Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 77198 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Bayu Setiawan
"Teknik induksi yang optimal tanpa pelumpuh otot untuk pemasangan sungkup laring (LMA) diharapkan dapat menjamin kondisi insersi yang baik dengan tetap menjaga stabilitas kardiovaskular. Penelitian ini membandingkan kemudahan pemasangan LMA dan kestabilan hemodinamik kombinasi fentanil 2 u/kgbb IV dengan etomidat dosis 0.2, 0.3, dan 0.4 mg/kgbb IV.
Penelitian ini dilakukan dengan acak tersamar ganda terhadap 98 pasien ASA 1-2, usia 18-65 tahun. Setiap pasien mendapat premedikasi fentanil 2u/kgbb IV 3 menit sebelum induksi. Pasien dibagi menjadi 3 kelompok : kelompok pertarna (n=33) mendapat induksi etomidat 0.2 mg/kgbb IV, kelompok kedua (n=32) mendapat induksi etomidat 03 mg/kgbb IV, dan kelompok terakhir (n=33) mendapat induksi etomidat 0.4 mg/kgbb IV. Setelah itu dilakukan pemasangan LMA. Parameter hemodinamik pasien (tekanan darah sistolik, diastolik. MAP. dan laju nadi) dicatat 3 menit setelah premedikasi, segera setelah induksi, 1 menit dan 3 menit setelah pemasangan LMA. Kondisi insersi LMA digradasikan sebagai baik, sedang, dan buruk.
Kondisi insersi terbaik didapat pada kelompok yang mendapat etomidat 0.4 mg/kgbb IV. Kondisi insersi terbaik didapat pada kelompok yang mendapat etomidat 0.2 mg/kgbb IV. Profil hemodinamik ketiga kelompok tidak berbeda bermakna.
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa kombinasi premedikasi fentanil u/kgbb IV dengan induksi etomidat 0.4 mg/kgbb IV paling optimal untuk insersi LMA, dari segi kondisi insersi serta kestabilan hemodinamik.

Optimum induction technique without muscle relaxant for LMA insertion is expected to guarantee good insertion condition, while maintaining stable haemodynamics. This study was to compare Li1L1 insertion condition and haemodynamics stability under combination of fentanyl 2u/kgbw IV and etonidate 0.4 mg/kgbw IV.
Included in this study were 98 patients ASA 1-2, ages 18-65 years old, pretreated in randomized double blind fashion. Each patient was premedicated with fentanyl 2u/kgbw IV 3 minutes before induction. These patients were allocated into 3 groups. Patients hr the first group (n=33), second (n=32), and third (n=33) were induced with etomidate 0.2, 0.3, and 0,4 mg/kgbw IV respectively. Then the LMA was inserted by standard technique. The patient's systolic and diastolic blood pressures, MAP and heart rate were noted 3 minutes after premedication, immediately after induction, 1 and 3 minutes after LAM insertion. Insertion condition was graded as good fair, and poor.
The best insertion condition was found in patients receiving etomidate 0.4 mg/kgbw The worst insertion condition was found in patients receiving etomidate 0.2 mg/kgbw IV Haemodynamics profile in the 3 groups didn't differ significantly.
Based on this study, we concluded that combination fentanyl 2u/kgwi IV premedication with etomidate 0.4 mg/kgbw IV for induction is the optimum combination for LMA insertion, in terms of insertion condition and Haemodynamics stability."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Made Wahyuni
"Latar belakang : Rasa kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi tindakan medis atau operasi pada anak lebih besar dibandingkan pada orang dewasa. Sebaiknya saat anak masuk masuk kamar bedah sudah diberikan obat premedikasi. Premedikasi melalui tetes hidung mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan melalui jalur lainnya. Obat premedikasi yang umum diberikan melalui fetes hidung adalah midazolam dan ketamin.
