Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26045 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Eka Fajar Prihatini
"Tesis yang berjudul Representasi Pemikiran Montesquieu melalui Harem dalam Lettres Persanes merupakan penelitian terhadap roman Lettres Persanes 'Surat-surat Persia' karya Montesquieu (1721). Penelitian ini beranjak dari permasalahan bagaimana harem merepresentasikan pemikiran Montesquieu dalam roman Lettres Persanes. Roman ini pernah dianalisis oleh peneliti terdahulu dengan melihat roman dalam kaitannya dengan kondisi sosial penciptaan karya. Melalui penelitian tersebut dan kritik terhadap novel diketahui bahwa roman itu dibuat untuk mengkritik pemerintahan Louis XIV dan Philippe d'Orleans. Akan tetapi, penelitian mengenai harem dan penghuninya sebagai alat pembanding yang digunakan oleh pengarang di dalam menyampaikan kritiknya masih jarang ditemukan. Oleh karena itu, penelitian ini hanya berfokus pada harem dalam merepresentasikan pemikiran pengarang. Data yang digunakan hanya berjumlah 38 surat dari seluruh surat yang berjumlah 161. Ke-38 surat itu berhubungan dengan harem di dalam roman. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang didukung dengan teori strukturalisme untuk membedah teks pada tingkat awal. Melalui analisis strukturalis didapatkan pengaluran sebanyak 208 sekuen dan hanya 19 sekuen yang berfungsi sebagai pembentuk alur. Selain itu, terdapat pula tokoh utama, laki-laki pemilik harem yang bernama Usbek, lima orang istrinya, selir, kasim hitam dan kasim putih, serta budak perempuan dan laki-laki.
Pengarang menggabungkan Barat dan Timur dalam latar waktu dan tempat. Kemudian, penelitian dilanjutkan dengan menghubungkan hasil analisis strukturalis itu dengan latar pemikiran pengarang yang dipengaruhi oleh aliran klasisisme dengan elemen dasar berupa penghargaan terhadap kemanusiaan, keteraturan, ketegasan, keselarasan, kesatuan, dan keterbukaan serta konsep berpikir kritis abad Pencerahan. Representasi yang dibungkus melalui harem membuat pembahasan mengenai perempuan dan relasi kuasa di dalam harem melalui tiga sumbu kekuasaan, yaitu kelas, gender, dan ras harus dilakukan pada tataran selanjutnya. Kesimpulan atas penelitian ini adalah bahwa melalui harem, pengarang menghadirkan pemikirannya sebagai seorang humanis dengan konsep berpikir kritis cartesian dan juga pemikirannya tentang kekuasaan serta hukum dan keteraturan, sedangkan bentuk penulisan surat-menyurat dan cerita tentang Timur digunakan bagi pengarang untuk bersembunyi dan menyembunyikan kritiknya mengenai Prancis serta menarik perhatian pembaca.

This thesis, Representation of Montesquieu's Ideas and Thoughts through the Harem in Lettres Persanes, presents an analytical account of Montesquieu's novel Lettres Persanes, 'Persian Letters' (1721). This novel has been previously analyzed by a researcher who related it to the social conditions of its production. That research and other critical appraisals of the novel argue that the novel was written to criticize governance under Louis XIV and Philippe d'Orleans. To date, it is rare to find an analysis of life in the harem which sees it as the comparative tool used by the author in his critique. This analysis, by contrast, starts by problematizing the harem depicted in the Persian Letters and research focuses only on the harem to represent the ideas and thoughts of the author. The data used for the analysis was obtained from 38 out of the 161 letters which make up the novel. The 38 letters concern life in the harem. Their analysis is carried out by means of the qualitative method and supported by structuralism to look at the text in the first level. Through this structuralist analytical approach, it appears that there are 208 sekuen of narration and only 19 of them are qualified as the plot. Besides, there are also the main character, Usbek, the owner of the harem, his five wifes, his concubines whose numbers were left unspecified by the author, black and white eunnuch, male and female slaves.
