UI - Tesis (Membership) :: Kembali

UI - Tesis (Membership)

Peranan pemeriksaan intern dalam meningkatkan pengendalian manajemen studi kasus pada PT. Taspen (Persero)

Nomor Panggil T-pdf
Pengarang
Pengarang/kontributor lain
Subjek
Penerbitan 1989
Program Studi
Kata Kunci struktur organisasi · PT. Taspen · sistem pengendalian manajemen ·
 Info Lainnya
Pengarang
Sumber Pengatalogan LibUI ind rda
Tipe Konten text (rdaconten)
Tipe Media computer (rdamedia)
Tipe Carrier online resource (rdacarrier)
Deskripsi Fisik vii, 102 pages ; 30 cm + appendix
Naskah Ringkas
Lembaga Pemilik Universitas Indonesia
Lokasi Perpustakaan UI, Lantai 3
  • Ketersediaan
  • File Digital: 0 (Membership)
  • Ulasan
  • Sampul
  • Abstrak
  • Tampilan MARC
Nomor Panggil No. Barkod Ketersediaan
T-pdf 15-18-350090534 TERSEDIA
Ulasan:
Tidak ada ulasan pada koleksi ini: 20471714
RINGKASAN EKSEKUTIF
Agar BUMN lebih berperanan dalam perekonomian Indonesia dan dapat menjaga momentum Pembangunan, maka BUMN harus bekerja secara effisien yang selama ini dianggap masih belum effisien. Agar BUMN dapat bekerja effisien maka diperlukan adanya sistem pengem=ndalian yang lebih memastikan bahwa organisasi telah melaksanakan strategi-strategi secara efektif dan efisien, mengingat keterbatasan manajemen (span of control) maka dalam peleksanaan pengendalian ini diharapkan pemeriksaan intern atau satuan pengawasan intern dapat lebih berperanan secara aktif dalam rangka untuk lebih meningkatkan pengendalian manajemen.

Hal yang menunjang efektivitas Satuan Pengawasan Intern dalam rangka meningkatkan pengendalian manajemen anatara lain:
1. Keberdadaan SPI secara struktural dibawah Direktur Utama
2. Adanya prosedur pengawasan yang berupa buku pedoman pemeriksaan pembuatan LHP operasional dan keuangan.
3. Adanya perencanaan yang berupa Program Kerja Pemeriksaan tahunan (PKPT)

Hal yang menghambat efektivitas Satuan Pengawasan intern dalam rangka meningkatkan pengendalian manajemen antara lain:
1. Jabatan pada Biro SPI masih banyak yang belum terisi
2. uraian tugas para pelaksana pemeriksaan masih belum jelas
3. Keberadaan Inspektorat Daerah sebagai kepanjangan tangan dari SPI untuk melaksanakan pemeriksaan di Kantor cabang Utama maupun kantor cabang tidak efektif
4. kebijakasanaan pengawasan sering berubah-ubah.
5. Pencatatan dan administrasi bukti yang relevan, Kertas Kerja pemeriksaan dan laporan belum menunjang mutu hasil pengawasan
6. Keterlambatan laporan hasil pemeriksaan dan informasi pada Direktur Utama sebagai akibat adanya inspektorat Daerah.
7. Kuantitas dan kualitas personil yang masih kurang. yang lebih banyak disebabkan karena:
- Tidak dipatuhinya ketentuan BPKP tentang persyaratan tenaga pemeriksa dilingkungan SPI BUMN/BUMD
- Rotasi dan mutasi tenaga pemeriksa yang sering terjadi.
8. Perilaku tenaga pemeriksa dan manajemen objek yang diperiksa kurang mendukung. Perilaku yang kurang mendukung disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
- Motivasi tenaga pemeriksa yang rendah. Rendahnya motivasi ini karena kurangnya penghargaan
- SPI tempat buangan sementara
- SPI selalu mencari-cari kesalahan
- Budaya yang berorientasi keatasan, menyebabkan orang lebih takut diperiksa atasan dan lebih memperhatikan saran dari atasan. Dan yang lebih parah lagi akan mengikuti apa yang diperbuat atasan. Padahal ada kecenderungan yang sering menyimpang dari ketentuan adalah atasan/pejabat tinggi. Celakanya tenaga pemeriksa takut memeriksa atasan dengan obyektif.

