Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 19891 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Maretta Kartika Sari
"Skripsi ini membahasa tipologi dan mendeskripsikan kesalahan-kesalahan unsur leksikal yang terdapat dalam tugas Kemahiran Menulis mahasiswa KBP VI Tahun Ajaran 2007/2008 Program Studi Prancis Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI ditinjau dari segi kemanusiaan semantis bahasa Prancis. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang disajikan dengan rancangan deskriptif. Hasil penelitian ini menyarankan agar pemelajar memahami unsur leksikal secara utuh serta meningkatkan pengetahuan mengenai kontekstualisasi makna unsur leksikal dalam ujaran untuk menghindari kesalahan kosakata.

This study focuses on the French language learners? errors of lexical items analyzed from the viewpoints of semantic appropriateness. It examines the errors of vocabulary choices in the written works of French Department students of Faculty of Human Sciences, Universitas Indonesia. The purpose of this study is to identify and describe learners? errors of lexical items. This research is qualitative and descriptively written. The conclusion of this research imposes the importance of comprehending vocabularies thoroughly and suggest that students should increase their knowledge on using the words within context properly in order to avoid errors of utterance."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S14434
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sita damajanti
"ABSTRAK
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap kata-kata pinjaman asal BP yang sudah menjadi kosa kata BI, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:Sebagitn dari kata-kata pinjaman asal BP yang sudah menjadi kosa kata BI memang mengalami perubahan makna. Perubahan maknanya berupa penyempitan,perluasan dan perubahan makna seluruhnya.Kata-kata pinjaman BI asal BP yang mengalami perubahan makna lebih banyak jumlahnya dibandingkan kata-kata pinjaman BI asal BP yang tidak mengalami perubahan makna. Hal ini terlihat dari persentase jumlah yang tercantum di bawah ini. Kata-kata yang tidak mengalami perubahan makna persentasenya 42,19 % dan kata-kata yang mengalami perubahan makna persentasenya 57,81 %. Kata-kata pinjaman yang mengalami perubahan makna persentasenya sebagai berikut: penyempitan (75,68 %), perluasan

"
1984
S14518
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Lestari
"Setiap bahasa pada dasarnya mempunyai sistem sendiri dan cara untuk mengungkapkan gagasan sendiri. Itu sebabnya bahasa dikatakan bersifat unik. Namur, ternyata ada hal-hal yang sama terdapat pada dua bahasa yang berbeda. Misalnya, orang menemukan unsur-unsur leksikal seasal di dalam bahasa Prancis dan bahasa Indonesia, padahal kedua bahasa tersebut tidak berkerabat. Pada umumnya unsur-unsur leksikal seasal, misalnya demonstration - demonstrasi, devaluation - devaluasi, embarcation - embarkasi, dan sebagainya, dianggap memiliki makna yang sama. Kenyataannya, makna dari embarcation berbeda dengan makna dari embarkasi. Untuk menggambarkan persamaan den perbedaan makna unsur-unsur leksikal seasal bahasa Prancis dan bahasa Indonesia, skripsi yang berjudul Unsur-unsur Leksikal Seasal Bahasa Prancis dan Bahasa Indonesia ini menggunakan metode analisis kontrastif dan teori-teori polisemi dan monosemi.
Hasil dari pembandingan makna unsur-unsur leksikal seasal menunjukkan bahwa persamaan unsur-unsur leksikal tersebut adalah: (1) Unsur-unsur leksikal seasal bahasa Prancis dan bahasa Indonesia bersifat polisemis dan monosemis; (2) Makna pada umumnya 'perbuatan' atau 'hasil dari suatu tindakan'; (3) Ada beberapa unsur leksikal memiliki makna yang sama dan disebut sebagai seasal asli.
Perbedaan unsur-unsur leksikal seasal bahasa Prancis dan bahasa Indonesia ialah: (1) Pada umumnya, makna unsur leksikal bahasa Prancis lebih banyak (polisemis) daripada makna unsur leksikal bahasa Indonesia; (2) Sebagian besar pasangan leksikal seasal Prancis-Indonesia adalah seasal sebagian, maksudnya ada makna yang sama dan ada makna yang berbeda; (3) Sebagian kecil unsur-unsur leksikal seasal tersebut berbeda makna dan disebut seasal palsu. Karena sebagian besar pasangan leksikal seasal bahasa Prancis dan bahasa Indonesia adalah seasal sebagian, secara umum dapat disimpulkan bahwa makna dari unsur-unsur leksikal tersebut berbeda."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1988
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eliza Gustinelly
"Niet dan geen dibahas dari segi sintaksisdan semantik. Dari segi sintaksis dibahas masalah kategorial, ditribusi. Dari segi semantik dibahas masalah jangkuan. Sebagai taktis juga dibahas perbedaan terjemahan niet dan geen dalam bahasa Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut penulis menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup besar antara niet dan geen baik dari sentaksis maupun semantik. Perbedaan tersebut menyangkut kategorial, distribusi, jangkauan dan terjemahan."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S15938
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Linguistics lexical diffusion is a phenomenon that can occur in any language. Lexical diffusion of innovation is an element of language that spreads from the lexical to a lexical one another. Observation of lexical diffusion must begin with the observation of language lexical innovation. By observing the lexical diffusion, we can observe how the gradualism changes language elements. This shows that language change does not occur sporadically, but it was systematic. Keywords: lexical diffusion, innovation, gradualism"
899 JSIO 23:10 (2011)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
V. Ronauli Ilyawati
"Setiap bahasa mempunyai system semantis yang berbeda. Yang dibahas dalam sistem semantis ini antara lain medan makna. Medan makna suatu unsur leksikal dalam bahasa yang satu memang jarang sekali yang identik dengan medan makna unsur sejenis dalam bahasa lain. Adanya perbedaan medan makna antara unsur leksikal dan padanannya merupakan titik tolak penelitian ini. Selain perbedaan medan makna, masalah lain yang akan dibahas adalah teknik penerjemahan dan sifat padanan. Karena penelitian ini berfokus pada adanya perbedaan medan makna dalam sebuah karya terjemahan maka sejumlah konsep mengenai semantik dan terjemahan digunakan sebagai dasar penelitian.
