Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 145079 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Angela Chandra Mitha Nusatia
"Berbagai penelitian memperlihatkan angka resistensi kuman patogen meningkat dengan tajam, sehingga angka morbiditas dan mortalitas akibat infeksi nosokomial makin meningkat pula. Penyebab resistensi utama pada kuman Gram negatif antara lain adalah extended-spectrum beta-lactamases (ESBLs) pada Klebsiella pneumoniae dan Escherichia coli. Dalam pemilihan pengobatan empirik untuk infeksi nosokomial, klinisi perlu mempertimbangkan pola resistensi setempat.
Frekuensi kuman patogen dan pola resistensi dapat sangat berbeda antara satu negara dengan negara lain dan juga antar rumah sakit dalam suatu negara. Oleh karena itu surveilans setempat perlu dilakukan agar dapat menjadi pedoman pemberian terapi empirik dan tindakan-tindakan pengendalian infeksi.
Pada penelitian ini uji resistensi dilakukan terhadap Klebsiella pneumoniae penghasil ESBL dan Escherichia colt penghasil ESBL dengan menggunakan metode Kirby-Bauer. Sejumlah 37 isolat Klebsiella pneumoniae penghasil ESBL dan 35 isolat Escherichia coif penghasil ESBL diperoleh sejak bulan September 2003 sampai dengan Mel 2004 dari 3 laboratroium di Jakarta dan Karawaci.
Prevalensi Klebsiella pneumoniae penghasil ESBL adalah sebesar 33,03% dan Escherichia coli penghasil ESBL 20,11% Sensitivitas Kiebsiella pneumoniae penghasil ESBL terhadap meropenem, siprofloksasin, levofloksasin, piperasilinltazobaktam, sefoperazonlsulbaktam dan sefepim berturut-turut adalah 100%, 45,95%, 51,95%, 78,38%, 62,16% dan 72,97%. Dan sensitivitas Escherichia coli penghasil ESBL terhadap meropenem, siprofloksasin, levofloksasin, piperasilinltazobaktarn, sefoperazonlsulbaktam dan sefepim berturut-turut adalah 100%, 37,14%, 28,57%, 97,14%, 82,86% dan 60%.

Multiple surveillance studies have demonstrated that resistance among prevalent pathogen is increasing at an alarming rate, leading to greater patient morbidity and mortality from nosocomial infection. Important causes of Gram-negative resistance include extended-spectrum beta-lactamases (ESBLs) in Klebsiella pneumoniae and Escherichia coll. In selecting an empiric treatment for a nosocomial infection, one should consider the prevalent resistance patterns.
Pathogen frequency and resistance patterns may vary significantly from country to country and also in different hospitals within a country. Thus regional surveillance programs are essential to guide empirical therapy and infection control measures.
In this study antimicrobial susceptibility testing was performed using the Kirby-Bauer method against the ESBL producing K. pneumoniae and E. coli A total of 37 ESBL producing K. pneumoniae isolates and 35 ESBI producing E coil isolates were obtained from September, 2003 to May, 2004 from 3 laboratories in Jakarta and Karawaci.
