UI - Disertasi (Membership) :: Kembali

UI - Disertasi (Membership) :: Kembali

Keseimbangan lingkungan dan dinamika budaya Minangkabau studi kasus : (Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Candunag, Kabupaten Agam, Sumatera Barat)

Sitti Nursetiawati; Emil Salim, promotor; Subur Budhisantoso, co-promotor; Retno Soetarjono, co-promotor; Purnawan Junadi, examiner; Setyo Sarwanto Moersidik, examiner; Meutia Farida Hatta Swasono, examiner; Mohammad Hasroel Thayib, examiner; Seda, Francisia Saveria Sika Ery, examiner; Herwasono Soedjito, examiner ([Publisher not identified] , 2007)
 Abstrak
ABSTRAK
Perubahan Iingkungan menimbulkan tantangan baru yang harus ditanggapi oleh
penduduk setempat dalam menyesuaikan diri secara aktif. Hubungan Manusia
dan Alam (Man and Biosfer) merupakan hubungan timbal balik yang saling
berinteraksi. Kehidupan manusia dalam sistem adat berinteraksi dengan
perubahan Iingkungan hidupnya, berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan
alamnya melalui kemampuan adaptasi sosial (Social Adaptation). Dalam konteks
sistem adat Minang, keberhasilan manusia berinteraksi dengan alamnya
ditentukan oleh kemampuan dan strategi adaptasi masyarakat Mlnang itu sendiri
dalam proses Homeostasisnya untuk mencapai Equilibrium.
Kesimbangan lingkungan di ranah Minang merupakan hasil adaptasi interaksi
yang harmonis antara lingkungan (fisik, social, ekonomi) dengan sistem budaya
Minangkabau yang dipengaruhi oleh dinamika perubahan aspek kompetensi
pengetahuan dan penerapan system matrilinial geneologis teritorial bertingkat
yang mengandung prinsip Habluminailah, Habluminanas, Ukhuwah
Persaudaraan, dan Mufakat.
Dinamika budaya Minang dalam masyarakat Minangkabau berperan dalam
menjaga keseimbangan Iingkungannya. Sistem kekerabatan matrilinial, yang
sesuai dengan konsep adatnya adalah : keturunan ditarik dari garis Ibu, Struktur
masyarakat intinya terletak pada Kaum (extended family), adanya pemimpin
adat mulai dari tingkat (paruik, kampung, koto sampai nagari) sebagai pengelola
Iingkungan hidup milik komunal, sedangkan kepemilikan harto pusakonya oleh
kaum perempuan. Seluruh penerapan adatnya dapat dilihat dalam pemerintahan
adatnya, dalam kehidupan sosialnya, badunsanak, mencari nafkah dalam bingkai
syarak mangato adat mamakai (hidup seimbang, Ingat Sang Pencipta, Cari
nafkah atas usaha sendiri, tawakal).
Kondisi ambigu dalam masa perubahan pada masyarakat transisi dari tradisional
ke modem, menjadi ljlik rawan terjadinya perubahan sosial ke arah dikotomi,
disorieniasi dan disintegrasi yang dapat menumbuhkan konflik, perubahan gaya
hidup yang bersifat hedonis, materialislis bahkan ke arah sekularis, telah menjadi
kekhawatiran tersendiri di kalangan masyarakat ranah Minang yang bercita-cita
ke arah Masyarakat Madaniah, terkait dengan segmentasi penerapan Adat
Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabuilah, menyebabkan ketidak seimbangan
sosial.
Rumusan Masalah: Dapatkah Pranata adat dengan dinamika budaya
Minangkabau berperan mengatur keseimbangan Iingkungan dalam masyarakat
yang beranjak ke EMO (Economic Market Oriented), yang menyebabkan
degradasi Iahan pertanian dan sosial, ketidaksejahteraan masyarakat, khususnya
petani?
Hasil penghitungan menggunakan pendekatan metode Analytical Heirarchy
Process (AHP) dengan faktor Inconsistensy Ratio < 0,1 menunjukan bahwa
peringkat berpengaruh dari variabel bebas pada masalah ketidakseimbangan
Iingkungan Iahan pertanian terhadap gangguan penerapan adat berasal dari
variabel Lingkungan sosial (19%), variabei Adat basandi syarak, syarak basandi
kilabullah (18.1%), diikuti oleh variabel moratilas (15,6O %), variabel intenaksi
sosial ?Syarak Mangato Adat mamakai (11,5 %), variabel Iingkungan ekonomi
(9,5 %), variabel struktur sosiai (8%), variabel supra struktur (5,4 %), variabel
kekerabatan (8 %), variabel Iingkungan (4.8 %), variabel infra struktur (3%).