Data yang berhasil dikumpulkan berjumlah 61 buah. 24 buah di antaranya termasuk dalam kategori semantis objek sedangkan sisanya, yaitu 37 buah termasuk dalam kategori semantis peristiwa.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan medan makna antara BI dan BP disebabkan oleh faktor kebudayaan, yaitu kebudayaan matari1 (2 data), kebudayaan sosial (3 data), religi (3 data) dan bahasa (4 data). Sebab lainnya adalah masalah pilihan kata, maksudnya dalam sejumlah data penerjemah memilih unsur leksikal yang bermedan makna luas sebagai padanan unsur leksikal yang bermedan makna sempit.
Dilihat dari teknik penerjemahan, sebagian besar teknik yang ditempuh adalah modulasi sebagian untuk keseluruhan dan jumlahnya mencapai 38 buah atau 62,2%. Sisanya terbagi dalam padanan berpenjelasan 11 data, modulasi dinamis-statis 1 data, modulasi wadah isi 1 data dan modulasi 10 data.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa, walaupun ada perbedaan medan makna antara unsur leksikal BP yang dipadankan dengan unsur leksikal BI, sebagian besar merupakan padanan memadai. Yang lainnya adalah padanan kurang memadai 7 buah dan padanan tidak memadai 5 buah."
Depok: Universitas Indonesia, 1989
S14536
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Triyogo Jatmiko
"Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang dapat menghubungkan dua satuan gramatikal yang memiliki status sintaktis yang sama. Konjungsi ini dapat menghubungkan klausa dengan klausa, frasa dengan frasa dan kata dengan kata. Penelitian terhadap konjungsi koordinatif pada skripsi ini dimaksudkan untuk mencari persamaan dan perbedaan konjungsi tersebut dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia.
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan sintaktis dan pendekatan semantis. Pendekatan sintaktis dimaksudkan untuk menunjukkan unsur-unsur apa saja yang dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, sedangkan pendekatan semantis untuk menunjukan pertalian makna yang ada antara unsur-unsur yang dihubungkan.
Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah metode deskriptif. Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai ciri-ciri sintaktis dan semantis konjungsi koordinatif dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia. Hasil deskripsi tersebut kemudian dibandingkan secara konstrastif untuk menunjukkan persa_maan dan perbedaan antara kedua pokok bahasan tadi.
Baik dari segi sintaktis maupun segi semantis diperoleh kesimpulan bahwa antara konjungsi koordinatif dalam bahasa Jerman dan bahasa Indonesia terdapat persamaan dan juga perbedaan. Dari segi bentuk, keduanya dapat dibagi menjadi bentuk sederhana, gabungan dan bentuk terpisah. Dari segi fungsi, keduanya sama-sama digunakan untuk menghubungkan satuan grammatikal yang memiliki status sintaktis yang sama. Begitu pula dalam hal posisi, kedua_nya menempati tempat yang sama, yaitu berada di antara dua satuan gramatikal yang dihubungkannya.
Dari segi semantis, baik dalam bahasa Jerman maupun dalam bahasa Indonesia, konjungsi koordinatif mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk menyatakan hubungan makna tertentu. Dan apabila mempunyai ciri-ciri sintaktis dan semantis yang sama, konjungsi koordinatif baik dalam bahasa Jerman maupun dalam bahasa Indonesia, dapat saling dipertukarkan penggunaannya dalam suatu konstruksi kalimat. Perbedaan antara konjungsi koordinatif dalam kedua bahasa tersebut terletak pada jumlah dan macam satuan gramatikal yang dapat dihubungkan oleh suatu konjungsi.
Dalam bahasa Jerman terdapat 26 jenis konjungsi, sedangkan dalam bahasa Indonesia hanya 24 jenis konjungsi koordinatif. Dalam bahasa Jerman dikenal adanya satuan gramatikal berupa Worttei1, dalam bahasa Indonesia tidak. Demikian pula secara semantis, ada beberapa hubungan makna yang dalam bahasa Jerman dinyatakan dengan konjungsi, tapi tidak dalam bahasa Indonesia, dan demikian pula sebaliknya."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1991
S14755
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Meuthia A. Muchtar
"Dalam perkembangannya bangsa Perancis Seperti juga bangsa lainnya banyak mengadakan kontak dengan bangsa lain. Kontak inilah yang menyebabkan proses saling mempengaruhi antara bangsa Perancis dengan bangsa lainnya. Dengan terjadinya kontak tersebut, maka bahasanya pun saling mempengaruhi.