The prevalence of ESBL producing K. pneumoniae was 33,03% and ESBL producing E. coil 20,11%. Susceptibility of ESBL producing K. pneumoniae isolates to meropenem, ciprofloxacin, levofloxacin, piperacillin/tazobactam, cefoperazonfsulbactam and cefepime was 100%, 45,95%, 51,95%, 78,38%, 62,16% and 72,97% respectively. And susceptibility of ESBL producing E. coil isolates to meropenem, ciprofloxacin, levofloxacin, piperacillinltazobactam, cefoperazonlsulbactam and cefepime was 100%, 37,14%, 28,57%, 97,14%, 82,86% and 60% respectively.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Hayatunnufus
"Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan global yang mengancam efektivitas pengobatan infeksi bakteri. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap resistensi antibiotik adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Puskesmas Jatinegara, sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penggunaan antibiotik secara bijak. Laporan ini membahas pelaksanaan promosi kesehatan berbasis Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) yang dilakukan di Puskesmas Jatinegara dengan fokus pada penggunaan antibiotik yang bijak serta cara penggunaan sediaan Amoksisilin. Metode yang digunakan meliputi edukasi non-interaktif kepada pasien yang sedang menunggu pelayanan di Instalasi Farmasi Puskesmas. Media promosi yang digunakan berupa poster dan brosur yang telah disesuaikan dengan pedoman GeMa CerMat. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi dapat dilakukan secara efektif untuk meningkatkan pemahaman pasien terkait antibiotik. Namun, terdapat keterbatasan dalam evaluasi dampak terhadap perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, disarankan agar kegiatan serupa di masa depan dilengkapi dengan metode evaluasi pre-test dan post-test guna mengukur efektivitas edukasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan antibiotik secara bijak. Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan langkah penting dalam memastikan efektivitas, keamanan, dan rasionalitas penggunaan obat pada pasien. Laporan ini membahas PTO yang dilakukan terhadap pasien dengan Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) yang mengalami komorbiditas vertigo perifer dan osteoartritis genu dextra di RSUD Cengkareng. Tujuan dari PTO ini adalah mengidentifikasi masalah terkait terapi obat (Drug-Related Problems/DRP) dan memberikan rekomendasi penyelesaiannya. Metode yang digunakan dalam PTO ini adalah observasi prospektif dengan pengumpulan data dari rekam medis, formulir pengobatan pasien, serta wawancara dengan pasien dan keluarga. Hasil analisis menunjukkan adanya beberapa DRP, termasuk efektivitas terapi yang tidak optimal, kejadian efek samping obat, serta interaksi obat yang berpotensi merugikan pasien. Untuk mengatasi hal tersebut, Penulis menyarankan berbagai potensi intervensi termasuk penyesuaian dosis, modifikasi regimen terapi, serta edukasi kepada pasien dan tenaga kesehatan terkait. Kesimpulan dari laporan ini menegaskan bahwa keterlibatan apoteker dalam tim pelayanan kesehatan sangat krusial dalam mengoptimalkan terapi pasien dan meminimalkan risiko DRP. Oleh karena itu, implementasi PTO yang sistematis dan evidence-based sangat dianjurkan dalam praktik kefarmasian di rumah sakit untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan keselamatan pasien.

Antibiotic resistance is a global health issue that threatens the effectiveness of bacterial infection treatments. One of the primary factors contributing to antibiotic resistance is the irrational use of antibiotics. As a primary healthcare facility, Jatinegara Public Health Center (Puskesmas Jatinegara) plays a crucial role in raising public awareness about the prudent use of antibiotics. This report discusses the implementation of health promotion based on the Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat movement (Community Movement for the Smart Use of Medicines) or “GeMa CerMat” conducted at Puskesmas Jatinegara, focusing on the proper use of antibiotics and Amoxicillin administration. The method used involved noninteractive education for patients waiting for services at the pharmacy of the health center. Promotional materials included posters and brochures adapted from GeMa CerMat guidelines. The results of this initiative indicate that education can be effectively conducted to improve patient understanding of antibiotics. However, there are limitations in evaluating its impact on behavioral changes in the community. Therefore, it is recommended that future similar activities incorporate pre-test and post-test evaluations to measure the effectiveness of educational efforts in increasing public awareness of responsible antibiotic use. Medication Review (PTO) is a crucial step in ensuring the effectiveness, safety, and rational use of drugs in patients. This report discusses the PTO conducted on a patient with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) who also had comorbid peripheral vertigo and osteoarthritis genu dextra at RSUD Cengkareng. The objective of this PTO was to identify Drug-Related Problems (DRPs) and provide recommendations for their