Pertanyaan Penelitian dalam menciptakan keseimbangan Iingkungan untuk
pembangunan berkelanjutan di CKL adalah : 1. Apakah pergeseran kebijakan
pengelolaan pertanian dan Iingkungan yang menyebabkan degradasi kualitas
lahan dan produksi perbanian di Nagari Ganduang Kota Laweh (CKL) disebabkan
oleh modernisasi yang berorientasi pada EMO?, 2. Apakah modernitas yang
berorientasi pada EMO melemahkan peran pranata adat Minang sistem matrilinial
dalam keseimbangan Iingkungannya?, 3. Apakah revitalisasi peran pranata adat
dalam sistem matrilinial melalui pemberdayaan masyarakat dapat menjaga
keseimbangan Iingkungan? Solusi Iingkungan apa yang menjadi konsep baru
dalam penelitian ini ?
Tujuan Penelitian yang dirancang adalah Untuk mengungkap terjadinya
pemudaran peran pranata adat dalam sistem matrilinial akibat modernisasi yang
berdampak terhadap keseimbangan Iingkungan: 1. Menemukenali pengaruh
modernitas yang berorientasi pada EMO terhadap pergseran kebijakan
pengelolaan Iingkungan pertanian, degradasi kualitas Iahan dan produksi
pertanian di Nagari Canduang Koto Laweh (CKL). 2. Untuk mengetahui pengaruh
modernitas yang berorientasi pada EMO terhadap melemahnya peran pranata
adat dalam sistem matrilinial dalam keseimbangan Iingkungan (fisik, sosial,
ekonomi). 3. Untuk mengetahui apakah revitalisasi peran pranata adat dalam
sistem matriliniai melaiui pemberdayaan masyarakat dapat menjaga keseimbangan Iingkungan (fisik, sosial, ekonomi). 4. Menghasilkan Konsep Baru
Adaptasi Manusia Dinamis (Dynamic Soda/ Adaplahbn) melalui Achievement
Individu with the multiple skill Competenies Approach untuk keseimbangan
lingkungan CKL melaksanakan keberlanjutan pembangunan yang dapat
diprediksi secara eksponensial (non Iinier). Jenis penelitian yang digunakan
adalah mengeksplorasi dan mengembangkan teori/konsep yang sudah ada.
Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan metode kualitatif untuk
ranah deskriptif makna, dan metode kuantitatif (untuk ranah fakta). Hipotesis
kerja: ?Peran Dinamika Sistem Budaya Minangkabau Pada Keseimbangan
Lingkungan Tercermin Dari Adaptasi Nilai-nilai Budaya Yang Dimilikinya
kerja: ?Peran Dinamika Budaya Minangkabau Pada Keseimbangan
Lingkungan Tercermin Dari Adaptasi Nilai-nilai Budaya Yang Dimilikinya.?
Penulis mengembangkan Konsep Adaptasi sosial (social Adaptation yang diambil
dari Teori Adaptasi, Psikologi Lingkungan Paul Bell, Teori Intensl Psiko Sosial
Izjer Baizjen bagi terbentuknya kompetensi multiple skill untuk Individual
Achievement (yang dituntut sebesar 66.7% sesuai AHP untuk kontribusi Adat
(masyarakat dan pemangku adat), dan 33.3% sesuai AHP untuk kontribusi
Lingkungannya. Teori Ekologi (odum), Teori kebudayaan (Kuntjoroningrat,
Meilalatoa), Teori Struktur sosial dan Kinship Murdock, Teori Ekologi Manusia,
Teori Deep Ecology. Teori Sistem Ekoiogi (Odum), Teori Pembahan Sosial.
