UI - Skripsi (Membership) :: Kembali

UI - Skripsi (Membership)

Penyesuaian perkawinan pada pasangan yang menikah tanpa pacaran

Nomor Panggil S2824
Pengarang
Pengarang/kontributor lain
Penerbitan 2004
Program Studi
 Info Lainnya
Pengarang
Sumber Pengatalogan LibUI ind rda
Tipe Konten text (rdacontent)
Tipe Media unmediated (rdamedia); computer (rdamedia)
Tipe Carrier volume (rdacarrier); online resource (rdacarrier)
Deskripsi Fisik xi, 148 pages ; 28 cm + appendix
Naskah Ringkas
Lembaga Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 3
  • Ketersediaan
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
  • Tampilan MARC
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
S2824 14-19-750179463 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20485664
ABSTRAK
Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai keinginan untuk menjalin hubungan
dengan orang lain. Hubungan yang terjalln dengan orang lain tersebut dapat berbentuk
hubungan pertemanan, persahabatan, pacaran dan hubungan perkawinan sebagai
suami dan istri. Berbeda dengan hubungan lainnya, hubungan perkawinan diawali
dengan perjanjian antara suami dan istri yang disaksikan oleh orang tua, penghulu,
saudara dan kerabat serta diketahui oleh masyarakat. Dalam hubungan perkawinan
biasanya pasangan suami-istri berharap agar dapat menjalani kehidupan perkawinan
dengan bahagia dan dapat membentuk keluarga yang damal, penuh ketulusan cinta dan
kasih sayang {sakinah, mawaddah wa rahmah).
Kebahagiaan perkawinan merupakan dambaan setiap pasangan yang
melangsungkan perkawinan (Roberts, 1968). Akan tetapl, untuk mendapatkan
kebahagiaan perkawinan tidaklah mudah. Harus ada usaha dari pasangan suami-istri
dalam menyelesaikan segala permasalahan yang muncul selama masa kehidupan
perkawinan mereka. Selain adanya masalah-masalah baru yang harus mereka hadapi
selama kehidupan perkawinan, pasangan suami-istri juga harus menghadapi masalah
yang disebabkan adanya kebiasaan-kebiasaan dasar dan kepribadian yang dibawa oleh
masing-masing individu. yang telah berkembang selama bertahun-tahun dalam dirinya
(Hurlock, 1980). Atwater & Duffy (1999) menyatakan bahwa kebahagiaan perkawinan
tergantung pada apa yang terjadi saat pasangan memasuki kehidupan perkawinan yaitu
seberapa baik mereka mengalami kesesuaian atau kecocokan. Hal yang paling penting
dalam meraih kebahagiaan perkawinan menurut Atwater & Duffy (1999) yaitu fleksibilitas
dan keinginan untuk berubah dari setiap pasangan atau yang biasa disebut dengan
istilah penyesuaian perkawinan {marital adjustment).
Kesiapan seseorang untuk memasuki kehidupan perkawinan merupakan aspek
yang menentukan keberhasilan seseorang daiam melakukan penyesuaian perkawinan
(Hurlock, 1980; Spanier dalam Miranda, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut,
Blood (1969) menyatakan bahwa kematangan sosial merupakan salah satu bagian dari
kesiapan seseorang dalam memasuki kehidupan perkawinan. Salah satu faktor dari
kematangan sosial seseorang yaitu enough dating. Dating merupakan kesempatan bagi
pasangan untuk saling mengenal dan untuk mengembangkan keterampiian-keterampilan
interpersonal yang sangat berguna bagi kehidupan perkawinan. Ditinjau dari
gambarannya, di Indonesia dating dapat disamakan dengan pacaran karena dating dan
pacaran mempunyai kesamaan dalam beberapa hal. Biasanya pacaran merupakan
proses awai menuju perkawinan atau dengan kata lain pacaran merupakan sarana dalam
memilih pasangan yang cocok untuk dijadikan pasangan hidup (Benokraitis, 1996).
Perkawinan dalam pandangan agama Islam merupakan suatu peristiwa yang
fitrah karena perkawinan merupakan salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar
(fitrah) manusia. Dalam proses menuju perkawinan, pacaran merupakan cara yang biasa
dilakukan masyarakat di Indonesia pada umumnya termasuk masyarakat yang beragama Islam dalam mengenal dan memilih calon pasangan. Namun, ada juga masyarakat
muslim di Indonesia yang tidak melalul pacaran dalam memilih dan mengenal calon
pasangannya karena mereka menganggap bahwa pacaran adalah perbuatan yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai Islam. Akan tetapi, agama Islam memperbolehkan calon
pasangan untuk saling mengenal satu sama lain dengan tujuan yang jelas yaitu untuk
melangsungkan perkawinan.