Metode : Penelitian ini dilakukan pada 30 subyek penelitian yang akan menjalani tindakan medis elektif, ASA I atau II dengan uji klinis tersamar ganda. Subyek penelitian dibagi dua kelompok ; Kelompok Midazoiam yaitu premedikasi tetes hidung midazolam dosis 0,2 mglkgbb dan kelompok Ketamin yaitu premedikasi tetes hidung ketamin dosis 4 mglkgbb. Dilihat dan dicatat skor tingkat sedasi dan kecemasan awal sebelum diberikan premedikasi, dan 20 menit setelah diberikan premedikasi. Efek samping pasta premedikasi juga dilihat dan dicatat.
Hasil : Tingkat sedasi yang efektif didapatkan pada 86,7% anak pada kelompok midazolam, sedangkan hanya 46,7% yang mencapai tingkat sedasi efektif pada kelompok ketamin, dengan p>0,005. Berkurangnya tingkat kecemasan yang efektif dicapai oleh 93,3% anak dari kelompok yang mendapat midazolam, dibandingkan dengan kelompok ketamin yang hanya menunjukkan berkurangnya tingkat kecemasan yang efektif pada 46,7% anak, dengan p<0,05. Efek samping yang terjadi adalah hipersalivasi yang terjadi pada 3 anak yang mendapat ketamin, dan muntah pada 1 anak dari kelompok ketamin.
Kesimpulan : Premedikasi tetes hidung midazolam menunjukkan tingkat sedasi dan mengurangi kecemasan yang lebih baik dibandingkan dengan ketamin."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18171
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Viktor Vekky Ronald Repi
"Disertasi ini membahas tentang rekayasa struktur dan sifat material yang meliputi sintesis dan karakterisasi material magnetik Ba0.5Sr0.5Fe12-xMnx/2Tix/2O19 (x = 0; 0.1; 0.2; 0.3 dan 0.5) dan material manganit La0.7Ba0.3MnO3 serta komposit yang terbentuk dari fasa magnetik untuk aplikasi penyerap gelombang elektromagnetik.
Pembuatan material Ba0.5Sr0.5Fe12-xMnx/2Tix/2O19 dan material La0.7Ba0.3MnO3 dilakukan dengan rute mechanical alloying yang dilanjutkan dengan pemanasan pada temperatur kristalisasi untuk memperoleh material kristalin dengan masingmasing fasa stabilnya. Tahap pertama dari penelitian ini mengevaluasi fasa magnetik yang akan dijadikan kandidat material komposit dengan mencari nilai magnetik statik yang dapat mewakili material tersebut sebagai material yang akan dikompositkan dengan fasa material La0.7Ba0.3MnO3.
Tahap kedua yaitu melakukan komposit terhadap kedua material tersebut dan mengevaluasi sifat dan karakteristiknya baik sifat magnetik, elektrik dan sifat serapan gelombang elektromagnetik pada material komposit.
Dari hasil karakterisasi, diperoleh karakteritik magnetik pada material Ba0.5Sr0.5Fe12-xMnx/2Tix/2O19 mengalami perubahan akibat adanya substitusi ion Mn dan Ti. Nilai koersivitas yang menurun terjadi seiring bertambahnya fraksi ion pensubsitusi x. Pada substitusi x = 0, diperoleh nilai yang maksimum yaitu 317.1 kA/m hingga pada substitusi x = 0.5 menjadi 77.86 kA/m.
Karakteristik dielektrik dan magnetik material Ba0.5Sr0.5Fe12-xMnx/2Tix/2O19 terlihat dari nilai permitivitas ε′ dan ε″ dan nilai permeabilitas µ′ dan µ″. Pada rentang frekuensi baik X-band maupun Ku-band, nilai return loss tertinggi masing-masing terjadi pada material komposisi x = 0.1 (-20.5 dB pada frekuensi 9.12 GHz) dan material komposisi x = 0.3 (-13.12 dB pada frekuensi 14.5 GHz). Nilai return loss tertinggi pada masing-masing rentang frekuensi ini lebih ditentukan oleh besaran µ″ dimana untuk x = 0.1, nilai permeabilitas imajiner tertinggi adalah 0.89 ≤ µ″ ≤ 0.98. Berbeda dengan frekuensi dalam rentang X-band, maka pada rentang frekuensi Ku-band ditemukan bahwa untuk x = 0.3 nilai return loss yang tinggi lebih ditentukan oleh besaran permitivitas imajiner tertinggi yaitu 0.89 ≤ ε″ ≤ 1.02. Komposit kedua material memberikan perubahan pada pola serapan dimana efek komposit memperlebar rentang frekuensi serapan terutama pada rentang Kuband.