The author used Western and Eastern societies as the novel's settings. The next step is analyzing the thoughts of the author which is influenced by classicism and by the cartesian critical perpective. Representation of thought through the harem requires an analysis of the power relations among the harem residents by using three main axes of power relations; class, gender, and race. The analysis concludes that the author as a philosopher represents his ideas about humanity, power, law and order by using cartesian critical and rationalistic perspective. The epistolary form and the history of the East are used to disguise the critique about French sosio-political life and also to attract a certain body of readers.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
T23538
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Fajar Prihatini
"Tesis yang berjudul Representasi Pemikiran Montesquieu melalui Harem dalam Lettres Persanes merupakan penelitian terhadap roman Lettres Persanes 'Surat-surat Persia' karya Montesquieu (1721). Penelitian ini beranjak dari permasalahan bagaimana harem merepresentasikan pemikiran Montesquieu dalam roman Lettres Persanes. Roman ini pernah dianalisis oleh peneliti terdahulu dengan melihat roman dalam kaitannya dengan kondisi sosial penciptaan karya. Melalui penelitian tersebut dan kritik terhadap novel diketahui bahwa roman itu dibuat untuk mengkritik pemerintahan Louis XIV dan Philippe d'Orleans. Akan tetapi, penelitian mengenai harem dan penghuninya sebagai alat pembanding yang digunakan oleh pengarang di dalam menyampaikan kritiknya masih jarang ditemukan. Oleh karena itu, penelitian ini hanya berfokus pada harem dalam merepresentasikan pemikiran pengarang. Data yang digunakan hanya berjumlah 38 surat dari seluruh surat yang berjumlah 161. Ke-38 surat itu berhubungan dengan harem di dalam roman. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang didukung dengan teori strukturalisme untuk membedah teks pada tingkat awal. Melalui analisis strukturalis didapatkan pengaluran sebanyak 208 sekuen dan hanya 19 sekuen yang berfungsi sebagai pembentuk alur. Selain itu, terdapat pula tokoh utama, laki-laki pemilik harem yang bernama Usbek, lima orang istrinya, selir, kasim hitam dan kasim putih, serta budak perempuan dan laki-laki.
Pengarang menggabungkan Barat dan Timur dalam latar waktu dan tempat. Kemudian, penelitian dilanjutkan dengan menghubungkan hasil analisis strukturalis itu dengan latar pemikiran pengarang yang dipengaruhi oleh aliran klasisisme dengan elemen dasar berupa penghargaan terhadap kemanusiaan, keteraturan, ketegasan, keselarasan, kesatuan, dan keterbukaan serta konsep berpikir kritis abad Pencerahan. Representasi yang dibungkus melalui harem membuat pembahasan mengenai perempuan dan relasi kuasa di dalam harem melalui tiga sumbu kekuasaan, yaitu kelas, gender, dan ras harus dilakukan pada tataran selanjutnya. Kesimpulan atas penelitian ini adalah bahwa melalui harem, pengarang menghadirkan pemikirannya sebagai seorang humanis dengan konsep berpikir kritis cartesian dan juga pemikirannya tentang kekuasaan serta hukum dan keteraturan, sedangkan bentuk penulisan surat-menyurat dan cerita tentang Timur digunakan bagi pengarang untuk bersembunyi dan menyembunyikan kritiknya mengenai Prancis serta menarik perhatian pembaca.