Demikian pula yang terjadi dengan adanya kontak antara bangsa Perancis dengan bangsa Spanyol. Hubungan antara kedua bangsa tersebut dimulai sejak abad 16 melalui perang. Kemudian hubungan yang terus berlangsung antara kedua bangsa tersebut secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan masing-masing pihak saling menerima pengaruh. Bahasa Perancis pun menerima pengaruh tersebut, yaitu berupa masuknya sejumlah kata bahasa Spanyol ke dalam bahasa Perancis dan sebaliknya masuknya sejumlah kata bahasa Perancis ke dalam bahasa Spanyol. Bertitik tolak dari keadaan tersebut, penulis tertarik untuk meneliti kata-kata pungutan bahasa Perancis yang berasal dari bahasa Spanyol yang tercantum dalam kamus Petit Robert dilihat dari segi semantis.
Untuk melakukan penelitian ini, dalam skripsi yang berjudul Kosakata Bahasa Spanyol dalam Dictionnaire. Alphabetiaue et Analogique de la langue Fran_aise dilihat dari Segi Semantic, digunakan teori-teori: Data dan makna kata (Vida dan Taber: 1974), analisis sem (Tutescu: 1979) dan perubahan makna (Guilbert: 1975).
Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa kata pungutan dari bahasa Spanyol yang sudah menjadi kosakata bahasa Perancis memang mengalami perubahan makna. Di antara 77 kata yang diteliti, ada yang,maknanya hanya berubah sebagian saja: penyempitan atau perluasan, dan ada kata yang berubah seluruhnya.
Kata-kata pungutan yang tidak mengalami perubahan makna 68%, presentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan kata pungutan yang mengalami perubahan makna 35%. Ini berarti bahwa dari 77 kata yang dianalisis, 52 kata pungutan maknanya tetap. Di antara 52 kata tersebut, sebagian merupakan kata yang polisemi dalam bahasa asalnya. Dari 21 kata yang polisemi, 19 merupakan kata yang monosemi setelah menjadi kosakata bahasa Spanyol dan sisanya tetap polisemi. Kata yang polisemi tersebut setelah menjadi kosakata bahasa Perancis, maknanya tidak ada yang berubah.
Banyaknya kata pungutan yang tidak mengalami perubahan makna menunjukkan bahwa kata-kata tersebut tidak ada dalam bahasa Perancis. Masuknya kata-kata pungutan bahasa Spanyol dalam kosakata bahasa Perancis merupakan tuntutan atau kebutuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat L. Guilbert (1975: 93-94) yang mengatakan bahwa salah satu motivasi pemungutan kata adalah untuk melengkapi adanya kekurangan istilah dalam bidang tertentu atau dengan kata lain tidak adanya kata yang berasal dari bahasa sendiri.
Akhirnya, hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan dalam bidang leksikologi dan semantik Perancis."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1989
S14428
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harjanto
"Pembicaraan skripsi ini menggunakan tiga teori: - teori Sonoritas dari Heffner - teori Penonjolan dari Daniel Jones - teori Denyut nafas dari Stetson Dari ketiga teori tersebut, ternyata hanya teori Sonoritas dari Heffner yang dapat dipergunakan, karena telah banyak ahli lingguistik Indonesia antara lain Gorys Keraf, Verhaar, Samsuri yang menggunakan sonoritas sebagai penanda suku kata. Teori Denyut napas dapat dipakai untuk menunjang penganalisaan pengucapan kata berafiks..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1982
S10958
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novi Chrisfandiari
"Bahasa Belanda mengenal berbagai macam bentuk jamak berupa sufiks seperti _en, -s, -eren (asli Belanda) dan sufiks sufiks pinjaman (antara lain -i, -a, -es dan lain sebagai_nya) dalam kata-kata pinjaman. Telah banyak para ahli yang membahas pembentukan jamak ini, namun masing-masing dengan sudut pandang yang berbeda. Dalam skripsi ini dibahas tiga buah artikel dari hasil tulisan Car Hoppenbrouwer, Van Haeringen, dan yang terdapat dalam buku tata bahasa umum bahasa Belanda (ANS). Mengingat bahasa Belanda termasuk bahasa yang dinamis, maka diperlukan suatu kaidah yang dapat digunakan dalam pembentukan jamak kata benda bahasa Belanda untuk kata-kata yang baru muncul. Untuk mempermudah pembahasan hal ini diperlukan sebuah skema kaidah dan sebuah tabel berupa contoh-contah kata benda untuk pengujian. Hasil dari pengujian akhirnya kami cocokkan dengan kata-kata yang sama yang terdapat dalam kamus umum bahasa Belanda Van Dale sebagai bahan perbanding."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
S15889
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>