The structure and properties including the synthesis and characterization of magnetic Ba0.5Sr0.5Fe12-xMnx/2Tix/2O19 (x = 0, 0.1, 0.2, 0.3 and 0.5) and manganite La0.7Ba0.3MnO3 materials are discussed. The two types of materials were composited to be good candidates for electromagnetic wave absorbers applications.
Materials preparation for Ba0.5Sr0.5Fe12-xMnx/2Tix/2O19 and La0.7Ba0.3MnO3 were carried out through the mechanical alloying route followed by heating at a temperature 1050 0C to obtain fully crystalline structure with respective their stable phases. The first objective for this study is to evaluate the magnetic characteristics of the magnetic phase which then is composited with that of La0.7Ba0.3MnO3 material. The second objective of the study is that to evaluate the overall properties of composite materials associated with the absorption characteristics as the electromagnetic wave absorbers.
It was obtained that the magnetic characteristics for Ba0.5Sr0.5Fe12-xMnx/2Tix/2O19 material changes due to partial substitution of Mn and Ti ions to Fe. The coercivity value decreased with the increase of substituted ionic fraction. In this case, the maximum value was 317.1 kA / m for x = 0 decreased to the 77.86 kA / m at x = 0.5.
Dielectric and magnetic characteristics for Ba0.5Sr0.5Fe12-xMnx/2Tix/2O19 can be found from electrical permittivity ε′ and ε″ as well as magnetic permeability µ′ and µ″values. It was found that high return loss values in the frequency range of both X-band and Ku-band respectively occurred in the material with x = 0.1 (-20.5 dB at a frequency of 9.12 GHz ) and the material with x = 0.3 (-13.12 dB at 14.5 GHz). The highest return loss value at each frequency range was more determined by the magnitude of µ″ in which for x = 0.1 possessed the highest imaginary permeability value: 0.89 ≤ µ″ ≤ 0.98. In contrast to the frequency range of X-band, the high return loss value in the Ku-band frequency range was found in x = 0.3.
The highest return loss value was driven by the highest imaginary part of electrical permittivity: 0.89 ≤ ε″ ≤ 1.02. The overall evaluation of characteristics for composite materials showed that the composite effect was widening the frequency range of absorption, especially in Ku- band.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
D1405
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endah Permatasari
"Menggigil pasca anesthesia merupakan komplikasi yang potensial bagi pasien pasca bedah yang dapat mengakibatkan Iiipoksemia karena peningkatan konsumsi oksigen jaringan dan peningkatan kadar C02 dalam darah. Hal ini berbahaya tenriama bagi pasien dengan riwayat penyakit jantung iskemi atau pasien-pasien dengan fungsi cadangan ventilasi yang terbatas. Teiah banyak upaya pencegahan maupun penanggulangan dilakukan untuk mengatasi menggigil pasca anestesia, obat yang lazim digunakan adalah petidin. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa ketamin juga efektif untuk mencegah menggigil pasca anestesia.
