2006
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
London: Academy Group Ltd, 1994
720 ARC
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"This study aimed to decontruct, elaborate, expres, doing signification, eksplorate, and to transfigurate the pregnancy speaking at myth Padang Pariaman Regency. There is five significant problems, namely (1) to elaborat the form of pregnancy myth speaking, (2) to represent the function of the pregnancy myth speaking, (3) to signify the pregnancy myth speaking, (4) to eksplore the pregnancy myth speaking, and (5) to transfigurate the pregnancy myth speaking. Relate to myth narrative decontruction, the writer uses two methods: (1) the field research; and (2) doing intervieu with Padang Pariaman Regency society, that is Sintoga District, Nan Sabaris District, 2x11 VI Lingkuang District, and Lubuak Alung District. To support the analysis the writer needs some theoried they are speech act, semiotic, hypersemiotic, and desire philosophy. The elaboration form is projected by the meaning which is squarely at the text of pregnancy speaking myth. The step of representation function projected with analyzing function philosophy pregnancy myth speaking for society who produces the myth. Both of significations are called with form is the referred as with form projection and function of pregnancy myth speech. At signification form is the primary step of meaning which is closed to the theory about sign, that is semiotic. For the eksploration step is related to define the secondary stpe, which is closed to the hyersemiotic theory. Eksploration step is related to intertext study. It is aimed to describe ‘’the other meaning’’ of language sign which resulted in the myth speech The transfiguration step is described as the evaluation values which closed to the willingness philosophy."
899 WE 1:1 (2010)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Culler, Jonathan
London : Routledge, 2001
808.001.41 CUL p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Deutscher, Penelope
London: Routledge, 1997
305.42 DEU y
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>