Dengan memperhatikan hal diatas dapat disimpulkan bahwa Satuan Pengawas intern atau pemeriksa intern kurang efektif peranannya dalam meningkatkan pengendalian manajemen.

004
020
022
040LibUI ind rda
041ind
049[15-18-350090534]
053[15-18-350090534]
082
090T-pdf
100Adji Suratman, author
110
111
240
245|a Peranan pemeriksaan intern dalam meningkatkan pengendalian manajemen studi kasus pada PT. Taspen (Persero) |c
246
250
260
260|a |b |c 1989
270
300vii, 102 pages ; 30 cm + appendix
310
321
336text (rdaconten)
337computer (rdamedia)
338online resource (rdacarrier)
340
362
490
500
502Tesis
504page 102
515
520RINGKASAN EKSEKUTIF
Agar BUMN lebih berperanan dalam perekonomian Indonesia dan dapat menjaga momentum Pembangunan, maka BUMN harus bekerja secara effisien yang selama ini dianggap masih belum effisien. Agar BUMN dapat bekerja effisien maka diperlukan adanya sistem pengem=ndalian yang lebih memastikan bahwa organisasi telah melaksanakan strategi-strategi secara efektif dan efisien, mengingat keterbatasan manajemen (span of control) maka dalam peleksanaan pengendalian ini diharapkan pemeriksaan intern atau satuan pengawasan intern dapat lebih berperanan secara aktif dalam rangka untuk lebih meningkatkan pengendalian manajemen.

Hal yang menunjang efektivitas Satuan Pengawasan Intern dalam rangka meningkatkan pengendalian manajemen anatara lain: 1. Keberdadaan SPI secara struktural dibawah Direktur Utama 2. Adanya prosedur pengawasan yang berupa buku pedoman pemeriksaan pembuatan LHP operasional dan keuangan. 3. Adanya perencanaan yang berupa Program Kerja Pemeriksaan tahunan (PKPT)

Hal yang menghambat efektivitas Satuan Pengawasan intern dalam rangka meningkatkan pengendalian manajemen antara lain: 1. Jabatan pada Biro SPI masih banyak yang belum terisi 2. uraian tugas para pelaksana pemeriksaan masih belum jelas 3. Keberadaan Inspektorat Daerah sebagai kepanjangan tangan dari SPI untuk melaksanakan pemeriksaan di Kantor cabang Utama maupun kantor cabang tidak efektif 4. kebijakasanaan pengawasan sering berubah-ubah. 5. Pencatatan dan administrasi bukti yang relevan, Kertas Kerja pemeriksaan dan laporan belum menunjang mutu hasil pengawasan 6. Keterlambatan laporan hasil pemeriksaan dan informasi pada Direktur Utama sebagai akibat adanya inspektorat Daerah. 7. Kuantitas dan kualitas personil yang masih kurang. yang lebih banyak disebabkan karena: - Tidak dipatuhinya ketentuan BPKP tentang persyaratan tenaga pemeriksa dilingkungan SPI BUMN/BUMD - Rotasi dan mutasi tenaga pemeriksa yang sering terjadi. 8. Perilaku tenaga pemeriksa dan manajemen objek yang diperiksa kurang mendukung. Perilaku yang kurang mendukung disebabkan oleh beberapa hal antara lain: - Motivasi tenaga pemeriksa yang rendah. Rendahnya motivasi ini karena kurangnya penghargaan - SPI tempat buangan sementara - SPI selalu mencari-cari kesalahan - Budaya yang berorientasi keatasan, menyebabkan orang lebih takut diperiksa atasan dan lebih memperhatikan saran dari atasan. Dan yang lebih parah lagi akan mengikuti apa yang diperbuat atasan. Padahal ada kecenderungan yang sering menyimpang dari ketentuan adalah atasan/pejabat tinggi. Celakanya tenaga pemeriksa takut memeriksa atasan dengan obyektif.

Dengan memperhatikan hal diatas dapat disimpulkan bahwa Satuan Pengawas intern atau pemeriksa intern kurang efektif peranannya dalam meningkatkan pengendalian manajemen.

533
534
536
546Bahasa Indonesia
590[Deposit]
650Management
653struktur organisasi; PT. Taspen; sistem pengendalian manajemen
700Wahjudi Prakarsa, supervisor
710Universitas Indonesia. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
711
850Universitas Indonesia
852Perpustakaan UI, Lantai 3
856
866
900
902
903[]