Penelitian ini bertujuan membuktikan apakah ketamin lebih efektif dibandingkan petidin untuk mencegah menggigil pasca anestesia inhalasi N20/02/isofluran, Penelitian ini bersifat uji klinis tersamar ganda yang membandingkan keefektifan ketamin intravena 0,5 mg/kb BB dengan petidin 0.35 mg/kg BB. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Pusat RSCM dengan jumlah sampel 40, laki-laki dan perempuan, usia 16-65 tahun, status fisik ASA I-II. Kriteria penolakan adalah mempunyai riwayat alergi terhadap petidin dan ketamin, memiliki riwayat kejang, hipertensi dan penyakit jantung koroner, jika suhu tubuh sebelum induksi >38 °C atau <36°C dan bila pasien mengkonsumsi obat inhibitor monoamine oksidase. Kriteria pengeluaran jika operasi berlangsung >180 menit atau kurang dari 30 menit, mendapatkan darah atau komponen darah, memerlukan perawatan di ruang rawat intesif pasca pembedahan., mengalami komplikasi selamaanestesia seperti syok atau henti jantung dan bila intra operatif pasien mendapatkan obat klonidin, prostigmin, petidin dan ondansetron."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dina Natalia Ekawari
"Latar Belakang: Kecemasan sering terjadi pada anak terutama masa pranestesia dan merupakan suatu kondisi dan komplikasi yang sering terabaikan oleh dokter spesialis anestesiologi dalam pelayanan anestesia. Pada studi ini dibandingkan keefektifan ketamin 4 mg/kgbb dosis intranasal dengan ketamin 5 dosis mg/kgbb per oral dalam efek sedasi dan mengurangi kecemasan.
Metode: 104 anak secara acak tersamar ganda dibagi dalam 2 kelompok sama banyak. Kelompok pertama mendapat ketamin intranasal (N=51) dan kelompok kedua mendapat ketamin per oral (N=50).
Hasil: Anak yang tersedasi baik pada kelompok ketamin intranasal sebesar 45,1% sedangkan pada kelompok ketamin per oral hanya 24% (p<0,05; 2,13E-0,2;0,52). Sebagai anti kecemasan, 68,6% anak pada kelompok ketamin intranasal mudah dipisahkan dari orangtua (efektif) dan hanya 48% anak yang mudah dipisahkan dari orangtua pada kelompok ketamin per oral (p<0,05; 1,03E-0,2;0,48). Hipersalivasi terjadi pada 3,9% anak pada kedua kelompok sedangkan muntah sebesar 4,9% juga pada kedua kelompok.
Kesimpulan: sebagai premedikasi pada pasien anak, ketamin dosis 4 mg/kgbb intranasal memberikan efek sedasi dan anti kecemasan yang lebih baik bila dibandingkan dengan ketamin dosis 5 mg/kgbb peroral.
Kata kunci: premedikasi, ketamin, intranasal, per oral, sedasi, anti kecemasan.

Background: Anxiety often accompanied children, especially during pre anesthesia and this condition and complication often overlooked by the anesthesiologist in practices. The purpose of our study was to investigate, whether premeditation with ketamine 4 mg/kgbb intranasal or ketamine 5 mg/kgbb orally is more effective to gives sedation and ant anxiety.
Method: Hundred and four pediatric patient, in randomized, divided into two equal groups. First group received ketamine intranasal (N=51) and the second group received ketamine orally (N=50).
Result: 45.1% children had good sedation in intranasal group, while in oral group is only 24% (p<0,05; 2,13E-0,2;0,52). As for anti anxiety, 68.6% children in intranasal group is easy to be separated from the parents (effective) and only 48% children in oral (p<0,05; 1,03E-0,2;0,48). Hyper salivation occurs in 3.9% children in both groups, while 4.9% children vomit in both groups.
Conclusion: 4 mg/kgbb intranasal ketamine gives better sedation effect and better anti anxiety effect compare to 5 mg/kgbb oral ketamine as premedication to pediatric patient.
Key words: premedication, ketamine, intranasal, orally, sedation, ant anxiety.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rebecca Sidhapramudita Mangastuti
"Tujuan: Mengetahul efek induksi etomidat 0,2 mg/kgBB iv dibandingkan etomidat 0,3 mg/kgBB iv dalam menurunkan kekerapan mioklonus.
Metode : Uji Minis tersamar gander Penelilian dilakukan di ruang Instalasi Bedah Pusat dan Bedah Rawat Jalan RSCM, pada pasien yang akan menjalani operasi berencana dengan anestesi umum, ASA I-II, umur 16-65 tahun, tidak memiliki riwayat kelainan neurologis dan neuromuskular dan tidak memiliki riwayat alergi terhadap etomidat, midazolam dan fentanil. 56 pasien mendapat induksi etomidat 0,2 mg/kgBB iv dan 56 pasien mendapat induksi etomidat 0,3 mg/kgBB iv. Premedikasi yang digunakan pada kedua kelompok: midazolam 0,02 mgfkgBB iv dan fentanil 1 ugfkgBB iv. Dinilai kekerapan mioklonus serta derajat mioklonus pada kedua kelompok. Analisis siatistik dengan uji t bila mengikuti distribusi normal. Sedangkan perbedaan pada kedua kelompok data kategori diuji dengan uji chi-square. Nilai signifkansi p< 0,05 dengan interval kepercayaan 95%.
