Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 184220 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"The study of the patterns of nematode infection on rodents in Lore Lindu,Central Sulawesi was carried out. A total of 52 rodents were examined...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Maya Anindiya
"[Ilmu Kedokteran Gigi merupakan salah satu bidang yang rawan untuk
terjadinya kontaminasi silang antara pasien-dokter gigi, pasien-pasien dan pasien perawat. Kontrol Infeksi dapat mencegah terjadinya infeksi silang. Tujuan: Melihat hubungan Pengetahuan, Perilaku dan Faktor Lingkungan terhadap keberhasilan upaya Kontrol infeksi pada Mahasiswa Program Profesi Fakultas Kedokteran gigi Univesritas
“x” di Jakarta. Metode: Metode penelitian yang digunakan cross sectional dengan Model penelitian Sequential Explonatory design. Penelitian dilakukan pada Mahasiswa Program Profesi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas “X” di Jakarta yang sudah melewati
pendidikan profesi selama 2 (dua) semester, dengan jumlah sampel sebanyak 101 mahasiswa. Hasil: Upaya Kontrol Infeksi pada Mahasiswa Program Profesi Fakultas Kedokteran gigi universitas “X” di Jakarta masih kurang baik.Ini dipengaruhi oleh pengetahuan, perilaku dan faktor lingkungan masih kurang baik dan mempunyai p value
< 0,05 sehingga mempunyai hubungan yang signifikan terhadap upaya kontrol infeksi. Kesimpulan: Pengetahuan dan Perilaku dapat ditingkatkan dengan membentuk program yang berisikan promosi kesehatan dalam bentuk poster-poster, standart operasional prosedur berdasarkan standard precautions dan seminar-seminar bagi
mahasiswa program profesi fakultas kedokteran gigi;Background: Dentistry is one of a science which has a high sensitivity to caused
cross-contamination between the patient-dentist, patient-patient and patient-nurse. Infection control may prevent cross-infection. Objective: Knowing the relationship between Knowledge, Behavior and Environmental Factors with successfull of Infection Control by the students of Professional Program Study of the Faculty of Dentistry, Universitas "x" in Jakarta. Methods: The method used is cross sectional with research model Sequential Explonatory Design. The study which has the total sample of 101 students was conducted and involved the
students of Professional Program Study of the Faculty of Dentistry, University "X" in Jakarta, which has passed the professional education for two (2) semesters. Results: Infection Control Efforts conducted by the student of Professional Program Study Faculty of Dentistry, University "X" in Jakarta is not maximal. It was affected by the Knowledge, Behavior and Environmental Factors which not good enough and has a p value <0.05 and therefore has a significant relationship which infection control effort. Conclusion: Knowledge and Behavior can be improved by establishing a program containing health promotion in the form of posters, standard operating procedures based on standard precautions and seminars for the students of Professional Program Study of the faculty of dentistry., Background: Dentistry is one of a science which has a high sensitivity to caused
cross-contamination between the patient-dentist, patient-patient and patient-nurse.
Infection control may prevent cross-infection. Objective: Knowing the
relationship between Knowledge, Behavior and Environmental Factors with
successfull of Infection Control by the students of Professional Program Study of
the Faculty of Dentistry, Universitas "x" in Jakarta. Methods: The method used is
cross sectional with research model Sequential Explonatory Design. The study
which has the total sample of 101 students was conducted and involved the
students of Professional Program Study of the Faculty of Dentistry, University
"X" in Jakarta, which has passed the professional education for two (2) semesters.
Results: Infection Control Efforts conducted by the student of Professional
Program Study Faculty of Dentistry, University "X" in Jakarta is not maximal. It
was affected by the Knowledge, Behavior and Environmental Factors which not
good enough and has a p value <0.05 and therefore has a significant relationship
which infection control effort. Conclusion: Knowledge and Behavior can be
improved by establishing a program containing health promotion in the form of
posters, standard operating procedures based on standard precautions and
seminars for the students of Professional Program Study of the faculty of
dentistry.]"
Universitas Indonesia, 2015
T43490
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Luthfir Rahman
"Magnetic Resonance Spectroscopy (MRS) membantu ahli radiologi untuk mengetahui apakah pasien mengalami glioma otak atau infeksi otak. Dalam tugas akhir ini dibahas proses klasifikasi terhadap data hasil MRS untuk mengetahui apakah pasien mengalami glioma otak atau infeksi otak. Metode yang digunakan untuk klasifikasi adalah metode AdaBoost dengan base learner K-Nearest Neighbor dan metode K-Nearest Neighbor. Hasil Percobaan yang dilakukan menunjukkan bahwa metode AdaBoost dengan base learner K-Nearest Neighbor dengan K=3 mempunyai nilai akurasi 97% pada data training 80% sementara nilai akurasi dari metode K-Nearest Neighbor 94.4 % pada data training 80%. Hasil akhir dari pembuatan tugas akhir ini adalah sebuah perangkat lunak pendukung keputusan ( Decision Support System) yang membantu memberikan informasi apakah pasien mengalami glioma otak atau infeksi otak.

