Kedele menjadi salah satu komoditi pertanian yang dimasukkan kedalam agenda sasaran Ketahanan Pangan Nasional. Hal ini tercantum dalam UU No.7 Tahun 1996 tentang pangan dan dalam RPJMN 2015 – 2019 Buku 1 Agenda Pembangunan Nasional. Melalui Persamaan Simultan dengan metoda Three Stage Least Square (3SLS) dan data Time Series tentang perkedelean dari tahun 1980 hingga 2015 serta menggunakan program Eviews9, maka peneliti menemukan faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi produksi, konsumsi, impor serta harga kedele. Pada persamaan produksi, variabel luas panen kedele dan produkifitas menjadi faktor yang paling signifikan. Pada persamaan konsumsi, variable harga kedele lokal, jumlah penduduk, konsumsi kedele tahun sebelumnya dan tarif impor kedele menjadi faktor yang paling signifikan. Pada persamaan impor, variable kurs, harga kedele impor, pendapatan perkapita, dan konsumsi kedele menjadi faktor yang paling signifikan. Pada persamaan Harga Kedele, variabel harga kedele impor, produksi dan konsumsi kedele menjadi faktor yang paling signifikan. Kemudian peneliti melakukan simulasi pada periode 2013 – 2015 dengan memasukkan tariff impor 30% ke dalam persamaan simultan untuk melihat implikasinya dalam persamaan tersebut. Kebijakan ini hanya dapat menekan laju impor tahun 2013 dan 2014., sedangkan untuk 2015 terjadi fenomena sebaliknya. Dampak lainnya adalah turunnya konsumsi kedele oleh karena pengenaan tarif impor mencapai 30 persen, tetapi di tahun 2015 konsumsi kedele kembali naik. Dilain sisi, produksi kedele mengalami kenaikan di tahun 2013 dan 2014 akibat kenaikan harga kedele impor yang mendorong petani kedele menanam kedele .
Soybean become one of the agricultural commodities were included in the agenda of the National Food Security objectives. It is stated in Law No. 7 of 1996 on food and in RPJMN 2015-2019 Book 1 of the National Development Agenda. Through Simultaneous Equations with Three Stage Least Square method (3SLS) and Time Series Data on perkedelean from 1980 to 2015 as well as the use Eviews9 program, the researchers found significant factors affecting production, consumption, imports and the price of soybeans. In the production equation, variables soybean harvested area and produkifitas be the most significant factor. In the consumption equation, variable local soybean prices, population, consumption of soy a year earlier and soybean import tariffs be the most significant factor. On the import equation, variable rate, the price of soybean imports, per capita income, and consumption of soy be the most significant factor. Soybean prices in the equation, the variable price of imported soybean, soybean production and consumption become the most significant factor. Then the researchers conducted a simulation in the period 2013 - 2015 with a 30% import tariff to enter into simultaneous equations to see the implications in the equation. This policy can only reduce the rate of imports in 2013 and 2014, while for 2015 the other sebaliknya. Dampak phenomenon is the fall of the consumption of soybean due to the imposition of import tariffs to 30 percent, but in 2015 the consumption of soy-back riding. On the other hand, soybean production has increased in 2013 and 2014 due to rising prices of imported soybeans are encouraging farmers to plant soy soybean.