Dengan menggunakan pendekatan 5 prinsip ekologi, yang berfokus pada bio-
fisik, sosial (mutu modal manusia dalam masyarakat sistem mairilineal) dan
kesejahteraan masyarakat, merupakan gabungan ekologi dan dinamika
masyarakat matrilineal dengan menekankan peran individual achievement agar
mampu beradaptasi dengan perubahan Iingkungan, pada struktur dan fungsi
lahan pertanian dalam rangka memperbaiki degradasi Iahan pertanian untuk
dikembalikan ke kondisi tanpa polusi. Evolusi Adaptif Interaktif ASOIPAKDE
Pemberdayaan Masyarakat diangkat untuk menghasilkan nilai kelentingan adat.
Teori eksponensial (non Iinier) digunakan untuk memperoleh keseimbangan
Iingkungan dinamis dalam masyarakat yang dinamis untuk mengakomodir faktor
tangible dan intangible.
Perbaikan Iingkungan berupa bioremediasi lahan dengan pertanian organik
melibatkan partisipasi masyarakat untuk mengurangi polusi, meningkatkan
kesuburan tanah, hasil panen, dan kesejahteraan. Merupakan jenis penelitian
eksplorasi teori/konsep yang sudah ada dengan cara pre-scriptif. Metode
penelitian yang dipilih adalah gabungan antara metode kualitatif (gejala,
kecenderungan, makna) dan kuantitatif (fakta). Instrumen penelitian AHP
(Anayses hierachy Process) digunakan untuk membantu pengambilan
keputusan/kebijakan dan Analisis Aspirasi Masyarakat. Setelah dilakukan uji coba
demplot Quasi Experiment Action Research ternyata hipotesis terbukti benar.
Daya dukung pada non intervensi pemberdayaan sebesar NKL=53,01. Daya
dukung dengan intervensi pemberdayaan sebesar NKL 70,1. Signifikansi Uji beda
Z non parametrik U Man Whitney sebesar 0,016. Validasi Cross Tabulasi Data dengan Statistik Regresi Multivariate SPSS 12 Dari Variabel Budaya Minang Sistem
Matrilineal (X) dan Variabel Keseimbangan lingkungan (Y) berada pada tingkat
probalilitas sebesar 0.03 < 0.05. Dari uji ANOVA, didapat F hitung sebesar 4.318
berada pada nilai R=0.684 dengan nilai R2 sebesar 0.486 atau 48 %.
Pendekatan contextualisasi progressive pemberdayaan masyarakat diuji cobakan
pada demplot, untuk diamati selama 24 bulan dengan responden yang berbeda.
dengan menggunakan checklist kerjasama multi fihak dibantu oleh 3 juri yang
memiliki kualitas yang sama dalam hal pengetahuan lingkungan hidup,
pemberdayaan masyarakat, masalah adat, pengalaman politik, pengalaman
usaha, bersifat lndipenden. Hasil pengamatan dari ketiga juri dihitung dengan
statistic W Concordance sebesar 29,68> 27,59 (X hltung > X table), maka
konsistensi juri dapat diterima. Hasil pencapaian pemberdayaan (daya terima
masyarakat) diperoleh dari angket masyarakat non intervensi pemberdayaan,
yaitu sebesar 53,01 dengan nilai r kelenturan adat sebesar 0.20 NKL yang dapat
dicapai pada masyarakat yang diintervensi sebesar 70,1 berbentuk dari Adaptasi
Keseimbangan Lingkungan Fisik = 20, Adaptasi Keseimbangan Lingkungan Sosial
= 30, Adaptasi Keseimbangan lingkungan Ekonomi = 20,1. Terdapat perbedaan
yang signifikan sebasar 0.046 sebagai uji beda Z dari U Mann Whitney SPSS 12.
Terbukti bahwa intervensi pemberdayaan memiliki manfaat sebagai revitalisasi
adat. NKL dan koelisien yang ada di setiap factor budaya pembentuk
keseimbangan lingkungan dan nilai kelenlingan r untuk dihitung proyeksinya
dalam rumus persamaan matematik exponensial (non Iinier) sebagai prediksi
intervensi tahun 2005-2015, guna menghitung satuan rupiah yang dibutuhkan
dalam rangka pembiayan pembangunan, termasuk pembiayaan untuk
mengkompensasi degradasi lingkungan fisik (insentif pertanian), sosial dan
fungsi-fungsi ekonomi lingkungan sebagai public goal.