Magnetic Resonance Spectroscopy (MRS) helps the experts of radiology to detect the brain glioma or brain infection in patients. In this final project, the classification process on the result of MRS data is discussed to detect the brain glioma or brain infection in patients. The used classification methods are AdaBoost with base learner K-Nearest Neighbor and K-Nearest Neighbor methods. The result of research shows that the AdaBoost method with base learner K-Nearest Neighbor with K=3 has 97% accuracy value on 80% training data, while the accuracy value from K-Nearest Neighbor method is 94.4 % on 80%training data. The result from the writing of this final project is the software for making decision (Decision Support System) that supports the giving of information on the existence of brain glioma or brain infection in patients."
Depok: Universitas Indonesia, 2014
S56311
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Badriul Hegar
"Recurrent abdominal pain (RAP) is a very common presenting complaint in pediatric population. There is still a debate regarding the role of Helicobacter pylori (H. pylori) infection as an etiology of RAR Typically the inflammatory process in the gastric mucosa of infected individuals is chronic gastritis. Serologic and histologic examination are widely used for the diagnosis. This study was aimed to determine the role of H.pylori infection in Indonesian children with RAR The presence of serum IgG antibody to H. pylori and upper gastrointestinal endoscopy were performed on the 101 children with RAR Mztcosal biopsies were obtained for histologic analysis. The prevalence of H. pylori infection indicated by serology was 32.7% and by histology was 27. 7%. Histologic evidence of gastritis was present in 94.1 % children and 45% of them had chronic atrophic and active gastritis. Seventy percent children with H. pylori positive were found abnormal through endoscopy and all of the infected children were revealed abnormal through histological examination. Forty eight percent of seropositive children were found H. pylori positive and 80% of seronegatives children were found to be H pylori negative through histologic examination. Conclusion: H. pylori infection can be a cause of RAP in children. Work up for H. pylori infection should be performed when symptoms are suggestive of organic disease. Larger prospective studies are needed to be perforated for a longer time of period to clarify this issue."
Jakarta: The Indonesian Journal of Gastroenterology Hepatology and Digestive Endoscopy, 2001
IJGH-2-2-Agt2001-1
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Alisah Naoemar Abidin
"

Pada pagi hari yang berbahagia ini perkenankanlah saya memanjatkan puji svukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua sehingga upacara pengukuhan saya sebagai Guru Besar Tetap di Universitas Indonesia dapat diselenggarakan.

Perkembangan sosial-ekonomi dalam era globalisasi ini telah menambah kompleksnya masalah kesehatan di Indonesia. Pada saat penyakit infeksi masih belum dapat dikendalikan dengan baik. penyakit non infeksi seperti penyakit degeneratif. keganasan jantung dan sebagainya mulai meningkat sehingga terjadi beban ganda.

Pada saat ini kita berada dalam era peralihan pola penyakit. Pada bulan Januari yang lalu Badan Litbang Kesehatan RI. mengadakan diskusi ilmiah mengenai Emerging Infectious Diseases; yaitu penyakit infeksi baru, yang timbul kembali atau resister terhadap obat yang insidensnya telah meningkat dalam 20 tahun terakhir atau berpotensi untuk meningkat di masa yang akan datang.