This thesis, Representation of Montesquieu's Ideas and Thoughts through the Harem in Lettres Persanes, presents an analytical account of Montesquieu's novel Lettres Persanes, 'Persian Letters' (1721). This novel has been previously analyzed by a researcher who related it to the social conditions of its production. That research and other critical appraisals of the novel argue that the novel was written to criticize governance under Louis XIV and Philippe d'Orleans. To date, it is rare to find an analysis of life in the harem which sees it as the comparative tool used by the author in his critique. This analysis, by contrast, starts by problematizing the harem depicted in the Persian Letters and research focuses only on the harem to represent the ideas and thoughts of the author. The data used for the analysis was obtained from 38 out of the 161 letters which make up the novel. The 38 letters concern life in the harem. Their analysis is carried out by means of the qualitative method and supported by structuralism to look at the text in the first level. Through this structuralist analytical approach, it appears that there are 208 sekuen of narration and only 19 of them are qualified as the plot. Besides, there are also the main character, Usbek, the owner of the harem, his five wifes, his concubines whose numbers were left unspecified by the author, black and white eunnuch, male and female slaves.
The author used Western and Eastern societies as the novel's settings. The next step is analyzing the thoughts of the author which is influenced by classicism and by the cartesian critical perpective. Representation of thought through the harem requires an analysis of the power relations among the harem residents by using three main axes of power relations; class, gender, and race. The analysis concludes that the author as a philosopher represents his ideas about humanity, power, law and order by using cartesian critical and rationalistic perspective. The epistolary form and the history of the East are used to disguise the critique about French sosio-political life and also to attract a certain body of readers.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
T37297
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hutapea, Kooshendrati
"Di Indonesia nama Montesquieu lebih dikenal di kalangan hukum karena karyanya yang termasyhur yang berjudul L'Esprit des Lois (Hakikat Hukum) (1748) biasanya dikaji secara mendalam di fakultas-fakultas hukum di negeri kita. Karya ini menjelaskan dan menjabarkan Trias Politica, yaitu pentingnya kekuasaan pemerintahan suatu negara dibagi dalam tiga kekuasaan yang terpisah: l.eksekutif, 2. yudikatif, dan 3. legislatif.
Di negeri kita tidak banyak orang yang mengenal Montesquieu sebagai pengarang biasa, sebagai penulis Lettres persanes misalnya. Pembaca Indonesia hanya mengenal Mdntesquieu sebagai seorang filsuf dengan gagasannya mengenai Trias Politica disamping filsuf-filsuf besar Perancis lainnya di abad ke-18 seperti Diderot, Voltaire, dan Rousseau, masing-masing dengan pemikirannya yang cemerlang.
Pelajaran sastra asing lebih ditekankan pada pengenalan sastra Inggris dengan membaca dan mempelajari baik karya-karya asli maupun karya-karya terjemahan Shakespeare dan pengarangpengarang Inggris atau Amerika lainnya. Karya-karya pengarang Perancis kurang dikenal.
Mengingat hal-hal tersebut di atas, peneliti merasa tertarik untuk mengkaji salah satu karya sastra Montesquieu yang terkenal. Karya ini berupa sebuah roman epistoler dan berjudul Lettres persanes (Surat-surat Persia)."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Montesquieu, Charles de Secondat,1689-1755
Jakarta: Dian Rakyat, 1992
920 MON s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Agus Darmaji
"Secara umum hermeneutik dimengerti sebagai teori penafsiran makna. Berdasarkan persoalan yang menjadi perhatian dalam hermeneutik, Josef Bleicher membagi hermeneutik menjadi tiga yaitu Teori Hermeneutik, Filsafat Hermeneutik, dan Hermeneutik Kritis. Hermeneutik Gadamer dimasukkan dalam kelompok Filsafat Hermeneutik. Filsafat Hermeneutik bertujuan untuk menerangkan dan membuat deskripsi fenomenologis atas Dasein dalam kaitan dengan temporalitas dan historisitasnya. Dengan demikian, pemikiran hermeneutik Gadamer dapat diringkaskan dengan istilah hermeneutik linguistik-ontologis daripada hermeneutik linguistik-epistemologis.