resolution. The method used in this PTO was prospective observation, with data collected from medical records, patient therapy forms, and interviews with the patient and her family. The analysis revealed several DRPs, including suboptimal therapeutic effectiveness, adverse drug reactions, and potentially harmful drug interactions. To address these issues, the author suggests various potential interventions, including dose adjustments, therapy regimen modifications, and education for patients and healthcare professionals. The conclusion of this report emphasizes that the involvement of pharmacists in healthcare teams is crucial for optimizing patient therapy and minimizing the risk of DRPs. Therefore, the systematic and evidence-based implementation of PTO is highly recommended in hospital pharmacy practice to improve the quality of healthcare services and ensure patient safety. "
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2024
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Mishbahus Surur
"Resistensi antibiotik merupakan permasalahan kesehatan global yang memerlukan perhatian serius, terutama di negara-negara berkembang dengan tingkat penggunaan antibiotik yang tinggi seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan pengunjung Apotek Kimia Farma 321 Lamongrejo mengenai penggunaan antibiotik secara rasional dan memberikan intervensi edukasi terkait. Metode yang digunakan adalah observasional non-eksperimental dengan rancangan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui survei terstruktur yang terdiri dari 16 pertanyaan serta dilengkapi dengan kegiatan edukasi dan pembagian brosur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (60%), diikuti oleh sangat baik (20%), cukup (15%), dan kurang (5%). Analisis topik survei menunjukkan bahwa pengetahuan terkait cara penggunaan antibiotik memiliki tingkat pemahaman terendah (76,7%), dengan kesalahan persepsi terutama pada penghentian konsumsi antibiotik saat gejala membaik. Intervensi edukasi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman responden terkait penggunaan antibiotik yang tepat. Kesimpulan penelitian ini menekankan pentingnya pelaksanaan edukasi berkelanjutan untuk mencegah resistensi antibiotik. Studi lanjutan dengan cakupan responden yang lebih luas dan pendekatan multidisiplin diperlukan untuk mengoptimalkan strategi pengendalian resistensi antibiotik.

Antibiotic resistance is a global health issue requiring serious attention, particularly in developing countries with high antibiotic usage rates, such as Indonesia. This study aims to evaluate the knowledge level of visitors to Kimia Farma Pharmacy 321 Lamongrejo regarding rational antibiotic use and to provide educational interventions on the subject. The study employed a non-experimental observational method with a cross-sectional design. Data were collected through a structured survey comprising 16 questions, complemented by educational activities and the distribution of brochures. The results indicated that the majority of respondents demonstrated a good level of knowledge (60%), followed by very good (20%), sufficient (15%), and poor (5%). Topic-specific analysis revealed that knowledge related to antibiotic usage had the lowest understanding level (76.7%), with misconceptions particularly evident in stopping antibiotic consumption when symptoms improve. Educational interventions proved effective in enhancing respondents’ understanding of proper antibiotic use. The study concludes that continuous educational efforts are essential to prevent antibiotic resistance. Further research with a larger sample size and a multidisciplinary approach is recommended to optimize strategies for controlling antibiotic resistance. "
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2024
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dzakia Muthmainna
"Munculnya tren Antimicrobial Resistance (AMR) menjadi ancaman bagi kesehatan global dan merupakan tantangan dalam pengelolaan kualitas air, khususnya terkait keberadaan bakteri Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) producing Escherichia coli yang resisten terhadap antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi dosis klorin serta waktu kontak terhadap isolat bakteri Total E. Coli dan ESBL E. Coli. Percobaan klorinasi dilakukan dengan lab-scale experiment menggunakan sampel isolat yang berasal dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Rumah Sakit X. Jenis klorin yang digunakan pada eksperimen merupakan larutan induk Sodium Hypochlorite (NaClO) 0.2% dengan percobaan pada dosis 0.5 mg/L, 1 mg/L dan 2 mg/L. Pengukuran dilakukan terhadap pertumbuhan bakteri setelah percobaan, hasil menunjukkan bahwa dosis tertinggi, yaitu 2 mg/L dapat menurunkan konsentrasi akhir ter-rendah untuk bakteri ESBL E. Coli pada total waktu kontak 4 menit. Percobaan juga meneliti rasio bakteri ESBL E. Coli terhadap Total E. Coli, didapatkan bahwa rasio ESBL E. coli terhadap Total E. coli meningkat pada dosis klorin dan waktu kontak tertentu dan baru dapat diturunkan pada dosis tertinggi yaitu 2 mg/L. Hal ini mengindikasikan potensi seleksi bakteri resisten akibat proses disinfeksi.