Apa yang sekiranya dapat dianggap sebagai penyebab fenomena ini ? Perilaku masyarakat modern dengan gaya hidup baru dapat menjadi salah satu penyebabnya. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan terjadinya urbanisasi yang tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana, telah menambah luasnya daerah kumuh di perkotaan. Perkembangan teknologi yang cepat dan tuntutan kebutuhan manusia yang meningkat dapat menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan sehingga timbul masalah kesehatan lingkungan yang erat hubungannya dengan penyakit infeksi. Kurangnya air bersih, pencernaran tanah dan air oleh limbah industri dan limbah rumah tangga termasuk tinja, menciptakan kondisi lingkungan fisik yang memungkinkan perkembangan vektor dan sumber infeksi. Fenomena tersebut berlaku juga untuk salah satu kelompok penyakit infeksi yaitu penyakit parasitik.

Hadirin yang terhormat,

Sesuai dengan keahlian dan tugas saya sebagai staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada kesempatan ini saya memilih judul pidato pengukuhan :

"Beberapa Infeksi Parasitik Masa Lampau dan Masa Kini di Indonesia"

Pertama, saya ingin menyampaikan mengenai sekelompok penyakit parasit yang sudah lama bercokol di masyarakat, dan masih tetap menjadi bahan pembicaraan yang muncul di berbagai media masa dan masih tetap menjadi masalah hangat yaitu :

Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah

Infeksi casing usus yang dimaksud di atas adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing yang ditularkan melalui tanah, telur dan larvanya menjadi bentuk infektif di tanah. Dalam bahasa sehari-hari infeksi ini disebut cacingan. Infeksi dengan cacing usus yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di daerah tropik, termasuk Indonesia.

Cacingan merupakan penyakit rakyat yang sangat erat kaitannya dengan masalah lingkungan. Lingkungan yang kumuh merupakan tempat subur untuk berkembang biaknya cacing-cacing penyebab cacingan.

"
Jakarta: UI-Press, 1997
PGB 0232
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
"The development of aquaculture in Indonesia has been hampering by the spread of KHV ( Koi Herpes Virus) disese since 2003 which destroyedbillions rupiah and was going on up to now...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Dwi Shanti
"Pemakaian lensa kontak akhir-akhir ini semakin marak terlihat dari tersedianya lensa kontak yang didapatkan bebas tanpa perlu adanya resep dokter. Hal ini bisa meningkatkan terjadinya infeksi mata terutama Acanthamoeba pada pengguna lensa kontak yang tidak mengetahui cara pemakaian dengan baik dan benar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa kedokteran FKUI mengenai pencegahan infeksi Acanthamoeba pada pengguna lensa kontak dan hubungannya dengan jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Metode penelitian ini menggunakan cross sectional melalui penyebaran kuesioner. Hasilnya adalah responden dengan tingkat pengetahuan baik 41,24%, cukup 29,89%, dan kurang 28,87%. Dengan uji chi-square hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan (p=0,036) dan terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan (p=0,009). Oleh karena adanya hubungan yang signifikan secara statistik diantara kedua variabel ini maka perlu adanya edukasi lebih lanjut mengenai pengetahuan pemakaian lensa kontak sehingga diharapkan infeksi Acanthamoeba dapat dicegah.

