UI - Tugas Akhir :: Kembali

UI - Tugas Akhir

Hubungan sepsis dengan waktu tercapainya fungsi peristaltik usus pascabedah pada obstruksi duodenum kongenital = The relationship between sepsis and timing achievement of peristaltic function in congenital duodenal obstruction

Nomor Panggil SP-PDF
Pengarang
Pengarang/kontributor lain
Subjek
Penerbitan 2018
Program Studi
Kata Kunci Obstruksi duodenum kongenital  · congenital duodenal obstruction  · waktu tercapainya fungsi peristaltik  · timing achievement of peristaltic function  · motilitas usus  · bowel motility  · sepsis ·
 Info Lainnya
Sumber Pengatalogan LibUI ind rda
Tipe Konten text (rdacontent)
Tipe Media computer (rdamedia)
Tipe Carrier online resource (rdacarrier)
Deskripsi Fisik xi, 36 pages : illustration + appendix
Naskah Ringkas http://lib.ui.ac.id/unggah/system/files/node/2018/1/juwita.cresti/juwita_cresti_rahmaania-spesialis-unknown-naskah_ringkas-2017.docx
Lembaga Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 3
  • Ketersediaan
  • File Digital: 1 (Membership)
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
  • Tampilan MARC
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
SP-PDF 16-19-152379607 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20480901
ABSTRAK Pendahuluan:Obstruksi duodenum kongenital merupakan salah satu kelainan bawaan pada saluran cerna yang tersering. Fungsi peristaltik merupakan hal yang ingin dicapai pada pascabedah. Resiko terjadinya translokasi bakteri pada kasus obstruksi membuat pasien jatuh dalam kondisi sepsis hal ini akan memengaruhi waktu tercapainya fungsi peristaltik dan pada akhirnya akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Selain itu, infeksi nosokomial yang mengancam neonatus menyebabkan sepsis pada neonatus juga akan memengaruhi waktu tercapainya fungsi peristaltik. Penelitian ini ditujukan untuk mencari hubungan sepsis dengan waktu tercapainya fungsi peristaltik. Metode: Desain penelitian ini adalah potong lintang menggunakan data sekunder yaitu pasien obstruksi duodenum tanpa disertai kelainan bawaan berupa gastroschizis, omphalocele dan atresia intestinal lain yang telah dilakukan operasi di RSCM periode bulan Januari 2010-Juli 2016. Subjek dikelompokkan menjadi sepsis dan non sepsis kemudian dilakukan analisis untuk melihat hubungan dengan waktu tercapainya fungsi peristaltik serta menganalisis variabel perancu yaitu, usia gestasi, berat badan lahir, kelainan bawaan, kondisi hipoksia dan ketidakseimbangan elektrolit. Analisis data dilakukan univariat, bivariat Mann Whitney, Chi Square atau Fischer dan multivariat (regresi linier) dengan nilai p <0,05 dianggap bermakna. Hasil: Dari 31 subjek didapatkan bahwa median waktu tercapainya fungsi peristaltik pada subjek sepsis dan non sepsis yaitu 12,5 dan 5 hari (p <0,0001). Hubungan antara waktu tercapainya fungsi peristaltik dengan sepsis (p <0,0001), usia gestasi (p = 0,004) dan kondisi hipoksia (p = 0,02). Pada analisis multivariat didapatkan hasil antara sepsis dengan waktu tercapainya fungsi peristaltik dengan nilai p = 0,011 dan nilai R Simpulan: Pada penelitian ini sepsis merupakan faktor utama yang memengaruhi waktu tercapainya fungsi peristaltik. Mengingat cukup jauhnya perbedaan waktu yang dicapai antara kelompok sepsis dan non sepsis maka perlu dilakukan pengontrolan maupun pencegahan kondisi sepsis baik dalam prabedah maupun pascabedah sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas. ABSTRACT Introduction: A common site for congenital duodenal obstruction is the duodenum. Peristaltic function is to be achieved in the postoperative, respectively. Intestinal obstruction has been shown to induce bacterial translocation and that event would be associated with an increased risk of sepsis conditions. That condition would affecting the achievement of peristaltic function and ultimately increased