UI - Tesis (Membership) :: Kembali

UI - Tesis (Membership) :: Kembali

Analisis Penanganan Tindak Pidana Narkotika Oleh Polres Metro Jakarta Barat Studi Kasus: Pengungkapan Pabrik Sabu di Cipondoh Tangerang = Analysis of the Narcotics Offense Handling by the West Jakarta Sub-regional Police Case Study: Disclosure of the Crystal Meth Factory in Cipondoh Tangerang

Indra Maulana Saputra; Runturambi, Arthur Josias Simon, supervisor; Vita Mayastinasari, supervisor; Simanjuntak, Payaman Jan, examiner (Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2020)
 Abstrak
Kejahatan narkotika merupakan salah satu bentuk kejahatan tidak biasa yang
dilakukan secara sistematis, menggunakan modus operandi yang tinggi dan
teknologi canggih serta dilakukan secara terorganisir (organization crime) dan
sudah bersifat transnasional (transnational crime). Dengan diberlakukannya
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menggantikan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 dan Undang - Undang Nomor 9 Tahun
1976 menandakan keseriusan dari pemerintah untuk menanggulangi bahaya
penyalahgunaan narkotika. Kota-kota besar di Indonesia merupakan daerah transit
peredaran narkoba, namun seiring perkembangan globalisasi dunia, kota-kota
besar di Indonesia sudah merupakan pasar peredaran narkoba. Penegakan hukum
terhadap tindak pidana narkotika, telah banyak dilakukan oleh aparat penegak
hukum dan telah banyak mendapat putusan Hakim. Penegakan hukum seharusnya
diharapkan mampu menjadi faktor penangkal terhadap meningkatnya
perdagangan gelap serta peredaran narkotika, tapi dalam kenyataannya justru
semakin intensif dilakukan penegakan hukum, semakin meningkat pula peredaran
serta perdagangan gelap narkotika tersebut. Tesis ini menganalisis mengenai
Penanganan Tindak Pidana Narkotika Oleh Polres Jakarta Barat Studi Kasus:
Pengungkapan Pabrik Sabu Di Cipondoh Tangerang. Dimana dalam kasus
tersebut dilakukan secara bersama-sama bahkan dilakukan oleh sindikat yang
terorganisasi secara mantap, rapi, dan sangat rahasia. Tindak pidana narkoba yang
telah berkembang menjadi kejahatan yang bersifat transnasional yang dilakukan
dengan menggunakan modus operandi dan teknologi yang canggih, termasuk
pengamanan hasil-hasil tindak pidana narkoba. Pabrik sabu Cipondoh ini mampu
memproduksi sabu setara dengan sabu kualitas impor. Bahkan dikatakan bahwa
pabrik sabu pertama di Indonesia yang kualitasnya setara dengan kualitas impor.
Adapun Bentuk penanganan terhadap kasus tindak pidana dalam konteks
penanganan kasus pabrik sabu Cipondoh ini dilakukan mulai dari: pemanggilan,
penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan barang bukti
lewat laboraturium. Sedangkan dalam penanganan kasus pabrik Cipondoh ini
terdapat faktor penghambat yakni: 1.Faktor Hukum; 2.Faktor Aparatur Penegak
Hukum; 3.Faktor Lingkungan; 4.Faktor Masyarakat; 5.Faktor SDM; 6.Faktor
Kebudayaan, sementara faktor yang membantu penanganan Pabrik sabu Cipondoh
Tangerang ini adalah: 1.Faktor Hukum; 2.Faktor Penegak Hukum; 3.Sarana &
Prasarana; 4.Faktor Masyarakat

The narcotics offense is a form of unusual crime that is carried out systematically,
using high-level modus operandi and sophisticated technology, and performed in
an organized manner (organization crime) and transnational in nature
(transnational crime). With the enactment of Law Number 35 of 2009 on
Narcotics replacing Law Number 22 of 1997 and Law Number 9 of 1976 signifies
the seriousness of the government in overcoming the danger of narcotics abuse.
The big cities in Indonesia are transit areas of drug trafficking, but along with the
development of world globalization, the big cities in Indonesia have become drug
trafficking markets. Law enforcement against narcotics offenses has been largely
carried out by law enforcement officers and received many verdicts. Law
enforcement should be expected to become a deterrent factor against the increase
of narcotics illicit trade and trafficking. However, in reality, as law enforcement
intensifies, the narcotics trafficking and illicit trade also increase. This thesis
analyzes the Narcotics Offense Handling by the West Jakarta Sub-regional Police
Case Study: Disclosure of the Crystal Meth Factory in Cipondoh, Tangerang. In
this case, the offense is performed together, in fact by a well-organized, orderly
and covert syndicate. The drug offense developed into a transnational crime,
applying the use of sophisticated modus operandi and technology, including
securing proceeds from the drug offense. The Cipondoh crystal meth factory was
able to produce crystal meth of imported quality. It was in fact stated as the first
crystal meth factory in Indonesia with a quality equivalent to imported quality.
The handling of the criminal case in the context of the Cipondoh crystal meth
factory case was conducted beginning with: summons, arrest, detention, search,
seizure, laboratory examination of evidence. In handling the Cipondoh factory
case, there are impeding factors namely: 1.Legal Factor; 2.Law Enforcement
Officer Factor; 3.Environmental Factor; 4.Community Factor; 5.Human
Resources Factor; 6.Cultural Factor, whereas factors that facilitate the handling of
the Cipondoh Tangerang crystal meth factory are: 1.Legal Factor; 2.Law
Enforcement Factor; 3.Infrastructure; 4.Community Factor.
 File Digital: 1
Shelf
 T-Indra Maulana Saputra.pdf ::

Catatan : Menu Anggota

 Metadata
No. Panggil : T-Pdf
Nama orang :
Nama orang tambahan :
Nama badan tambahan :
Subjek :
Penerbitan : Depok: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2020
Program Studi :
Sumber Pengatalogan : LibUI ind rda
Tipe Konten : text
Tipe Media : computer
Tipe Carrier : online resource
Deskripsi Fisik : xvi, 100 pages : illustration ; appendix
Catatan Bibliografi : pages 98-100
Lembaga Pemilik : Universitas Indonesia
Lokasi : Perpustakaan UI
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
No. Panggil No. Barkod Ketersediaan
T-Pdf 15-21-297269460 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20500847