The emergence of the Antimicrobial Resistance (AMR) trend poses a global health threat and is a challenge in water quality management, particularly regarding the presence of Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) producing Escherichia coli bacteria, which are resistant to antibiotics. This research aims to analyze the effect of variations in chlorine dose and contact time on isolates of Total E. coli and ESBL E. coli bacteria. Chlorination experiments were conducted using a lab-scale setup with isolate samples originating from the Wastewater Treatment Plant (WWTP) of Hospital X. The type of chlorine used in the experiment was a 0.2% Sodium Hypochlorite (NaClO) stock solution, with experiments conducted at doses of 0.5 mg/L, 1 mg/L, and 2 mg/L. Measurements were taken of bacterial growth after the experiment. The results show that the highest dose, 2 mg/L, achieved the lowest final concentration of ESBL E. coli after a total contact time of 4 minutes. The study also examined the ratio of ESBL E. coli to Total E. coli, finding that this ratio increased at certain chlorine doses and contact times, and only began to decrease at the highest dose of 2 mg/L. This indicates the potential for the selection of resistant bacteria as a result of the disinfection process."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Danastri Kusumawardhani
"Antimicrobial Resistance (AMR) menjadi isu global akibat meningkatnya kegagalan pengobatan dan penyebaran Extended-Spectrum Beta-Lactamase Producing Escherichia coli (ESBL-Ec) yang banyak ditemukan di lingkungan perairan seperti sungai. Sungai menjadi jalur utama bagi masuknya berbagai limbah, yang dapat membawa ESBL-Ec ke lingkungan. Untuk itu, analisis gen penanda spesifik diperlukan untuk mengidentifikasi sumber kontaminasi ESBL-Ec dan memahami jalur kontaminasi di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan gen penanda ESBL-Ec di air sungai serta jalur kontaminasinya menuju lingkungan dan potensi paparannya terhadap manusia. Studi dilakukan di dua lokasi, yakni Sungai Ciliwung (DKI Jakarta dan Jawa Barat) dan Sungai Brangbiji (Kabupaten Sumbawa, NTB), menggunakan pendekatan Microbial Source Tracking (MST) berbasis metode Polymerase Chain Reaction (PCR) terhadap empat kelompok gen penanda sumber pencemar, yaitu manusia (H8, H12), sapi (Co2, Co3), ayam (Ch7, Ch9, Ch12, Ch13), dan air limbah (W_nqrC, W_clsA_2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Sungai Ciliwung, keberadaan gen penanda tertinggi adalah air limbah dan ayam, ditunjukkan oleh seluruh isolat (n = 80) yang terdeteksi pada kedua kelompok gen tersebut. Gen penanda manusia dan sapi juga menunjukkan deteksi tinggi, dengan 79 dari 80 isolat menunjukkan keberadaan kedua kelompok gen ini. Di Sungai Brangbiji, seluruh isolat (n = 6) terdeteksi terhadap keempat kelompok gen penanda. Jalur kontaminasi utama di kedua sungai umumnya berasal dari pembuangan limbah domestik dan peternakan yang tidak melalui pengolahan, serta kontribusi dari efluen IPAL. Limbah ini masuk ke badan sungai melalui drainase terbuka, aliran permukaan, atau aktivitas langsung di sekitar bantaran sungai. Temuan ini menunjukkan bahwa sanitasi yang buruk dan pengelolaan limbah yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko paparan ESBL- Ec terhadap manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lingkungan. Berdasarkan hasil tersebut, metode MST berbasis PCR terbukti dapat memberikan gambaran mengenai kemungkinan sumber kontaminasi di perairan serta memetakan jalur kontaminasi ESBL-Ec yang berkaitan dengan aktivitas manusia dan hewan di lingkungan sekitar.