Hasil: Kelompok etomidat 0,2 mg/kgBB iv, miokionus ringan a orang (1,8 %) mioklonus sedang dan berat tidak ada (0 %). Kelompok etomidat 0,3 mg/kgBB iv, mioklonus ringan 2 orang (3,6 %), mioklonus sedang 2 orang (3,6 %) dan mioklonus berat 1 orang (1,8 %).
Kesimpulan : Etomidat 0,2 mgfkgBB iv dibandingkan etornidat 0,3 mg/kgBB iv dalam menurunkan kekerapan mioklonus serta perbandingan derajat mioklonus, secara statistik tidak bermakna, namun ada kecenderungan angka keberhasilan pada penggunaan etomidat 0,2 mglkgBB.

Purpose: To know comparison induction elect of etomidate 0,2 mglkg iv and etomidate 0,3 mglkg iv to decrease frequently of myoclonus.
Methods: Double-blind randomized controlled trial. Trial had done at Centre Surgery Unit (IBP) and One Day Care RSCM. Patient were undergoing elective surgery with general anesthesia, ASA I-II 16-65 years old, didn't have history of neurologic and neuromuscular diseases, didn't have hypersensitive with etomidate, midazolam and fentanyl. 56 patients had etomidate 0,2 mg/kg iv and 56 patient had 0,3 mg/kg. Premedication with midazolam 0,2 mglkg iv and fentanyl 1 ug/kg iv. Measured myoclonus and grade of myoclonus. Analysis with t test for normal distribution and chi-square test for categorial. Significancy if p value < 0,05 with confidence interval 95%.
Result: Group of etomidate 0,2 mg/kg iv, one patient had mild myoclonus (1,8%), no patient had moderate and severe myoclonus (0%). Group of etomidate 0,3 mg/kg iv, two patients had mild myoclonus (3:.6%), two patients had moderate myoclonus (3,6%) and one patient had severe myoclonus.
Conclution: Comparison etomidate 0,2 mg/kg iv and etomidate 0,3 mg/kg iv to decrease frequently of myoclonus and the grade of myoclonus, no significantly in statistic analysis, but had disposed successful in etomidate 0,2 mg/kg iv.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18173
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yulius T.
"Dalam induksi anestesia dengan etomidat sering timbal mioklonus. Penelitian ini membandingkan premedikasi midazolam dan fentanil dengan premedikasi midazolam saja dalam mencegah mioklonus. Penefitian dilakukan dengan acak tersamar ganda terhadap 140 pasien. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 70 orang yaitu yang mendapat premedikasi midazolam 0,02 mg/kg BB dan fentanil 14g/kg BB intravena (IV) atau midazolam 0,04 mg/kg BB IV. Setelah itu digunakan etomidat 0.3 mg/kg BB IV untuk induksi anestesia_ Kejadian dan derajat mioklonus diamati selama 60 detik. Insidens miokonus lebih kecil pada kelompok fentanil dan midazolam (5/70) dibandingkan kelompok midazolam (29/70){P<0,05}. Tidak ditemukan perbedaan bermakna dalam derajat mioklonus (p>0,05) pada kedua kelompok. Premedikasi dengan midazolam 0,02 mg/kg BB dart fentanil 14g/kg BB IV efektif menurunkan mioklonus akibat induksi dengan etomidat.