Dalam Truth and Method, Gadamer tidak bertujuan memberikan perangkat praktis untuk memahami dan menafsirkan teks, tetapi ingin menganalisis secara filosofis hakekat proses pemahaman dan penafsiran. Bagi Gadamer, hermeneutik lebih bersifat ontologis ketimbang epistemologis. Ia mengawali dengan analisis hermeneutis pengalaman estetis. Analisis tersebut mendasari analisis hakekat pemahaman hermeneutik. Baginya, pemahaman selalu terikat dengan aspek historisitasnya dan tidak melakukan usaha pemahaman dari kesadaran kosong. Aspek kesejarahan dan unsur-unsur subjektik penafsir menjadi prasyarat usaha pemahaman. Alih-alih mengejar objektivisme absolut-universal ditekankan sifat perspektif-kontekstual dalam usaha pemahaman seraya mengakui adanya otonomi pada subjek dan objek dalam proses tersebut, yang diistilahkan dengan cakrawala pemahaman. Pemahaman terjadi dalam peleburan cakrawala melalui percakapan dengan struktur pertanyaan-jawaban dan bahasa sebagai medium yang bersifat spekulatif dan terbuka. Meskipun bahasa menjadi kunci pemahaman pemikiran hermeneutiknya, namun Gadamer mengingatkan keterbatasan bahasa yang tidak mampu menghadirkan ada dari realitas yang ingin ditunjukkan.
Bahasa yang mempunyai ciri spekulatif dan keterbukaan tersebut menggarisbawahi bahwa Bahasa selalu ada dalam proses mejadi (becoming). Bahasa mempunyai dinamika otonom untuk menyingkapkan realitas dari ada (the being of reality). Bahasa bukan hasil aktivitas metodis subjek, melainkan pekerjaan dari realitas itu sendiri. Pekerjaan dari realitas itu sendiri merupakan gerakan spekulatif yang sesungguhnya, yang menggerakkan pembicara. Pergeseran arah yang ditegaskan Gadamer, yaitu dari realitas itu sendiri, dari proses membahasanya makna, menunjukkan suatu struktur ontologis-universal. Atas dasar hal ini pemahaman dapat mengarahkan diri."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yusra Khairunnisa
"ABSTRACT
Penelitian ini membahas mengenai kecantikan khas Jepang yang disajikan dalam iklan Shinzui sebagai produk lokal Indonesia selama dua dekade, yaitu dekade tahun 2000an dan dekade tahun 2010an. Penelitian ini ditulis dengan menggunakan teori semiotika oleh Roland Barthes. Metode yang digunakan skripsi ini adalah deskriptif analisis dan studi kepustakaan. Hasilnya adalah iklan-iklan Shinzui merepresentasikan cantik khas Jepang yaitu kulit putih alami, yang juga diinginkan di Indonesia. Kecenderungan iklan Shinzui terhadap Jepang karena citra Jepang yang baik di Indonesia, salah satunya mengenai kecantikan.