Antimicrobial Resistance (AMR) has become a global concern due to the increasing incidence of treatment failure and the spread of Extended-Spectrum Beta- Lactamase Producing Escherichia coli (ESBL-Ec), which is commonly found in aquatic environments such as rivers. Rivers serve as major pathways for the entry of various waste streams into the environment, potentially carrying ESBL-Ec. Therefore, the analysis of specific marker genes is necessary to identify the sources of ESBL-Ec contamination and to understand its contamination pathways in aquatic systems. This study aims to analyze the presence of ESBL-Ec marker genes in river water, trace their contamination pathways into the environment, and assess the potential exposure risk to humans. The study was conducted in two locations, namely the Ciliwung River (Jakarta and West Java) and the Brangbiji River (Sumbawa Regency, West Nusa Tenggara), using a Microbial Source Tracking (MST) approach based on Polymerase Chain Reaction (PCR) targeting four groups of specific marker genes including human (H8, H12), cattle (Co2, Co3), chicken (Ch7, Ch9, Ch12, Ch13), and human wastewater (W_nqrC, W_clsA_2). The results showed that in the Ciliwung River, the highest prevalence of marker genes was observed for wastewater and chicken, with both gene groups detected in all isolates (n = 80). Human and cattle markers were also highly prevalent, found in 79 out of 80 isolates. In the Brangbiji River, marker genes from all four source categories were detected in all isolates (n = 6).The main contamination pathways in both rivers generally originated from unprocessed domestic and livestock waste discharges, along with contributions from wastewater treatment plant effluents. These wastes entered the river bodies through open drains, surface runoff, or direct activities near the riverbanks. These findings indicate that poor sanitation and inadequate waste management can elevate the risk of human exposure to ESBL-Ec, either directly or indirectly through environmental contact. Based on these results, the PCR-based MST approach demonstrates its capability to provide an overview of potential contamination sources in aquatic environments and to map the contamination pathways of ESBL-Ec linked to human and animal activities in the surrounding area."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Laela Fitriah
"Pendahuluan: Peningkatan resistensi antibiotik global menjadikan kolistin sebagai pilihan terapi untuk infeksi bakteri pandrug resistant (PDR). Namun, karena efek nefrotoksiknya, pemilihan kolistin harus dilakukan secara hati-hati setelah diperoleh hasil uji kepekaannya. Sifat molekul kolistin yang kompleks menyebabkan uji kepekaan tidak dapat dilakukan dengan metode difusi cakram atau mesin otomatis yang tersedia, sehingga diperlukan metode lain yang praktis dan dengan hasil yang baik.
Metode: Sebanyak 120 isolat bakteri Gram negatif, terdiri dari Acinetobacter baumannii, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, masing-masing berjumlah 30 isolat diuji kepekaannya terhadap kolistin. Metode uji menggunakan media CHROMagar Col-APSE dan sebagai baku emas digunakan metode broth microdilution (BMD). Hasil uji kepekaan dianalisis untuk mendapatkan sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value, negative predictive value, positive likelihood ratio, negative likelihood ratio serta akurasi.
Hasil: Ditemukan sebanyak 20 isolat yang resisten terhadap kolistin dari 120 isolat yang diuji pada media CHROMagar Col-APSE. Diantara 20 isolat yang resisten kolistin tersebut, hanya 10 isolat yang resisten kolistin pada uji kepekaan dengan metode BMD. Didapatkan nilai sensitivitas 100% (95% CI, 72,25 – 100), spesifisitas 90,91% (95% CI, 84,07 – 94,9), Positive Predictive Value (PPV) 50% (95% CI, 29,93 – 70,07), Negative Predictive Value 100% (95% CI, 96,3 – 100), positive likelihood ratio 11 (95% CI, 9,04 – 13,38), negative likelihood ratio 0 (95% CI 0), dan nilai akurasi diagnostik 91.67% (95%CI, 85.34 – 95.41).