During induction of anaesthesia with etomidate, myoclonic muscle movements are frequent. in this study, pretreatment with midazolam and fentanyl was compared to pretreatment with midazolam for the prevention of myoclonic muscle movements. Included in this study were 140 patients, pretreated in randomized double-blinded fashion with midazolam 0.02 mg/kg and fentanyl 1 µg/kg IV (n=70 patients) or midazolam 0.04 mg/kg IV (n=70 patients). Induction agent used was etomidate 0.3 mg/kg IV. The incidence and intensity of myoclonic movements were observed in 60 seconds. The incidence of myoclonic movements was significantly lower in patients pretreated with midazolam and fentanyl (5/70) than patients pretreated with midazolam only (29/70){p<0.051. The intensity of myoclonic movements was not significantly different (p>0.05) in two groups. Pretreatment with midazolam 0.02 mg/kg and fentanyl 1 gg/kg IV is more effective than that with midazolam 0.04 mg/kg IV in reducing etomidateinduced myoclonic muscle movements."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yusuf Supriadi
"Material La1-xPbxFe0.5Ti0.5O3 (x = 0.1, 0.2, 0.3) telah disintesis dengan menggunakan metode sol-gel. Hasil karakterisasi XRD menunjukan material memiliki struktur orthorhombik space group Pnma dan diperoleh fase tunggal untuk konsentrasi x = 0.2 dan x = 0.3 Hasil karakterisasi XRF mengkonfirmasi bahwa konsentrasi unsur-unsur penyusun material La1-xPbxFe0.5Ti0.5O3 (x = 0.1, 0.2, 0.3) sesuai dengan perhitungan stoikiometri yang diharapkan. Hasil pengukuran SEM menunjukan distribusi ukuran grain pada permukaan sampel Bulk mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan konsentrasi Pb. Karakterisasi sifat listrik dilakukan pada material La1-xPbxFe0.5Ti0.5O3 dengan konsentrasi x = 0.2 dan x = 0.3. Plot Nyquist menunjukan semicircle yang semakin mengecil seiring dengan kenaikan temperatur yang menunjukan fenomena negative temperature coefficient resistance (NTCR). Konstanta dielektrik dan energi aktivasi mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan konsentrasi Pb.

Material La1-xPbxFe0.5Ti0.5O3 (x = 0.1, 0.2, 0.3) has been synthesized using the sol-gel method. XRD characterization results show that the material has an orthorhombic space group Pnma structure. The results of XRF characterization confirm that the concentration of La1-xPbxFe0.5Ti0.5O3 material (x = 0.1, 0.2, 0.3) was in expected stoichiometric calculation. The SEM measurement results show the grain size distribution of Bulk materials increas along with the increasing Pb concentration. Characterization of electrical properties was carried out on La1-xPbxFe0.5Ti0.5O3 material with concentrations of x = 0.2 and x = 0.3. Nyquist plots show a semicircle that decreases with increasing temperature which shows the phenomenon of negative temperature coefficient resistance (NTCR). The dielectric constant and activation energy increase with increasing Pb concentration."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
T52295
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marjuki Zulziar
"Sampel La0.67Ba0.33Mn1-xNixO3 dengan x = 0.0 ; 0.1 ; 0.2 ; 0.4 dari bahan La2O3, BaCO3, MnCO3, dan NiO disintesis dengan menggunakan metode solid state reaction. Keempat bahan dasar tersebut dihaluskan dengan menggunakan Planetary Ball Milling selama 25 Jam , dikompaksi, dikalsinasi dengan suhu 8000 selama 10 jam dan di sintering pada suhu 13500 selama 20 Jam. Identifikasi fasa dilakukan dengan difraksi sinar X dan refinement High Scorer Plus dan diperoleh fasa tunggal La0.67Ba0.33Mn1-xNixO3 yang memiliki struktur kristal Orthorombik. Pengukuran terhadap nilai resistivitas dan magnetoresistansi (MR) sampel diukur menggunakan FPP (Four Point Probe), sedangkan magnetisasinya diukur dengan menggunakan permaghrap. Disimpulkan bahwa semakin besar doping Ni yang diberikan pada sampel La0.67Ba0.33Mn1-xNixO3 membuat nilai resistivitas sampel meningkat dan nilai negative magnetoresistansi sampel mengalami peningkatan dengan hasil MR terbesar pada sampel x = 0.1 yaitu 1,54 %.