ABSTRACT
This study discusses the Japanese beauty presented in Shinzui advertisements as a local Indonesian product for two decades, 2000s and 2010s. This study was written using the theory of semiotics by Roland Barthes. The method used in this paper is descriptive analysis and literature study. The result is Shinzui advertisements represents Japans beautiful natural white skin, which is also desirable in Indonesia. The tendency of Shinzui advertisement towards to Japan because Japan has a good image in Indonesia, one of them is about beauty."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Putri Nugrahani
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2008
S5103
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Erika Iswari
"Berbagai media cetak atau pun elektronik yang memotret gaya hidup manusia modem mencerminkan relasi manusia modern yang cenderung eksploitatif, pragmatic, fungsional, dan berorientasi pada keuntungan pribadi. Implikasi yang muncul adalah kencederungan yang menjadi konformis dan logika pasar bermain dalam pola pikir dan tingkah laku manusia. Kecenderungan yang konformis inilah yang mewujud dalam diri manusia modern sebagaimana tergambar dalam berbagai media gaya hidup manusia modern. Setiap manusia mempunyai 'standar_standar' Baku penilaian dan relasinya dengan sesama manusia. Dirinya sendiri pun dituntut untuk memenuhi 'standar_standar' yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Menurut Fromm, hal ini tidak lepas dari pengaruh kapitalisme yang berawal dari keinginan manusia untuk lepas dari pengaruh dogma agama pada Abad Pertengahan. Keinginan ini muncul karena pada dasarnya manusia mempunyai kebebasan yang tak dapat dibendung lagi untuk melebarkan batas _ batas kemanusi annya. Ironisnya, pada saat manusia bebas maka ia justru menjadi ke k esepian. Hal ini dikarenakan manusia mengalami proses individuasi yang melepaskan manusia dari keadaan alamiahnya, yaitu rahim ibunya dan lingkungan pertama ia hidup. Kesepian dan keterpisahan yang manusia alami untuk menjadi individu yang utuh dan berintegrasi dapat diatasi dengan cara produktif yaitu dengan cinta dan karya produktif, atau dengan cara tidak produktif yaitu menyerahkan hidup dan kebebasannya pada 'sistem' yang merenggut keindividualitasan manusia. Fromm sendiri menyarankan cinta sebagai solusi permasalahan eksistensi manusia. Karena dalam cinta mewujud kebebasan untuk menjadi diri sendiri, untuk mencintai sesama, dan alam. Sehingga, manusia tidak terjebak dalam kecenderungan eksploitatif; pragmatis, dan konformis, yang mengarah pada mengkomoditikan pribadi atau alam. Cinta bagi Fromm adalah 'melebur' dan membuat sesuatu yang hidup tumbuh dalam pribadi manusia. Hal ini terwujud dalam aktivitas memberi (giving). Sebab memberi adalah ekspresi tertinggi manusia untuk mengeluarkan segala potensi kemanusiaannya demi penemuan 'rahasia' manusia melalui sikap care, respect, responsibility, dan knowledge. Keempat elemen tersebut akan mewujud dalam ekspresi tertinggi manusia yaitu memberi, termasuk memberi kebebasan. Kebebasan paling eksistensial yang dimaksud Fromm yaitu 'kebebasan untuk...' yang berlandaskan cinta. Tokoh Maria dalam novel Eleven Minutes karya Paulo Coelho adalah sarana penulis untuk meretleksikan pemikiran cinta Erich Fromm. Perjalanan hidup Maria dalam menghayati cintanya yang berliku_liku dan berujung pada pengakuan diri Maria bahwa yang terutama dalam hidup ini adalah bagaimana mencintai dengan sepenuh hati yang berarti memberikan kebebasan pada diri dan sesama, tanpa tendensi menjadi posesif. Hal inilah yang ingin penulis jadikan cermin dalam kehidupan relasi manusia modern yang ironis..."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S16113
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sinaga, Tuntun
"Indonesian phenomenon in the Australian literary works is considered to be important and interesting to discuss. Blanche d'Alpuget's Monkeys in the Dark as one of the Australia-Asia novels raises how Australian encountering Indonesia in the 1960s. This research is focused on how characters, settings, point of view and tone of narration of the novel work and form the representation of Indonesia. It showed that Indonesia is represented as a nation with its stereotype people, strange place and other degrading nature. The view of Indonesia is negative and a "significant other". This representation has something to do with Australian colonial discourse and with what Edward said terms, in the context of the East-West relationship, colonial discourse, image making and system of representations."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ruth Sih Kinanti
"Representation of homosexuality constructed by heterosexuality through various discourses has placed homosexuals as the other and the outsider in social life. Heterosexuality (as the dominant) constructs homosexuality (as the subordinate) based on their sexual behavior that is considered abnormal, immoral and not human. Therefore, they belong to no sexual category in heterosexual society.
The above mentioned situation has moved homosexuals to make resistance by constructing alternative homosexuality representation in any field, including literature. Through literature, homosexuals in the United States of America struggle for their identity in any discourses in 1980s in articles in newspapers, journals published by gay or anti gay organizations. And later representation of homosexuality constructed by heterosexuality was internalized by three plays: As Is, Safe Sex and The Way We Live Now but then deconstructed by Angels in America.