Kesimpulan: Uji kepekaan bakteri Gram negatif terhadap kolistin dapat dilakukan menggunakan CHROMagar Col-APSE, dengan interpretasi dengan hati-hati. Bila hasil uji kepekaan bakteri Gram negatif terhadap kolistin ditemukan resisten berdasarkan CHROMagar Col-APSE, maka hasil tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut menggunakan metode BMD.

Introduction: The global increase in antibiotic resistance has made colistin a therapeutic option for infections caused by pandrug-resistant (PDR) bacteria. However, due to its nephrotoxic effects, the use of colistin must be administered carefully after susceptibility test results are obtained. The complex molecular structure of colistin renders susceptibility testing unsuitable using the disc diffusion method or automated systems. Therefore, alternative methods that are both practical and capable of delivering accurate and reliable results are required.
Methods: A total of 120 Gram-negative bacterial isolates, consisting of Acinetobacter baumannii, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, and Pseudomonas aeruginosa with a total of 30 isolates were tested for susceptibility to colistin. The susceptibility testing was conducted using CHROMagar Col-APSE, with the broth microdilution (BMD) method serving as the gold standard. The results were analyzed to determine sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, positive likelihood ratio, negative likelihood ratio, and accuracy.
Results: A total of 20 colistin resistant isolates were identified out of 120 isolates tested on CHROMagar Col-APSE. Among these, only 10 isolates were confirmed as colistin-resistant by the broth microdilution (BMD) method. The analysis yielded a sensitivity of 100% (95% CI, 72.25–100), specificity of 90.91% (95% CI, 84.07–94.9), positive predictive value (PPV) of 50% (95% CI, 29.93–70.07), negative predictive value (NPV) of 100% (95% CI, 96.3–100), positive likelihood ratio of 11 (95% CI, 9.04–13.38), negative likelihood ratio of 0 (95% CI, 0), and diagnostic accuracy of 91.67% (95% CI, 85.34–95.41).
Conclusion: Colistin susceptibility testing for Gram-negative bacteria can be performed using CHROMagar Col-APSE, with careful interpretation. When colistin resistance is detected in Gram-negative bacteria based on CHROMagar Col-APSE results, these findings should be further confirmed using the broth microdilution (BMD) method.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Astika Dewi
"Pendahuluan: Indonesia menduduki peringkat kedua negara dengan kasus tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia dan termasuk dalam lima negara dengan kasus Multidrug resistance tuberculosis (TB MDR) tertinggi. Tes cepat yang digunakan di Indonesia adalah geneXpert® MTB/RIF, tetapi geneXpert® MTB/RIF hanya dapat mendeteksi resistensi terhadap rifampisin masih merupakan produk luar negeri, harganya mahal dan memiliki keterbatasan dalam pendistribusian. Prüfen® GB101 merupakan tes cepat yang dapat digunakan untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis (MTB) dan menentukan kepekaannya terhadap rifampisin dan isoniazid, dapat menggunakan kit uji yang merupakan teknologi dalam negeri (TKDN). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian hasil pemeriksaan sputum antara Prüfen® GB101 dan geneXpert® MTB/RIF. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang pada sputum yang diambil dari pasien terduga tuberkulosis di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Depok pada bulan Mei hingga September 2023. Pemeriksaan sputum dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam (BTA), PRÜFEN® GB101, dan geneXpert® MTB/RIF. Hasil: Terdapat 81 dahak yang dianalisis dalam penelitian ini. Kesesuaian hasil deteksi MTB menggunakan Prüfen® GB101 dengan geneXpert® MTB/RIF pada dahak langsung memberikan nilai kappa 0,7 (p <0,001). Kesesuaian hasil uji sensitivitas MTB terhadap rifampisin menggunakan Prüfen® GB101 dengan gen Xpert® MTB/RIF pada sputum langsung memberikan nilai kappa sebesar 1 (p <0,001). Kesimpulan: Prüfen® GB101 memiliki kesesuaian yang kuat dengan gen Xpert® MTB/RIF dalam mendeteksi MTB pada sputum langsung, sehingga Prüfen® GB101 merupakan assay yang memiliki performa yang sesuai dengan gen Xpert® MTB/RIF dalam mendeteksi MTB pada sputum langsung. Prüfen® GB101 memiliki kesesuaian yang sangat kuat dengan gen Xpert® MTB/RIF dalam menentukan kepekaan terhadap rifampisin, sehingga Prüfen® GB101 merupakan uji yang memiliki performa yang sama dengan gen Xpert® MTB/RIF dalam mendeteksi MTB pada sputum langsung.