morbidity  and mortality. In addition, nosocomial infections that threaten neonates cause sepsis also will affect the achievement of a peristaltic function. Therefore, the aim of this study was to investigate the relationship between sepsis with timing achievement of peristaltic function postoperatively. Methods: This study is cross sectional study design. The research data was obtained from medical records of patients with duodenal obstruction without congenital abnormalities such as gastroschizis, omphalocele and other intestinal atresia that have underwent operations in RSCM period January 2010 to July 2016. Subject are grouped into sepsis and without sepsis. The relationships between sepsis and timing achievement of peristaltic function also confounding variabels (gestational age, birth weight, congenital abnormalities, conditions of hypoxia and electrolyte imbalance) were analyzed. Data analysis was performed using univariate, bivariate (Mann Whitney, Chi Square or Fischer) and multivariate (linear regression) with significance p Results: The study included 31 subjects. Time were needed to achieved peristaltic function (median value) are 12,5 days in patients with sepsis and 5 days in patients without sepsis. Bivariate analysis between timing achievement of peristaltic function are sepsis with p <0,0001, gestational age with p = 0,004 and hypoxic conditions with p = 0,02. Multivariate analysis have shown relationship between sepsis and timing achievement of peristaltic function with p = 0,011 and R Conclusion: In this study, sepsis is a major factor affecting the achievement of a peristaltic function . Considered the differences time to achieved peristaltic function between sepsis and without sepsis is significant. Therefore,it is necessary to control and prevent sepsis preoperatively and postoperatively thus reducing morbidity and mortality.
004
020
022
040LibUI ind rda
041Ind
049[16-19-152379607]
053[16-19-152379607]
082
090SP-PDF
100Juwita Cresti Rahmaania, author
110
111
240
245|a Hubungan sepsis dengan waktu tercapainya fungsi peristaltik usus pascabedah pada obstruksi duodenum kongenital = The relationship between sepsis and timing achievement of peristaltic function in congenital duodenal obstruction |c
246
250
260
260|a |b |c 2018
270
300xi, 36 pages : illustration + appendix
310
321
336text (rdacontent)
337computer (rdamedia)
338online resource (rdacarrier)
340
362
490
500Tidak dapat diakses di UIANA, karena: akan ditulis dalam bahasa Inggris untuk dipersiapkan terbit pada Jurnal Internasional yaitu yang diprediksi akan dipublikasikan pada bulan tahun
502Spesialis
504pages 34-36
515
520ABSTRAK
Pendahuluan:Obstruksi duodenum kongenital merupakan salah satu kelainan bawaan pada saluran cerna yang tersering. Fungsi peristaltik merupakan hal yang ingin dicapai pada pascabedah. Resiko terjadinya translokasi bakteri pada kasus obstruksi membuat pasien jatuh dalam kondisi sepsis hal ini akan memengaruhi waktu tercapainya fungsi peristaltik dan pada akhirnya akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Selain itu, infeksi nosokomial yang mengancam neonatus menyebabkan sepsis pada neonatus juga akan memengaruhi waktu tercapainya fungsi peristaltik. Penelitian ini ditujukan untuk mencari hubungan sepsis dengan waktu tercapainya fungsi peristaltik. Metode: Desain penelitian ini adalah potong lintang menggunakan data sekunder yaitu pasien obstruksi duodenum tanpa disertai kelainan bawaan berupa gastroschizis, omphalocele dan atresia intestinal lain yang telah dilakukan operasi di RSCM periode bulan Januari 2010-Juli 2016. Subjek dikelompokkan menjadi sepsis dan non sepsis kemudian dilakukan analisis untuk melihat hubungan dengan waktu tercapainya fungsi peristaltik serta menganalisis variabel perancu yaitu, usia gestasi, berat badan lahir, kelainan bawaan, kondisi hipoksia dan ketidakseimbangan