Nowdays, there is a trend of using contact lenses. Contact lenses are available everywhere and can be obtained without prescription. This condition can increase the incidence of eye infections, particularly Acanthamoeba on contact lenses users who don't know how to use it properly. Therefore, this reseacrh aim to know about the knowledge level of FKUI student about prevention of Acanthmoeba Infection on contact lenses user and that relation with gender and education. This study uses cross-sectional design with questionaire. The result of this study is that the precentage of respondent with high knowledge level is 41,24%, moderate knowledge level is 29,9% and low knowledge level is 28,87%. Chi-square analysis shows that there is a relation between gender and knowledge level (p=0,036. There is also a significant relation between education and knowledge level (p=0,009). This relation suggests the need of further education about knowledge on how to use contact lenses to prevent Acanthamoeba infection.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Adip Pradipta
"Infeksi parasit usus seperti cacing usus masih menjadi masalah di Indonesia. Infeksi cacing usus digolongkan sebagai neglected tropical diseases dan 800 juta penderita di antaranya adalah anak-anak. Anak panti asuhan tinggal di lingkungan yang padat dan rentan mengalami infeksi cacing usus sehingga diperlukan informasi mengenai sikap dan perilaku pencegahan infeksi cacing usus.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik demografi dengan sikap dan perilaku pencegahan infeksi cacing usus anak panti asuhan. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 10 Juni 2012 di Jakarta Timur dengan menggunakan kuesioner berisikan 13 pertanyaan tentang sikap dan perilaku pencegahan infeksi cacing usus. Data diolah dengan program SPSS for mac versi 20 dan dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis, Mann-Whitney dan Spearman.
Hasil penelitian ini menunjukkan rerata skor penilaian sikap dan perilaku pencegahan infeksi cacing masing-masing 20,2 dan 29,1. Nilai maksimal dari skor penilaian sikap dan perilaku masing-masing 25 dan 40. Terdapat hubungan antara jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan dengan perilaku (p<0,05), serta jenis kelamin dengan sikap (p<0,05). Disimpulkan sikap anak panti asuhan terhadap pencegahan infeksi cacing usus tergolong baik dan jika akan memberikan edukasi maka perlu memperhatikan usia, tingkat pendidikan dan jenis kelamin.

Intestinal parasite infection, intestinal helminths for instance, remains a major problem in Indonesia. Intestinal helminths infection is regarded as a neglected tropical diseases and 800 million children are infected globally. Orphanage live in a densely populated place and are susceptible to intestinal helminths infection, thus it is necessary to know attitude and behavior of intestinal helminths infection.
The purpose of this study is to understand the relationship between Attitude and Behavior of Street Children about Soil Transmitted Helminths Infection Prevention and demographic characteristic. This study used analytic cross sectional design. Data were collected on June 10th 2012 in East Jakarta using a questionnaire consists of 13 questions about attitude and behavior of intestinal helminths infection prevention. The data collected were processed using SPSS for Mac version 20 program and Kruskal-Wallis, Mann-Whitney and Spearman statistic test.
The results showed that attitude and behavior scores are 20,2 and 29,1, respectively. Maximum score of attitude and behavior are 25 and 40, respectively. The results indicated that there is a relationship of gender, age, and education level with behavior (p<0,05), and also gender with attitude (p<0,05). It can be concluded that orphanage children attitude of intestinal helminths infection prevention is good meanwhile the behavior is poor and education methods should consider age, education level and gender.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Apriedi Syaputra
"Latar belakang: Pengetahuan, sikap, dan praktik mahasiswa yang tepat terkait pengendalian infeksi pada masa pandemi COVID-19 adalah sangat penting untuk mencegah penularan infeksi virus.
Tujuan: Menganalisis pengetahuan, sikap dan praktik mahasiswa klinik kedokteran gigi di Indonesia terkait pengendalian infeksi pada masa pandemi COVID-19 dan hubungannya dengan karakteristik sosio-demografi serta riwayat pengalaman klinik mahasiswa.
Metode: Penelitian cross-sectional berupa kuesioner online kepada mahasiswa klinik kedokteran gigi di Indonesia dengan masa studi ± 1 tahun pada bulan Juli-Oktober 2021. Kuesioner terdiri dari 5 bagian: data sosio-demografi, riwayat pengalaman klinik, pengetahuan, sikap, dan praktik terkait pengendalian infeksi.
Hasil: Jumlah responden adalah 238 mahasiswa. Mayoritas adalah perempuan dengan rerata umur 23,8 tahun (±3,3 tahun).  Pengetahuan dan praktik mahasiswa terkait pengendalian infeksi adalah relatif baik. Sikap mahasiswa adalah positif terkait pengendalian infeksi. Tidak terdapat perbedaan antara karakteristik sosio-demografi mahasiswa dengan rerata skor pengetahuan, sikap, dan praktik. Dengan adanya peningkatan pengetahuan, maka skor sikap meningkat secara signifikan. Sikap yang positif berkorelasi signifikan dengan peningkatan praktik. Peningkatan pada skor  praktik, ditandai dengan adanya peningkatan pada skor pengetahuan.
Kesimpulan: Pendidikan pelatihan berkelanjutan terkait pengendalian infeksi perlu terus dilakukan selama masa studi klinik mahasiswa termasuk informasi dan peran kedokteran gigi selama pandemi.