Berdasarkan fenomena yang terjadi pada sebagian masyarakat muslim di
Indonesia yang peneliti anggap unik dalam proses mendapatkan pasangan hidup, maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pasangan yang melakukan
perkawinan tanpa pacaran terlebih dahulu. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif
dengan tipe penelitian studi kasus untuk menjawab permasalahan dalam penelitian.
Peneliti menggunakan teori-teori tentang perkawinan dan menggunakan teori
penyesuaian perkawinan pada pasangan yang dikemukakan oleh Spanier (1976) yang
terdiri dari beberapa dimensi. Dimensi-dimensi tersebut yaitu dyadic consensus
(kesepakatan dalam hubungan), dyadic cohesion (kedekatan dalam hubungan), dyadic
satisfaction (kepuasan dalam hubungan) dan affectlonal expression (ekspresi kasih
sayang dalam hubungan).
Gambaran penyesuaian perkawinan yang di dapat dari hasil penelitian ini yaitu
pada dimensi dyadic consensus: secara umum semua pasangan melakukan
kesepakatan dalam kehidupan perkawinan mereka. Pada dimensi dyadic cohesion:
secara umum semua pasangan merasa dekat dengan pasangannya, terutama kedekatan
secara emosi. Pada dimensi dyadic satisfaction: secara umum semua pasangan merasa
puas dan bahagia dengan perkawinan yang mereka lakukan. Pada dimensi affectlonal
expression: secara umum semua pasangan mengungkapkan rasa sayang terhadap
pasangannya dengan lisan, tulisan dan perbuatan. Masalah-masalah yang dihadapi oleh
masing-masing pasangan. Pasangan 1, masalah yang sama-sama mereka rasakan yaitu
peran yang sedang Indah sandang yaitu sebagai mahasiswa pasca sarjana. Pasangan 2
masalah yang sama-sama mereka rasakan yaitu masalah ekonomi. Pasangan 3 masalah
yang sama-sama mereka rasakan yaitu masalah ekonomi dan penerimaan orang tua
Anisa.
004
020
022
040LibUI ind rda
041ind
049[14-19-750179463]
053[14-19-750179463]
082
090S2824
100Surya Hendrawan, author
110
111
240
245|a Penyesuaian perkawinan pada pasangan yang menikah tanpa pacaran |c
246
250
260
260|a |b |c 2004
270
300xi, 148 pages ; 28 cm + appendix
310
321
336text (rdacontent)
337unmediated (rdamedia); computer (rdamedia)
338volume (rdacarrier); online resource (rdacarrier)
340
362
490
500
502Skripsi
504pages 146-148
515
520ABSTRAK
Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Hubungan yang terjalln dengan orang lain tersebut dapat berbentuk hubungan pertemanan, persahabatan, pacaran dan hubungan perkawinan sebagai suami dan istri. Berbeda dengan hubungan lainnya, hubungan perkawinan diawali dengan perjanjian antara suami dan istri yang disaksikan oleh orang tua, penghulu, saudara dan kerabat serta diketahui oleh masyarakat. Dalam hubungan perkawinan biasanya pasangan suami-istri berharap agar dapat menjalani kehidupan perkawinan dengan bahagia dan dapat membentuk keluarga yang damal, penuh ketulusan cinta dan kasih sayang {sakinah, mawaddah wa rahmah). Kebahagiaan perkawinan merupakan dambaan setiap pasangan yang melangsungkan perkawinan (Roberts, 1968). Akan tetapl, untuk mendapatkan kebahagiaan perkawinan tidaklah mudah. Harus ada usaha dari pasangan suami-istri dalam menyelesaikan segala permasalahan yang muncul selama masa kehidupan perkawinan mereka. Selain adanya masalah-masalah baru yang harus mereka hadapi selama kehidupan perkawinan, pasangan suami-istri juga harus menghadapi masalah yang disebabkan adanya kebiasaan-kebiasaan dasar dan kepribadian yang dibawa oleh masing-masing individu. yang telah berkembang selama bertahun-tahun dalam dirinya (Hurlock, 1980). Atwater & Duffy (1999) menyatakan bahwa kebahagiaan perkawinan tergantung pada apa yang terjadi saat pasangan memasuki kehidupan perkawinan yaitu seberapa baik mereka mengalami kesesuaian atau kecocokan. Hal yang paling penting dalam meraih kebahagiaan perkawinan menurut Atwater & Duffy (1999) yaitu