elektrolit. Analisis data dilakukan univariat, bivariat Mann Whitney, Chi Square atau Fischer dan multivariat (regresi linier) dengan nilai p <0,05 dianggap bermakna. Hasil: Dari 31 subjek didapatkan bahwa median waktu tercapainya fungsi peristaltik pada subjek sepsis dan non sepsis yaitu 12,5 dan 5 hari (p <0,0001). Hubungan antara waktu tercapainya fungsi peristaltik dengan sepsis (p <0,0001), usia gestasi (p = 0,004) dan kondisi hipoksia (p = 0,02). Pada analisis multivariat didapatkan hasil antara sepsis dengan waktu tercapainya fungsi peristaltik dengan nilai p = 0,011 dan nilai R Simpulan: Pada penelitian ini sepsis merupakan faktor utama yang memengaruhi waktu tercapainya fungsi peristaltik. Mengingat cukup jauhnya perbedaan waktu yang dicapai antara kelompok sepsis dan non sepsis maka perlu dilakukan pengontrolan maupun pencegahan kondisi sepsis baik dalam prabedah maupun pascabedah sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas. ABSTRACT
Introduction: A common site for congenital duodenal obstruction is the duodenum. Peristaltic function is to be achieved in the postoperative, respectively. Intestinal obstruction has been shown to induce bacterial translocation and that event would be associated with an increased risk of sepsis conditions. That condition would affecting the achievement of peristaltic function and ultimately increased morbidity  and mortality. In addition, nosocomial infections that threaten neonates cause sepsis also will affect the achievement of a peristaltic function. Therefore, the aim of this study was to investigate the relationship between sepsis with timing achievement of peristaltic function postoperatively. Methods: This study is cross sectional study design. The research data was obtained from medical records of patients with duodenal obstruction without congenital abnormalities such as gastroschizis, omphalocele and other intestinal atresia that have underwent operations in RSCM period January 2010 to July 2016. Subject are grouped into sepsis and without sepsis. The relationships between sepsis and timing achievement of peristaltic function also confounding variabels (gestational age, birth weight, congenital abnormalities, conditions of hypoxia and electrolyte imbalance) were analyzed. Data analysis was performed using univariate, bivariate (Mann Whitney, Chi Square or Fischer) and multivariate (linear regression) with significance p Results: The study included 31 subjects. Time were needed to achieved peristaltic function (median value) are 12,5 days in patients with sepsis and 5 days in patients without sepsis. Bivariate analysis between timing achievement of peristaltic function are sepsis with p <0,0001, gestational age with p = 0,004 and hypoxic conditions with p = 0,02. Multivariate analysis have shown relationship between sepsis and timing achievement of peristaltic function with p = 0,011 and R Conclusion: In this study, sepsis is a major factor affecting the achievement of a peristaltic function . Considered the differences time to achieved peristaltic function between sepsis and without sepsis is significant. Therefore,it is necessary to control and prevent sepsis preoperatively and postoperatively thus reducing morbidity and mortality.
533
534
536
546Bahasa Indonesia
590[Unggah UI-ANA-11]
650Surgery
653Obstruksi duodenum kongenital ; congenital duodenal obstruction ; waktu tercapainya fungsi peristaltik ; timing achievement of peristaltic function ; motilitas usus ; bowel motility ; sepsis
700Sastiono, supervisor; Wifanto Saditya Jeo, examiner; Akhmadu, examiner; Aria Kekalih, examiner
710Universitas Indonesia. Fakultas Kedokteran
711
850Universitas Indonesia
852Perpustakaan UI, Lantai 3
856http://lib.ui.ac.id/unggah/system/files/node/2018/1/juwita.cresti/juwita_cresti_rahmaania-spesialis-unknown-full_text-2017.pdf
866
900
902
903[]