Introduction: Indonesia is the second country with the most tuberculosis (TB) cases in the world and is among the five countries with the highest cases of multidrug resistant tuberculosis (MDR TB). The rapid test used in Indonesia is geneXpert® MTB/RIF, but geneXpert® MTB/RIF can only detect resistance to rifampicin, an import product that is expensive and has limitations in distribution. Prüfen® GB101 is a rapid test that can be used to detect Mycobacterium tuberculosis (MTB) and determine the susceptibility of MTB to rifampicin and isoniazid. Prüfen® GB101 can use kits that are available in domestic technology. This study aims to determine the suitability of sputum examination results between Prüfen® GB101 and geneXpert® MTB/RIF. Methods: A cross-sectional study was conducted on sputum taken from suspected tuberculosis patients at Universitas Indonesia Hospital Depok from May to September 2023. Sputum was examined microscopically for acid fast bacilli (AFB), PRÜFEN® GB101, and geneXpert® MTB/RIF. Results: Eighty-one sputum were analyzed in this study. The concordance of MTB detection results using Prüfen® GB101 with geneXpert® MTB/RIF in direct sputum gave a kappa value of 0.7 (p <0.001). The concordance of MTB sensitivity test results to rifampicin using Prüfen® GB101 with geneXpert® MTB/RIF in direct sputum gave a kappa value of 1 (p <0.001). Conclusion: Prüfen® GB101 has a strong concordance with the Xpert® MTB/RIF gene in detecting MTB in direct sputum Prüfen® GB101 has equal performance with the Xpert® MTB/RIF gene in detecting MTB on direct sputum. Prüfen® GB101 has a very strong agreement with gene Xpert® MTB/RIF in determining susceptibility to rifampicin Prüfen® has the same performance as gene Xpert® MTB/RIF in detecting MTB on direct sputum."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nathania Sutandi
"ABSTRAK
Resistensi antibiotik telah menjadi ancaman global. Salah satu contoh organisme yang resisten terhadap lebih dari satu antibiotik adalah methicillin-resistant Staphylococcus aureus MRSA . Dalam menghadapi permasalahan ini, alternatif yang dapat dipilih adalah dengan menggunakan tanaman herbal, yaitu Samanea saman. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui efek antibakteri Samanea saman pada MRSA dan non-MRSA.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri ekstrak Samanea saman pada MRSA dan non-MRSAMetode: Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Untuk memperoleh nilai minimum inhibitory concentration MIC digunakan broth dilution method. Selain itu, dilakukan pula penentuan nilai minimum bactericidal concentration MBC , dan jumlah koloni.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun Samanea saman terbukti tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap MRSA dan non-MRSA. Bakteri tumbuh di seluruh konsentrasi ekstrak yang digunakan. Nilai MIC dan MBC tidak dapat ditentukan. Selain itu, jumlah koloni bakteri pada setiap plat terhitung melebihi 250 koloni. Aktivitas antibakteri Samanea saman pada MRSA dan non-MRSA tidak dapat dibandingkan.Kesimpulan: Ekstrak metanol daun Samanea saman tidak memiliki efek antibakteri terhadap MRSA dan non-MRSA Kata kunci: MBC; MIC; MRSA; non-MRSA; Samanea saman.