fleksibilitas dan keinginan untuk berubah dari setiap pasangan atau yang biasa disebut dengan istilah penyesuaian perkawinan {marital adjustment). Kesiapan seseorang untuk memasuki kehidupan perkawinan merupakan aspek yang menentukan keberhasilan seseorang daiam melakukan penyesuaian perkawinan (Hurlock, 1980; Spanier dalam Miranda, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, Blood (1969) menyatakan bahwa kematangan sosial merupakan salah satu bagian dari kesiapan seseorang dalam memasuki kehidupan perkawinan. Salah satu faktor dari kematangan sosial seseorang yaitu enough dating. Dating merupakan kesempatan bagi pasangan untuk saling mengenal dan untuk mengembangkan keterampiian-keterampilan interpersonal yang sangat berguna bagi kehidupan perkawinan. Ditinjau dari gambarannya, di Indonesia dating dapat disamakan dengan pacaran karena dating dan pacaran mempunyai kesamaan dalam beberapa hal. Biasanya pacaran merupakan proses awai menuju perkawinan atau dengan kata lain pacaran merupakan sarana dalam memilih pasangan yang cocok untuk dijadikan pasangan hidup (Benokraitis, 1996). Perkawinan dalam pandangan agama Islam merupakan suatu peristiwa yang fitrah karena perkawinan merupakan salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar (fitrah) manusia. Dalam proses menuju perkawinan, pacaran merupakan cara yang biasa dilakukan masyarakat di Indonesia pada umumnya termasuk masyarakat yang beragama Islam dalam mengenal dan memilih calon pasangan. Namun, ada juga masyarakat muslim di Indonesia yang tidak melalul pacaran dalam memilih dan mengenal calon pasangannya karena mereka menganggap bahwa pacaran adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Akan tetapi, agama Islam memperbolehkan calon pasangan untuk saling mengenal satu sama lain dengan tujuan yang jelas yaitu untuk melangsungkan perkawinan. Berdasarkan fenomena yang terjadi pada sebagian masyarakat muslim di Indonesia yang peneliti anggap unik dalam proses mendapatkan pasangan hidup, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pasangan yang melakukan perkawinan tanpa pacaran terlebih dahulu. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus untuk menjawab permasalahan dalam penelitian. Peneliti menggunakan teori-teori tentang perkawinan dan menggunakan teori penyesuaian perkawinan pada pasangan yang dikemukakan oleh Spanier (1976) yang terdiri dari beberapa dimensi. Dimensi-dimensi tersebut yaitu dyadic consensus (kesepakatan dalam hubungan), dyadic cohesion (kedekatan dalam hubungan), dyadic satisfaction (kepuasan dalam hubungan) dan affectlonal expression (ekspresi kasih sayang dalam hubungan). Gambaran penyesuaian perkawinan yang di dapat dari hasil penelitian ini yaitu pada dimensi dyadic consensus: secara umum semua pasangan melakukan kesepakatan dalam kehidupan perkawinan mereka. Pada dimensi dyadic cohesion: secara umum semua pasangan merasa dekat dengan pasangannya, terutama kedekatan secara emosi. Pada dimensi dyadic satisfaction: secara umum semua pasangan merasa puas dan bahagia dengan perkawinan yang mereka lakukan. Pada dimensi affectlonal expression: secara umum semua pasangan mengungkapkan rasa sayang terhadap pasangannya dengan lisan, tulisan dan perbuatan. Masalah-masalah yang dihadapi oleh masing-masing pasangan. Pasangan 1, masalah yang sama-sama mereka rasakan yaitu peran yang sedang Indah sandang yaitu sebagai mahasiswa pasca sarjana. Pasangan 2 masalah yang sama-sama mereka rasakan yaitu masalah ekonomi. Pasangan 3 masalah yang sama-sama mereka rasakan yaitu masalah ekonomi dan penerimaan orang tua Anisa.
533
534
536
546Bahasa Indonesia
590[Deposit]
650
653
700Fivi Nurwianti, supervisor
710Universitas Indonesia. Fakultas Psikologi
711
850Universitas Indonesia
852Perpustakaan UI, Lantai 3
856
866
900
902
903[]