La0.67Ba0.33Mn1-xNixO3 with x = 0.0 ; 0.1 ; 0.2 ; 0.4 of La2O3, BaCO3, MnCO3, and NiO sintetic using solid state reaction. The Fourth of basic matter are mixed with Planetary Ball Milling for 25 hours, compacted, calcination on 8000 C for 10 hours and sinter 13500 C for 20 hours. Phase identification is carried out Using XRD and High Scorer Plus. Refinement, resulting La0.67Ba0.33Mn1-xNixO3 Wich single phase for All x compotition. The have Orthorombik Crystal Structure. Measurement of resistivity and magnetoresitance (MR) using FPP (Four Point Probe), while magnetization is measured using permaghraph. We get that the bigger Ni doping the more increases of resistivity and for negative magnetoresitance generally is increase, except the biggest negative magnetoresitance is 1,54 % for x = 0.1"
Depok: Universitas Indonesia, 2015
T43982
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Ilyas Mukmin
"Iskemia serebral akan mengaktifkan serangkaian kaskade cedera sel yang berakhir pada kerusakan irreversible, sehingga pencegahan terjadinya kerusakan tersebut lebih ditekankan. Hal inilah yang disebut neuroproteksi. Salah satu zat yang diduga memiliki efek neuroprotektif adalah ekstrak akar A. indica L. yang banyak ditemukan di Indonesia. Penelitian yang dilakukan secara eksperimental in vivo ini menggunakan tikus jantan galur Sprague-Dawley dengan berat 200-250 gram yang dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok, masing-masing mendapatkan ekstrak akar A. indica L. 300 mg/kgBB/hari, 400 mg/kgBB/hari, dan plasebo sebagai kontrol, selama tujuh hari berturut-turut. Setelah dilakukan oklusi arteri karotis komunis bilateral selama 60 menit, jaringan hipokampus tikus diambil dan dibuat sediaan mikroskopiknya dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Jumlah inti sel rusak dan total inti sel di empat area hipokampus dihitung dalam satu lapangan pandang mikroskop dengan pembesaran 400 kali oleh tiga orang observer. Rata-rata persentase inti sel rusak antar kelompok dibandingkan dengan uji One-Way Anova (p=0,05).
Hasil menunjukkan bahwa persentase inti sel rusak kelompok 300 mg/kgBB tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol pada keempat area hipokampus. Sementara itu, kelompok 400 mg/kgBB mengalami kerusakan yang lebih rendah secara signifikan pada area CA3 (p=0,035), tetapi tidak berbeda bermakna pada area lainnya. Dengan kata lain, ekstrak tanaman ini memiliki efek neuroproteksi dalam dosis 400 mg/kgBB, tetapi hanya pada area CA3 hipokampus.

Cerebral ischemia activates a set of cell injury cascades that ends on irreversible damage; hence, prevention of that damage is considered more important. This concept is called neuroprotection. One of substance that is thought to have neuroprotection effect is root extract of A. indica L. which is commonly found in Indonesia. This in vivo experimental study divided rats strain Sprague-Dawley weighed 200-250 grams in three groups, each of which was given A. indica L. root extract 300 mg/kgBW/day, 400 mg/kgBW/day, and placebo as control, for seven consecutive days. After common carotid artery was occluded bilaterally for 60 minutes, hippocampal tissue of rat was removed and turned into microscopic slice with Hematoxylin-Eosin staining. The amount of damaged nuclei and entire nuclei in area CA1, CA3, DGIN, and DGOUT of hippocampus on one visual field with 400 times magnification was counted by three observers. The average of damaged nuclei percentage was compared between groups using One-Way Anova test (p=0,05).
Result showed that damaged nuclei percentage in group of 300 mg/kgBW was not different significantly than control in four areas of hippocampus. Meanwhile, damage in group of 400 mg/kgBW was less significantly in area CA3 (p=0,035), but not different significantly in other areas. In other words, this extract has neuroprotection effect in dose of 400 mg/kgBB on hippocampal neuron of rat, but only in area CA3.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>