UI - Tesis Open :: Kembali

UI - Tesis Open :: Kembali

Peranan Pemerikasaan Atibodi IgG terhadap Pathozyme-TB dan Pathozyme-Myco dalam Diagnosis serta Evaluasi Pengobatan Tuberkulosis Paru di RSUP Persahabatan = The Role of IgG Atibody Examination to Pathozyme-TB and Pathozyme-Myco in the Diagnosis and Evaluation of Treatment of Pulmonary Tuberculosis at Persahabatan Hospital

Hamdi Syarifudin; Anwar Jusuf, supervisor; Faisal Yunus, supervisor; Tjandra Yoga Aditama, examiner; Manuhutu, supervisor; Priyanti, supervisor (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999)

 Abstrak

Penyakit tuberkulosis sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia dengan prevalensi BTA (basil tahan asam) (+) sebesar 0,29 %.1 Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 1986, penyakit tuberkulosis paru menduduki urutan ke-10 dari pola kesakitan dan penyebab kematian nomor 4 di Indonesia.2 Pada survey yang sama tahun 1995, penyakit ini akan terus meningkat baik pada angka kesakitan maupun kematiannya.Diagnosis penyakit tuberkulosis paru umumnya didasarkan dengan ditemukannya kuman BTA pada sputum penderita. Meskipun demikian pemeriksaan ini mempunyai beberapa kelemahan. Pemeriksaan sputum langsung biasanya sulit didapatkan hasil positif, misal pada penderita dengan lesi yang minimal dan pada anak-anak karena memerlukan jumlah kuman tertentu untuk memberikan hasil positif. Keterlambatan dalam membuat diagnosis dapat mengakibatkan komplikasi yang serius seperti meningitis dan perikarditis, sebaliknya pengobatan yang tidak terarah mengakibatkan pemborosan biaya dan dapat menimbulkan efek samping obat. Pemeriksaan biakan M.tuberculosis membrikan hasil yang lebih baik daripada pemeriksaan mikroskopik langsung, tetapi cara ini memerlukan waktu yang lebih lama, kurang lebih 8 minggu, dan relatif lebih mahal.

Tuberculosis is still an important public health problem in Indonesia with a prevalence of BTA (acid-fast bacilli) (+) of 0.29%. generally based on the discovery of BTA germs in the patient's sputum. However, this examination has several weaknesses. Direct sputum examination is usually difficult to obtain positive results, for example in patients with minimal lesions and in children because it requires a certain number of germs to give positive results. Delays in making a diagnosis can result in serious complications such as meningitis and pericarditis, on the other hand, undirected treatment results in wasted costs and can cause drug side effects. M. tuberculosis culture examination gives better results than direct microscopic examination, but this method requires a longer time, approximately 8 weeks, and is relatively more expensive. microscopic

 File Digital: 1

 Metadata

Jenis Koleksi : UI - Tesis Open
No. Panggil : T-pdf
Entri utama-Nama orang :
Entri tambahan-Nama orang :
Entri tambahan-Nama badan :
Program Studi :
Subjek :
Penerbitan : Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999
Bahasa : ind
Sumber Pengatalogan : LibUI ind rda
Tipe Konten : text
Tipe Media : unmediated ; computer
Tipe Carrier : volume ; online resource
Deskripsi Fisik :
Naskah Ringkas :
Lembaga Pemilik : Universitas Indonesia
Lokasi : Perpustakaan UI, Lantai 3
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
No. Panggil No. Barkod Ketersediaan
T-pdf 15-25-00826790 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 9999920567750
Cover