Background: Proper knowledge, attitudes, and practices of dental students about infection control during the COVID-19 pandemic are important to prevent the transmission of virus.
Aim: Analyze knowledge, attitudes, and practices of clinical dental students in Indonesia about infection control during the COVID-19 pandemic between socio-demographic characteristics and history of student’s clinical experiences.
Method: A cross-sectional study using an online questionnaire delivered to clinical dental students in Indonesia with period of study ± 1 year from July until October 2021. The online questionnaire consisted of 5 sections: socio-demographic characteristic, history of student’s clinical experiences, knowledge, attitudes, and practices about infection control.
Results: Total respondents were 238 students. Majority were females, with an average age of 23.8 years (±3.3 years). Knowledge and practices of students were relatively good. The attitudes of students were positive about infection control. There were no differences in knowledge, attitude, and practice between socio-demographic characteristics. With an improvement in knowledge, the attitude score increased significantly. A positive attitude was significantly correlated with an increase in practice.
Conclusion: Continuous-based infection control lectures and training needs to be held during the period of clinical study including the information and the roles of dentistry during pandemic.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pudji Andayani
"ABSTRAK
Latar belakang Bayi baru lahir BBL sangat rentan terhadap infeksi dari dalam kandungan maupun di lingkungan luar kandungan Infeksi berat yang terjadi di 3 hari pertama kehidupan Early Onset Sepsis pada BBL dapat ditegakkan melalui penampakan klinis maupun beberapa marka infeksi seperti C reak tif protein CRP Sampel darah yang diperlukan utuk pemeriksaan CRP cukup banyak dan cukup menyulitkan untuk BBL Saliva mengandung komponen yang mirip dengan darah dalam hal mendeteksi CRP Tujuan Mengetahui apakah CRP saliva dapat digunakan seakurat darah neonatus mendeteksi infeksi dini neonatus Metode Penelitian dilakukan selama periode Oktober 2015 ndash Desember 2015 pada bayi baru lahir risiko infeksi yang memenuhi kriteria Data dianalisis dengan perangkat elektronik statistik dengan tingkat kemaknaan p0 05 terdapat hubungan yang bermakna antara CRP saliva terhadap CRP darah Nilai p 0 05 dengan r positif atau searah yang menunjukkan semakin tinggi kadar CRP saliva semakin tinggi juga kadar CRP darah Kekuatan hubungan sangat kuat 0 8
ABSTRACT
Backgound Newborns babies are very susseptible to infection from intra and extrauterine environment Severe infection within the first 3 day of life is classified as early onset sepsis EOS in the newborn baby based on clinical manifestation and same serological markers such as C reactive protein CRP Blood samples procedure to CRP examination are more volume liquid and requires highly trainned personnel for newborn Objective To know wether salivatory CRP can be used acurated as CRP from blood sample for detection early infection in neonate and to evaluated sample characteristic association with blood and CRP saliva Methods A prospective study was conducted in newborn baby at Ulin Hospital Banjarmasin period 15 october 2015 to December 15 2015 The participates are newborn babies with risk infection who enrolled inclusion criteria Statistical analyses used the software statistic electronic significant is p 0 05 Saliva CRP and blood samples were detected in each group as 8 babies with concentration ge 10mg L There was a statisticaly significant correlation between salivary CRP level to blood CRP level r 0 806 p"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>