Naskah :: Kembali

Naskah :: Kembali

Kresnandaka (Kakawin Kangsa)

Nomor Panggil CP.26-LT 218
Subjek
Penerbitan [Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
 Abstrak
Lontar asal Bali ini berisi teks Kresnandaka (juga berjudul Kakawin Kangsa). Menurut Pigeaud (1980:118), kakawin ini mungkin merupakan kreasi relatif baru.
Teks ini diawali dengan kisah para Yadu, Wresni, dan Andaka di negara Madura di bawah pimpinan Raja Basudewa. Tersebutlah Kangsa, keturunan raksasa Lawana, berbuat sewenang-wenang dan menindas para Yadu. Atas ulah Kangsa ini, menjelmalah Dewa Wisnu lewat rahim istri Basudewa. Pada saat itu Sanghyang Narada sempat mendatangi Kangsa dan meramalkan bahwa dalam waktu dekat Kangsa akan tertimpa musibah, karena musuhnya sedang dalam kandungan ibunya.
Mendengar berita ini, Kangsa segera memerintahkan pra raksasa untuk membunuh setiap wanita yang sedang hamil tanpa kecuali. Namun istri raja Basudewa dapat diselamatkan sampai bayi yang tengah dikandungnya lahir dengan selamat. Banyak cara dilakukan Kangsa untuk dapat membunuh bayi tersebut, namun hasilnya sia-sia. Kedua kesatria putra Basudewa (Kresna dan Baladewa) dapat diselamatkan dalam persembunyian di bawah pengwasan Wabru, yang semakin hari semakin gagah, tampan, dan terlukis sifat kesatriannya.
Kangsa semakin bingung untuk melacak dan membunuh kedua putra Basudewa itu. Akhirnya Kangsa memutuskan untuk mengadakan pertandingan adu senjata secara besar-besaran antara pihak Yadu dengan pihak raksasa di Magada. Upaya ini dilakukan dalam rangka membunuh Kresna dan Baladewa.
Berita yang menarik perhatian Kresna dan Baladewa ini cepat didengarnya. Keduanya memutuskan untuk melihat tempat adu senjata, walaupun sebelumnya dilarang keras oleh Wabru. Di tengah perjalanan mereka menemui halangan dan dicegat oleh seekor buaya raksasa dan seekor naga raksasa. Keduanya dapat dibunuh dengan mudah oleh Kresna dan Baladewa. Ternyata buaya dan naga itu jelmaan widyadari. Atas keberhasilan ini, Kresna mendapatkan senjata Cakra Sudarsana dan Baladewa mendapatkan senjata Bajak (Tenggala).
Sesampai di tempat pertandingan, Kresna dan Baladewa bergabung dengan pihak Yadu. Mereka tidak ada yang mengenalnya kecuali Wabru dan Basudewa yang merasa senang dan yakin atas keberanian kedua putranya. Tak terhitung korban di pihak raksasa, malahan pemimpin-pemimpinnya dapat ditewaskan oleh kedua putra Basudewa.
Melihat kenyataan itu, akhirnya Kangsa memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam pertempuran itu. Tidak lama, Kangsa pun menemui ajalnya terbunuh dengan senjata Cakra Sudarsana oleh Kresna. Para raksasa yang tersisa semuanya dimusnahkan. Para dewa sangat gembira menyaksikan keberhasilan Kresna jelmaan Wisnu itu. Akhirnya suasana kembali damai dan sejahtera, karena para Yadu yang tewas dapat dihidupkan kembali oleh Dewa Indra.
 Info Lainnya
Sumber Pengatalogan
Tipe Konten
Tipe Media
Tipe Carrier
Deskripsi Fisik 142 hlm; 4 baris/hlm; 48x3.8 cm
Catatan Umum Aks. Bali; Bahasa Jawa Kuna; Kakawin; ditulis di atas daun lontar; Rol 229.02
Lembaga Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 2
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
CP.26-LT 218 00071139 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20502115
Lontar asal Bali ini berisi teks Kresnandaka (juga berjudul Kakawin Kangsa). Menurut Pigeaud (1980:118), kakawin ini mungkin merupakan kreasi relatif baru.
Teks ini diawali dengan kisah para Yadu, Wresni, dan Andaka di negara Madura di bawah pimpinan Raja Basudewa. Tersebutlah Kangsa, keturunan raksasa Lawana, berbuat sewenang-wenang dan menindas para Yadu. Atas ulah Kangsa ini, menjelmalah Dewa Wisnu lewat rahim istri Basudewa. Pada saat itu Sanghyang Narada sempat mendatangi Kangsa dan meramalkan bahwa dalam waktu dekat Kangsa akan tertimpa musibah, karena musuhnya sedang dalam kandungan ibunya.
Mendengar berita ini, Kangsa segera memerintahkan pra raksasa untuk membunuh setiap wanita yang sedang hamil tanpa kecuali. Namun istri raja Basudewa dapat diselamatkan sampai bayi yang tengah dikandungnya lahir dengan selamat. Banyak cara dilakukan Kangsa untuk dapat membunuh bayi tersebut, namun hasilnya sia-sia. Kedua kesatria putra Basudewa (Kresna dan Baladewa) dapat diselamatkan dalam persembunyian di bawah pengwasan Wabru, yang semakin hari semakin gagah, tampan, dan terlukis sifat kesatriannya.
Kangsa semakin bingung untuk melacak dan membunuh kedua putra Basudewa itu. Akhirnya Kangsa memutuskan untuk mengadakan pertandingan adu senjata secara besar-besaran antara pihak Yadu dengan pihak raksasa di Magada. Upaya ini dilakukan dalam rangka membunuh Kresna dan Baladewa.
Berita yang menarik perhatian Kresna dan Baladewa ini cepat didengarnya. Keduanya memutuskan untuk melihat tempat adu senjata, walaupun sebelumnya dilarang keras oleh Wabru. Di tengah perjalanan mereka menemui halangan dan dicegat oleh seekor buaya raksasa dan seekor naga raksasa. Keduanya dapat dibunuh dengan mudah oleh Kresna dan Baladewa. Ternyata buaya dan naga itu jelmaan widyadari. Atas keberhasilan ini, Kresna mendapatkan senjata Cakra Sudarsana dan Baladewa mendapatkan senjata Bajak (Tenggala).
Sesampai di tempat pertandingan, Kresna dan Baladewa bergabung dengan pihak Yadu. Mereka tidak ada yang mengenalnya kecuali Wabru dan Basudewa yang merasa senang dan yakin atas keberanian kedua putranya. Tak terhitung korban di pihak raksasa, malahan pemimpin-pemimpinnya dapat ditewaskan oleh kedua putra Basudewa.
Melihat kenyataan itu, akhirnya Kangsa memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam pertempuran itu. Tidak lama, Kangsa pun menemui ajalnya terbunuh dengan senjata Cakra Sudarsana oleh Kresna. Para raksasa yang tersisa semuanya dimusnahkan. Para dewa sangat gembira menyaksikan keberhasilan Kresna jelmaan Wisnu itu. Akhirnya suasana kembali damai dan sejahtera, karena para Yadu yang tewas dapat dihidupkan kembali oleh Dewa Indra.