ABSTRACT
Antibacterial resistance has been such a global burden nowadays. The well known example of multi drug resistance organism is the methicillin resistant Staphylococcus aureus MRSA . In response to the antibacterial resistance, the alternative that can be considered is the usage of herbal plant such as Samanea saman. Therefore, a research needs be conducted to investigate the antibacterial effect of Samanea saman on MRSA and non MRSA. Purpose This research aim is to compare the antibacterial activity of Samanea saman extract on MRSA and non MRSAMethods This research is an experimental study. To obtain the value of minimum inhibitory concentration MIC , broth dilution method was used. The value of minimum bactericidal concentration MBC and the number of colonies were also determined.Result This study revealed that methanol extract of Samanea saman leaves has no antimicrobial activity against MRSA and non MRSA. The bacteria grow in all concentration of the extract and therefore the MIC and MBC value could not be obtained. The level of antibacterial activity of Samanea saman in MRSA and non MRSA could not be compared.Conclusion The methanol extract of Samanea saman leaves does not have any antibacterial effect against MRSA and non MRSA. Key words MBC MIC MRSA non MRSA Samanea saman"
2016
S70436
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azzahrah Khairunnisa Mardhiyah
"Acinetobacter baumannii merupakan bakteri Gram-negatif penyebab infeksi nosokomial yang menjadi ancaman global karena tingkat resistan yang tinggi terhadap berbagai antibiotik, termasuk karbapenem sebagai antibiotik lini terakhir. Resistansi ini terutama disebabkan oleh enzim karbapenemase yang dikodekan Gen blaOXA-23, blaOXA-24, blaOXA-58, dan blaNDM. Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi pola resistansi fenotipik, distribusi gen resistansi, dan karakterisasi molekuler gen-gen tersebut pada 17 isolat klinis A. baumannii dari RSCM tahun 2022 menggunakan PCR dan DNA sekuensing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh isolat tetap resistan terhadap meropenem, dengan gen blaOXA-23 terdeteksi pada 17 isolat (100%), sehingga menjadi gen dominan yang berperan dalam resistansi. Sementara itu, genblaOXA-24 hanya ditemukan pada dua isolat (11,78%), sedangkan gen blaOXA-58 dan blaNDM tidak terdeteksi pada isolat yang diuji. Selain itu, analisis sekuens gen blaOXA-23 mengungkapkan tidak adanya variasi nukleotida maupun asam amino, yang mengindikasikan stabilitas gen ini di antara isolat yang diteliti. Lebih lanjut, hasil pemodelan molekuler menunjukkan bahwa doripenem dan ertapenem memiliki afinitas pengikatan yang lebih tinggi terhadap enzim karbapenemase jika dibandingkan dengan imipenem dan meropenem, sehingga lebih rentan dihidrolisis oleh enzim ini.

Acinetobacter baumannii is a Gram-negative bacteria responsible for nosocomial infections and is considered a global threat due to its high level of resistance to various antibiotics, including carbapenems, which are often regarded as last-resort antibiotics. This resistance is primarily attributed to β-lactamase enzymes encoded by the blaOXA-23, blaOXA-24,blaOXA-58, and blaNDM genes. This study aimed to evaluate the phenotypic resistance patterns, the distribution of resistance genes, and the molecular characterization of these genes in 17 clinical isolates of A. baumannii obtained from RSCM in 2022 using PCR and DNA sequencing. The results revealed that all isolates remained resistant to meropenem, with blaOXA-23 detected in all 17 isolates (100%), making it the dominant gene contributing to resistance. Meanwhile, the blaOXA-24 gene was identified in only two isolates (11.78%), whereas blaOXA-58 and blaNDM were not detected in any isolates. Additionally, sequencing analysis of blaOXA-23 showed no nucleotide or amino acid variations, indicating the stability of this gene among the tested isolates. Furthermore, molecular modeling demonstrated that doripenem and ertapenem exhibited higher binding affinities to carbapenemase enzymes compared to imipenem and meropenem, rendering them more susceptible to hydrolysis by these enzymes."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>