Just as the other plays in 1980s, As Is, Safe Sex and The Way We Live Now arise empathy and sympathy of the readers or the audience since they show the suffering of homosexuals having AIDS disease and representation of homosexuality as the Other, the Sinner and the Polluting person. Whereas Angels in America which was written in the same decade as the three mentioned plays, differ in presenting life, attitude, and courage of homosexuals towards Queer Culture era, an era that was begun in 1990 when homosexuals wanted to show homosexuality as a sexual identity.
Angels in America tries to make a new representation of homosexuality by using religion and AIDS, as also used by heterosexuality, as a political means to deconstruct and show homosexuality as a sexual identity, a third sexual category, as the honored man and Savior.
Homosexuality in Angels in America is regarded as sexual identity, just like male or female. It is not considered as a dirty and dangerous sexual behavior even one of the characters, a homosexual with AIDS, is elected as a prophet after having sexual intercourse with an angel. Instead of polluting the social life with their sexual behavior, homosexuality, and AIDS, has an important role as a prophet to bring human being towards a better life.

Representasi homoseksualitas yang dibuat oleh heteroseksualitas melalui berbagai bentuk wacana menempatkan mereka pada tempat tersisih dan di luar kehidupan masyarakat. Heteroseksualitas (sebagai pihak yang menguasai) membuat konstruksi homoseksualitas (yang dikuasai) berdasarkan perilaku seksual yang tidak umum, tidak normal, berdosa, dan tidak masuk aka!. Oleh karena itu, mereka menempatkan homoseksual pada tempat tersisih dan tidak dapat digolongkan pada kategori seksual yang dibuat oleh masyarakat.
Keadaan tersebut telah mendorong para homoseksual untuk membuat resistensi dengan membuat representasi homoseksualitas tandingan, misalnya lewat bidang sastra. ltulah yang diperjuangkan oleh para homoseksual di Amerika Serikat. Perjuangan mereka muncul dalam wacana-wacana pada tahun 1980-an dalam artikel di surat kabar, di jurnal baik yang dikeluarkan oleh organisasi gay atau anti gay dan kemudian diinternalisasi oleh tiga drama pendek As 1s, Safe Sex, dan The Way We Live Now dan dibongkar oleh Angels in America.
Seperti drama-drama gay pada umumnya pada waktu itu, As 1s, Safe Sex dan The Way We Live Now menimbulkan empati dan simpati pembaca atau penontonnya karena menampilkan representasi homoseksual sebagai Yang Lain, Yang Berdosa dan yang Mencemari seperti yang dibuat oleh heteroseksualitas. Sedangkan drama Angels in America yang berada pada dekade yang sama dengan ketiga drama di atas, mempunyai perbedaan dalam menampilkan kehidupan, sikap, dan kemauan para homoseksual yang lebih berani menuju era Queer Culture, suatu era yang dimulai tahun 1990 ketika para homoseksual menampilkan homoseksualitas sebagai identitas seksual.
Sama seperti heteroseksualitas yang menggunakan agama dan AIDS sebagai alat politik untuk membuat representasi homoseksualitas, Angels in America membuat representasi homoseksualitas yang baru yaitu sebagai identitas seksual, Yang mulia dan Penyelamat.
Homoseksualitas dalam Angels in America dipandang sebagai identitas seksual, sama seperti laki-laki atau perempuan dan tidak dipandang kotor bahkan diangkat menjadi nabi. Oleh karena itu, tidak mencemari kehidupan masyarakat dengan perilaku seksual dan AIDS, yang identik dengan homoseksual, tetapi menyelamatkan kehidupan manusia dengan menyadarkan mereka untuk segera bertindak untuk kehidupan yang lebih baik."
2001
T3600
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>