UI - Skripsi (Membership) :: Kembali

UI - Skripsi (Membership) :: Kembali

Kecerdasan emosional pada orang tua yang mendongeng dan tidak mendongeng = emotional intelligence of parents who do and do not conduct storytelling

Lia Marina; Siti Purwanti Brotowasisto, supervisor (Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007)
 Abstrak
Penelitian bertujuan untuk melihat perbedaan kecerdasan emosional pada orang tua yang mendongeng dan tidak mendongeng. Kecerdasan emosional sendiri, adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan di tengah frustrasi, mengontrol impuls dan menunda kepuasan, meregulasi mood dan tetap mampu berpikir dalam keadaan tertekan, serta berempati dan berharap (Goleman, 1996).

Sementara itu, kegiatan mendongeng adalah sebuah seni pengisahan cerita dengan tujuan memberi hiburan pada live audience (pemirsa langsung), tentang kejadian-kejadian nyata maupun imaginatif yang dapat diambil dari naskah puitis dan/atau prosa, atau sumber-sumber lisan, tertulis atau rekaman dan melibatkan gesture, vokalisasi, musik atau gambar untuk memberikan kehidupan pada cerita. Dalam mendongeng, pendongeng melibatkan keterampilan berekspresi yang menuntut kesadaran pendongeng akan pengalaman emosi, motivasi untuk bercerita, keterampilan sosial, berempati, dan mengontrol emosi. Keterampilan itu bersinggungan dengan lima dimensi kecerdasan emosional yang dalam penelitian ini diukur dengan Inventori Kecerdasan Emosi (Lanawati, 1999).

Dalam penelitian ini terdapat sebanyak 70 orang tua yang mendongeng dan 72 orang tua yang tidak mendongeng, masing-masing diberikan Inventori Kecerdasan Emosional. Hasil t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor yang signifikan (p < 0,01) antara kedua kelompok tersebut. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa ada perbedaan kecerdasan emosional pada orang tua yang mendongeng dan orang tua yang tidak mendongeng. Mengingat masih sedikitnya penelitian di Indonesia mengenai kecerdasan emosional dan kegiatan mendongeng, perlu diadakan penelitian-penelitian mengenai hal tersebut, terutama dengan penilaian kegiatan mendongeng yang lebih komprehensif.

Saran praktis dari penelitian ini adalah untuk mensosialisasikan kegiatan mendongeng pada orang tua, melihat dampak positif yang dihasilkan dari kegiatan ini, tidak hanya bagi orang tua sendiri, namun juga pada anak-anak.


This research studies the difference of emotional intelligence of parents who conduct storytelling and those who do not. Emotional intelligence is the ability to self-motivate and preserve in the midst of frustration, the ability to control impulses and delay satisfaction, regulate moods and able to think under pressure as well as empathy and hope (Goleman, 1996).

The act of storytelling in accordance to the definition within this research is the art of storytelling with the purpose of providing entertainment to a live audience, based on real or imaginary events which may originate from poetry, prose or other sources of oral, written, or recorded sources, and includes body language, vocals, music or images to bring life to the story. The storyteller is involved in verbal and non-verbal expression skills which require the awareness of the storyteller in emotional experience, social skills, empathy, motivation and the ability to control emotion. All these skills relate to the five dimensions of emotional intelligence, which in this research shall be measured by Emotional Intelligence Inventory (Lanawati, 1999).

Approximately 70 (seventy) parents who conduct storytelling and 72 parents (seventy-two) parents that have never participated in storytelling are given an Emotional Intelligence Inventory (Lanawati, 1999). The T-Test results indicate that there is a significance in the score margins (p < 0,01) between the two groups of parents. Thus, there appears that storytelling significantly differentiate the emotional intelligence between parents who conduct storytelling and parents who don?t. Furthermore, in light of the fact that small number research in Indonesia has been conducted on emotional intelligence and storytelling, further studies needs to be conducted on this issue, specifically more comprehensive acts of storytelling.

A practical suggestion is to socialize storytelling to parents that perceive the positive influence storytelling portrays, not only to the parents themselves but also to the children.
 File Digital: 9
Shelf
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - Metodologi.pdf ::
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - Kesimpulan.pdf ::
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - Bibliografi.pdf ::
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - Lampiran.pdf ::
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - Literatur.pdf ::
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - HA.pdf ::
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - Pendahuluan.pdf ::
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - Abstrak.pdf ::
 152.4 MAR k - Kecerdasan Emosional - Analisis.pdf ::

Catatan : Menu Anggota

 Metadata
No. Panggil : S-Pdf
Pengarang :
Pengarang/kontributor lain :
Subjek :
Penerbitan : Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
Program Studi :
Naskah Ringkas :
Kode Bahasa : ind
Sumber Pengatalogan :
Tipe Konten :
Tipe Media :
Tipe Carrier :
Deskripsi Fisik : xvii, 67 lembar; 30 cm.
Catatan Bibliografi : Lembar: 68-70
Lembaga Pemilik : Universitas Indonesia
Lokasi : Perpustakaan F.Psi UI
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
No. Panggil No. Barkod Ketersediaan
S-Pdf 14-20-226516457 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 124251