Pembuklian : Disertasi ini membuktikan adanya proses dan perubahan
lingkungan sebagai model adaptasl dinamika Budaya Minangkabau Pada
Keseimbangan lingkungan Tercermin dari nilai-nilai Budaya Yang berkelenturan
adat untuk meningkatkan daya dukung lingkungan melalui lntervensi
pemberdayaan masyarakat yang dapat diukur. Hal ini diekspresikan dengan
persamaan matematik eksponensial berupa rumus baru penulis yaitu rumus
keseimbangan lingkungan dinamis.
Penelitian ini menghasilkan 9 asumsi yang dapat dijadikan pertimbangan untuk
menyusun perencanaan daya dukung pengelolaan lingkungan konteks
pembangunan berkelanjulan yaitu: 1. Kebijakan yang menyebabkan terjadinya
degradasi lingkungan terletak pada kesalahan teori clasarnya berupa perubahan
pengelolaan lingkungan pertanian dari polikultur ke monokultur. 2. Suku Minang mempertahankan kemurnian garis ibu (matrilineal), terkait dengan kepemilkan
lahan komunal, kepemimpinan oleh laki-laki di garis Ibu, kesinambungan ekonomi
melalui harto pusako, kesinambungan kekerabatan yang menerapkan paruik dan
keluarga inti. 3. Keseimbangan Iingkungan untuk mengatasi keterbatasan daya
dukung Iahan pertanian, Iedakan populasi dan over exploitation adalah Merantau
4. Pranata adat melemah dalam perannya mengatur Iingkungan dinamis, 5.
Intervensi pemberdayaan sebagai sarana transformasi sosial budaya dan ekonomi
kerakyatan dapat menciptakan keseimbangan Iingkungan secara signifikan
sebesar 0,046 (<0,05). 6. Keterbaruan Ilmu Lingkungan, khususnya ekologi
manusia adalah strategi adaptasi menghadapi modernitas berupa Proses Adaptasi
Sosial Interaktif. Dilegkail dengan 7. kelenturan adat restlence ?r? dengan 10
komponen pemberdayaan sesuai kehutuhan modernitas (adat berbuhul sintak)
untuk pengembangan kapasitas dalam proses coping adaptasi dan homeostasis.
Dihitung dengan B. Model eksponensial Rumus Keseimbangan Iingkungan
Dinamis dapat mengukur dan memprediksi daya dukung Iingkungan untuk
pembangunan berkelanjutan di Nagari Candung Koto Laweh atau wilayah lain.
Persamaan matematik eksponensial dapat mewakili seluruh atribut variable
Dinamika Budaya (X) dan Keseimbangan Lingkungan (Y), konstanta kelenturan
adatnya (r=0.2O). 9. Mendukung revitalisasi kearifan ekologis yang mengandung
nilai-nilai agama Islam dan Etika Moral budaya Minang ?Adat Basandi Syarak,
Syarak basandi Kitabullah" dan ?Alam Takambang Jadi Guru" sebagai modal social
yang mengacu pada Spirit profelik,cita-cita etik AI-Qur'an.
Saran: 1. Diperlukan perangkat instrumen dan kelembagaan untuk memperkuat
dibangunnya kebijakan pertanian agro ekologi partisipatif melalui model
pembanguan berbasis masyarakat, berupa demplot. 2. Diperlukan manajemen
perbanian untuk mempertahankan keseimbangan Iingkungan dengan
memperhatikan faktor :a. Kelayakan Iingkungan (environmental sustainable), b.
Keuntungan ekonomis (Economically provilable), c. Dapat diterima oleh
masyarakat (Socially acceptable) d. Teknologi yang dapat dikelola
(Technologically/Manageable).
 File Digital: 1
Shelf
 D-1891 Sitti Nursetiawati.pdf ::

Catatan : Menu Anggota

 Metadata
No. Panggil : D1891
Nama orang :
Nama orang tambahan :
Nama badan tambahan :
Subjek :
Penerbitan : [Place of publication not identified]: [Publisher not identified], 2007
Program Studi :
Sumber Pengatalogan LibUI ind rda
Tipe Konten text
Tipe Media unmediated ; computer
Tipe Carrier volume ; online resource
Deskripsi Fisik xxx, 450 pages : illustration ; 28 cm + appendix
Catatan Bibliografi none
Lembaga Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 3
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
No. Panggil No. Barkod Ketersediaan
D1891 07-17-300567247 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20394958